Terpaksa Menikahi Perjaka Tua

Terpaksa Menikahi Perjaka Tua
Rencana Jahat


__ADS_3

“Iya, aku ingin liburan mas,” ucap Kenisha.


“Apa kau serius? Atau ini hanya alasan mu agar bisa pergi dari ku?” tanya David dengan serius.


“Mas tahu jalan ke rumah ku, kenapa harus takut kehilangan aku? Apa aku sepenting itu?” Kenisha tertawa getir lalu ia pun melangkahkan kakinya.


“Jangan memancing amarah ku, aku sedang tidak ingin ribut,” pekik David.


“Mas sendiri yang mulai duluan, laki-laki memang suka begitu,” ucap Kenisha.


“Artinya?” tanya David yang tidak mengerti maksud istrinya.


“Kalau salah sulit untuk minta maaf, yang ada malah mendominasi lebih dulu agar si perempuan diam ” terang Kenisha.


“Mendominasi?” David benar-benar tidak terima dengan tuduhan yang Kenisha lontarkan.


“Iya, seperti sekarang bicara dengan nada membentak!” Kenisha yang terlalu jujur membuat David pusing.


“Kalau memang harus pulang, aku ikut, mana mungkin kau pergi sendiri,” ucap David.


“Tinggal suruh sopir untuk mengantar ku, enggak usah repot-repot mas.” Kenisha pun tersenyum kecut pada suaminya.


“Ya Tuhan, kau masih berani menjawab ya.” David pun menarik koper yang ada di tangan Kenisha.


“Pokoknya kau hanya boleh pergi kalau ada aku.” David pun berjalan mendahului istrinya.


“Dasar egois,” gumam Kenisha.


“Diam! Aku berhak memutuskan segalanya karena aku adalah kepala rumah tangga,” ucap David.


“Baiklah, terserah mas mau bilang apa.”


***


Ruby yang baru sampai ke Villa langsung menghubungi Max.


Ruby [Halo, aku tidak berhasil mengganggu mereka berdua, yang ada aku malah di permalukan, aku tidak tahu lagi cara untuk merebut David darinya]


Max [Kau lemah juga ya, padahal perempuan itu bukan level mu, dia sangat jauh untuk dikatakan layak bersaing dengan mu, aku pikir kau bisa membereskan segalanya, ternyata aku salah]


Ruby [Jangan hanya bicara, memangnya kau sendiri sudah melakukan apa? kerja mu hanya menyuruh-nyuruh aku saja, coba kau dulu yang turun tangan, bisa tidak kau meniduri dia agar mereka cepat bercerai, ku rasa itu cara yang paling ampuh]

__ADS_1


Max [Tentu saja, itu memang akan ku lakukan, tapi tunggu waktu yang tepat]


Ruby [Alasan, bilang saja kau takut pada David, kau itu tidak ada apa-apanya di bandingkan dia, meskipun kau sudah tahu dengan jelas pembunuh ibu mu adalah mereka berdua, tapi kau tidak pernah bisa menyentuh tante dan David, kasihan]


Ruby mencoba memanas-manasi Max, ia berharap adik sambung David tersebut terpancing dan segera melakukan tindakan sesuai yang telah mereka rencanakan.


Max [Tutup mulut mu, kau pikir mudah menyingkirkan mereka?]


Ruby [Kalau sudah tahu tidak mudah, kenapa kau mau melakukan balas dendam? Mestinya diam saja, ikuti permainan mereka nanti kau juga akan dapat warisan, kalau soal ibu mu, dia itu sudah mati, andaikan mata di balas mata dia tidak akan pernah bisa kembali ke dunia ini, memang sejak awal kau itu tidak ada apa-apanya, penakut] Ruby mulai meremehkan Max.


Max [Aku hanya tidak mau bertindak gegabah, aku ingin menghabisi mereka dengan rapi]


Ruby [Alasan, kalau yang kau katakan benar, kau harus membereskan dari yang paling lemah, yaitu Kenisha! Ku lihat David lumayan menyayanginya, pasti hatinya akan hancur kalau tahu istrinya main gila dengan adiknya sendiri, kalau dia ingin melaporkan mu ke polisi, tinggal ungkit pembunuhan yang mereka lakukan, pasti dia akan diam, David itu selalu mengutamakan gengsi dan harga diri, tentu dia malu berat jika orang tahu kalau saudaranya memiliki hubungan gelap dengan istrinya, belum lagi skandal pembunuhan mereka pada ibu mu bukankah yang kau inginkan tante dan David hidup menderita dan tidak bahagia?]


Max yang teropsesi dengan David merasa apa yang di katakan Ruby adalah benar.


Aku akan menghancurkan hatinya, batin Max.


Max [Tunggu dan lihat saja apa yang akan aku lakukan, aku tidak selemah yang kau kira]


Ruby [Baguslah, ku tunggu kabar baik darimu, mereka dari tadi udah pulang, asti nanti akan sampai di rumah]


Max [Baiklah]


Max [Ya]


Setelah sambungan telepon selesai Ruby tersenyum puas.


“Semoga kali ini kau berguna.” Ruby sangat berharap besar pada Max.


Karena ia sendiri tak mampu masuk di antara keduanya.


***


Selama dalam perjalanan David sesekali melirik Kenisha yang ada di sebelahnya.


“Ada apa mas?” sapa Kenisha.


“Tidak ada,” jawab David.


“Aku tahu dari tadi kau curi pandang pada ku, apa sekarang kau mulai menyadari kalau aku benar-benar cantik?” Kenisha yang percaya diri membuat David tertawa.

__ADS_1


“Bahaha... banyak yang seperti mu di sekitar ku.” Max merasa geli pada istrinya.


“Masa? Aku tidak percaya, buktinya mereka yang jauh lebih berbobot dan berpendidikan tinggi tak kau pilih, berarti aku ada nilai lebihnya dong, mas?” Kenisha pun tersenyum tipis seolah meledek suaminya.


“Iya, kau masih gadis, sementara mereka tidak, aku mencari calon istri yang murni dan polos,” ucap David.


Mendengar pengakuan suaminya membuat Kenisha penasaran akan satu hal.


“Bukannya mas sendiri pernah merusak anak orang? Jadi kenapa tidak mau dengan barang yang sudah buka segel?!” pertanyaan Kenisha membuat David memutar mata malas.


“Ku rasa itu tidak perlu di jelaskan,” ucap David.


“Begitulah laki-laki, untuk ibu dari anak-anaknya dia selalu mencari yang terbaik tentunya yang belum pernah di sentuh oleh orang lain.”


“Ngomong-ngomong jangan hanya menyalahkan sepihak, takkan ada api kalau tidak ada yang membakarnya,” ucap David.


Mereka berdua yang tidak sefrekuensi terus saja berdebat dalam mobil.


***


Max yang menunggu di rumah melihat jam yang ada di dinding.


“Sudah jam 15.00, kenapa mereka belum datang juga?” Max sangat penasaran akan keterlambatan keduanya.


“Semacet-macetnya paling lama 5 jam, ada apa ya?” Max yang ingin menghubungi David merasa tidak mungkin karena ia tak punya alasan bagus untuk menelepon saudara sambungnya tersebut.


Di sela-sela penantiannya tiba-tiba Hana datang dengan raut wajah kesal.


“Hei, ternyata kau disini?!” Hana yang marah membentak putra sambungnya.


“Iya ma, itu karena aku rindu dengan mas, David,” ucap Max.


“Persetan dengan segala alasan mu, yang jelas kau itu seharusnya melapor ke rumah dulu, perlihatkan wajah mu pada papa mu, kau yang tidak datang malah aku yang di salahkan, papa mu yang kasih sayangnya berat sebelah itu mengira kalau aku tidak mengizinkan mu untuk menginjakkan kaki di rumah, minimal kau menelepon memberi kabar, itu sudah cukup, apa kau sengaja ingin membuat kami bertengkar?” Hana rasanya ingin menampar wajah putra sambungan.


“Aku mana berani melakukan itu?”


“Kita tidak tahu isi hati seseorang, sama seperti ibu mu, yang diam-diam menghanyutkan, hidup dalam kenyamanan tanpa merasa bersalah pada keluarga resmi suaminya, sifat kalian pasti tidak jauh berbeda, kalau kau mempunyai sifat iri, dengki dan dendam sebaiknya buang jauh-jauh, karena itu akan menghancurkan dirimu sendiri!” Hana memperingati Max dengan sangat keras.


“Iya, mama benar, tapi pasti mama tahu, bagaimanapun marah ku, aku tidak akan melakukan tindakan berdarah.” Max menyindir keras ibunya.


Hana yang merasa dirinya ketahuan menjadi gemetaran.

__ADS_1


“Bagus, ku harap kau jadi anak yang baik, bagaimanapun kau harus berterima kasih karena aku dan putra ku mau menerima kehadiran anak pelakor seperti mu.” Hana mendominasi Max karena ia ingin menyembunyikan ketakutannya.


__ADS_2