Terpaksa Menikahi Perjaka Tua

Terpaksa Menikahi Perjaka Tua
Dingin


__ADS_3

David yang melihat tingkah aneh istrinya semakin di buat penasaran.


“Kau kenapa sebenarnya?”


“Tidak apa-apa mas,” jawab Kenisha.


“Wajah mu tegang sekali, memangnya tadi kau lihat apa?” tanya David.


“Burung hantu, makanya aku takut,” ucap Kenisha.


“Alasan,” ujar David.


Lilis dan Wahyu yang mendengar pengakuan putrinya tentu merasa tak percaya.


Apa mungkin dia melihat orang iseng itu? batin Lilis.


Aku jadi penasaran, siapa orang yang mencoba meneror keluarga ku, batin Wahyu.


“Disini memang banyak burung hantu nak David, makanya ibu tidak heran dengan ucapan Kenisha.” Lilis mendukung pernyataan putrinya agar menantunya tidak mengoceh lagi.


“Benar, apa lagi binatang berbisa lainnya, maklum nak David, kitakan tinggal di daerah terpencil sudah begitu rumah yang didirikan juga di kaki gunung nak.” Wahyu tertawa kecil untuk mencairkan suasana.


“Baiklah, ku rasa kita tidak perlu membahasnya lagi karena sekarang aku sangat lapar, bagaimana kalau kita makan dulu? Mana Rohima dan Andri?” tanya David karena ia tidak melihat kehadiran kedua adik iparnya.


“Mereka berdua sudah tidur nak,” jawab Lilis.


“Oh, kalau begitu kita saja yang makan,” ucap David.


“Iya, Ayo! Kita ke meja makan,” ujar Wahyu.


Kemudian mereka semua beranjak dari ruang tamu.


Sesampainya di meja makan, Kenisha menyuruh ketiganya untuk duduk.


lalu ia pun menata makanan yang akan mereka santap sebentar lagi.


sembari menunggu putrinya selesai melayani mereka, Wahyu pun mau mulai percakapan dengan menantunya.


“Bagaimana nak? Apa Kenisha membuat kesalahan selama menjadi istri mu?”


Mendengar pertanyaan ayahnya Kenisha langsung merasa tak nyaman.


Lalu David melihat ke arah istrinya yang sedang menuang air minum ke gelas panjang berwarna bening.


“Tidak, dia sangat baik, kalian telah berhasil mendidiknya, aku sangat puas menjadi suaminya.”


Kenisha tercengang mendengar pengakuan suaminya, pasalnya ia merasa kalau dirinya adalah seorang pembangkang dan suka melawan.


Sedang David mengatakan demikian bukan karena istrinya adalah orang yang menurut.


Melainkan ia mendapatkan Kenisha dalam keadaan suci.

__ADS_1


Menurutnya itu adalah kado yang sangat spesial karena di lingkungan yang ia tinggali selama ini, ia tak pernah melihat perempuan yang bisa jual mahal jika sang pria telah mengeluarkan dompetnya.


“Alhamdulillah, semoga pernikahan kalian berdua langgeng sampai kakek nenek, Ayah juga selalu meminta kepada yang maha kuasa agar kalian berdua segera di karuniai anak yang sholeh dan Sholehah,” ucap Wahyu.


”Aamiin, tapi kalau aku tidak mau buru-buru yah, aku masih bersedia menunggu, karena aku sendiri tahu kalau bebas itu sangat nikmat, setelah memiliki anak, pasti Kenisha akan sulit kemana-mana.” David mengerti kalau istrinya masih muda dan belum bisa mengurus anak dengan benar.


“Kodrat wanita khususnya di negara ini memang untuk mengandung anak dan mengurus keluarga, sedangkan suami mencari nafkah, jadi jangan khawatir, ibu yakin Kenisha mampu menjalani perannya sebagai ibu rumah tangga.” Lilis mencoba menyakinkan menantunya kalau putrinya siap untuk memiliki anak.


Lilis melakukan itu karena ia takut kalau menantunya akan coba lirik wanita lain kalau tidak ada ikatan antara Kenisha dan David.


Kenisha yang telah selesai menuang air pun duduk di sebelah suaminya.


“Ayo kita makan sekarang, aku sangat lapar.” Kenisha makan terlebih dahulu karena ia tak ingin ikut-ikutan dalam perbincangan orang tua dan suaminya.


Kemudian, Lilis, Wahyu dan David pun makan secara bersamaan


***


Ruby yang baru sampai ke rumah melihat Max yang duduk di teras dengan keadaan mabuk.


Ruby pun segera turun dari dalam mobilnya, lalu ia menghampiri Max yang kepalanya menunduk.


“Hei, kenapa kau datang ke rumah ku? Pulang sana! Ini sudah jam 01.00 pagi!” Ruby mengusir Max karena ia merasa tak nyaman jika harus berbicara saat itu juga.


“Aku minta air putih,” ucap Max.


“Apa? Tidak, cepat pulang!” Ruby menolak permintaan Max yang saat itu tenggorokannya sangat kering.


“Astaga!” Ruby yang tak ingin menjadi pusat perhatian para warga yang lalu lalang akhirnya mengikuti kemauan Max.


“Baiklah, tunggu disini aku akan mengambilkan air minum untuk mu.” lalu membuka pintu.


Setelah itu ia masuk ke dalam rumah dan segera menuju dapur.


Saat ia mengambil gelas yang ada di lemari rak piring, ia pun terkejut karena Max memeluknya dari belakang dengan sangat erat.


“Lepas! Dasar gila! Jangan macam-macam ya!” Ruby sangat kesal dengan tindakan nakal Max.


“Kau pasti sama seperti aku.”


“Maksudnya apa?” tanya Ruby seraya melepaskan kedua tangan Max yang melingkar di pinggang rampingnya.


“Kesepian, butuh perhatian dan kasih sayang,” ucap Max.


“Jangan gila ya! Orang tua ku itu kaya, aku tak kekurangan apapun, hanya saja aku ingin hidup mandiri, makanya tinggal sendiri, kau jangan salah paham, aku tidak mau kau menyamakan nasib kita berdua!” pekik Ruby.


“Jangan bohong, sayang.” Max yang semakin meracau membuat Ruby sedikit takut.


“Aku ingin menginap disini, aku akan menemani mu malam ini ya, bolehkan?” permintaan Max Ruby marah.


“Pergi sekarang juga, atau aku akan mencincang mu!” hardik Ruby.

__ADS_1


“Akh! Kau berisik.” Max yang mabuk berat melihat Ruby sebagai Winda.


Ia pun dengan cepat menuntaskan hajat yang memuncak dalam hatinya saat itu.


“Pergi!” Ruby yang di eksekusi panas saat itu merasa ingin gila.


Ia yang berharap mendapatkan David kini malah dinodai adik sambung mantannya.


“Jangan, jangan di dalam!” teriak Ruby yang takut jika dirinya akan mengandung.


“Dasar laki-laki bodoh!” Ruby yang ingin lepas dari permainan Max malah semakin di serang secara bertubi-tubi di dapur minimalis tercintanya.


***


Kenisha dan David yang berbahan bersebelahan tak mau melihat satu sama lain.


“Pada hal tidak pakai AC, tapi dinginnya luar biasa,” ucap Max.


“Namanya juga tinggal di kaki gunung, sudah jelas dinginnya luar biasa,” ujar Kenisha.


“Sudah tahu begitu kenapa di rumah mu hanya ada lima selimut?” David merasa menderita karena harus berbagi selimut ukuran kecil dengan istrinya.


“Sudah, nikmati saja! Anggap saat ini kita berdua sedang mengikuti jambore,” ucap Kenisha.


“Dasar gila, sini!” David menarik seluruh selimut hingga tak menyisakan pada istrinya.


“Kau sudah biasa tidur tanpa selimut kan?” ucap David.


“Tega! Jadi mas akan membiarkan ku membeku?!” Kenisha mencubit pinggang suaminya.


“Ya sudah.” David yang masih punya hati nurani memeluk erat istrinya agar selimut dengan lebar 140 cm dan panjang 200 cm muat untuk mereka berdua.


“Kalau kau keberatan di peluk sebaiknya cari kain sarung untuk selimut mu,” ucap David.


“Enggak ah, begini juga enak, hangat!” Kenisha pun membalas pelukan suaminya.


“Hei!” ucap David.


“Apa, hei,” sahut Kenisha.


“Adik kecil ku bangun.” .


“Terus, apa hubungannya dengan ku?” tanya Kenisha.


”Ayo olah raga agar badan kita jadi hangat,” ujar David.


“Enggak mau mas, aku lelah dan ingin tidur.” Kenisha menolak karena ia tak ingin keramas esok hari.


“Cepat!” David pun duduk dan langsung melepas celana istrinya tanpa izin.


“Hentikan!” pekik Kenisha yang tersentak bukan main.

__ADS_1


__ADS_2