Terpaksa Menikahi Perjaka Tua

Terpaksa Menikahi Perjaka Tua
Genting


__ADS_3

Kenisha dan Lilis merasa ingin pingsan saat menyaksikan Leo menghembuskan napas terakhirnya.


“Kita harus bagaimana bu?” Kenisha bingung harus melakukan apa.


“Ya ampun, bagaimana ini? Kalau sampai orang-orang tahu disini ada mayat, bisa gawat! Apa lagi semua orang tahu kalau kau dan dia pacaran, orang pertama yang paling di curigai pasti dirimu, beda cerita kalau dia mati di tempat lain,” terang Lilis.


“Ibu bener juga,terus kita harus bagaimana sekarang? Apa kita pindahkan mayatnya ke tempat saja?” Kenisha menanyakan pendapat ibunya.


“Ibu juga belum tahu nak, kalau kita menyentuh mayat itu sudah pasti sidik jari kita ada di sana, yang paling gawatnya orang-orang yang berhukum rimba di tempat ini bisa saja akan mengajar kita atau membakar rumah kita.” Lilis benar-benar bingung harus melakukan apa.


“Tapi kita kan enggak bersalah sama sekali bu, kita juga bisa menjelaskan kejadian sebenarnya pada mereka,” ucap Kenisha.


“Tidak bisa, kau seperti tidak tahu saja orang-orang sini semuanya berhati iblis, makanya memilih tinggal jauh dari pemukiman warga,” terang Lilis.


Saat mereka masih mencari jalan keluar, Wahyu pun tiba di tempat.


“Astaghfirullahaladzim, siapa yang melakukan ini semua!” mata Wahyu melotot melihat mayat mantan kekasih putrinya ada di depan matanya.


“Dia yang membunuh dirinya sendiri ayah,” ucap Kenisha.


“Jujur pada ayah Kenisha! Mana mungkin dia bunuh diri hanya karena dirimu!” Wahyu seketika naik pitam.


“Sungguh ayah, untuk apa aku membunuhnya dia belum juga tidak terima aku menikah dengan orang lain ayah.” Lalu Kenisha pun bangkit dari duduknya.


“Bener mas, makanya aku menyuruh anak-anak untuk memanggil mu datang ke sini, Leo bener-bener gila dan sangat menyusahkan orang kalau seperti ini.” Lilis membantu menjelaskan kepada suaminya yang telah salah paham pada mereka berdua.


“Ya Tuhan, kesialan macam apa ini, sebentar lagi utusan calon suami mu akan datang menjemput kita, kalau mayat ini di biarkan begitu saja masalahnya bisa kemana-mana, kau mungkin memang tidak akan di penjara tetapi suami mu bisa saja membatalkan pernikahan ini!” Wahyu sangat khawatir jika putrinya tidak jadi menikah dengan David si pria kaya raya.


“Kalau begitu kita harus bagaimana mas?” Lilis bener-bener takut jika mereka terjerat hukum atau jadi sasaran warga, terlebih kalau orang tua Leo tahu anaknya mati di dekat rumahnya.


“Kita kubur dia sekarang.” pendapat Wahyu membuat Lilis dan Kenisha tercengang.


Mereka tak menyangka jika pria kepala rumah tangga itu akan berkata demikian.


“Ayah yakin? Apa tidak sebaiknya kita lapor polisi?” Kenisha merasa tindakan yang mereka lakukan adalah salah.


“Kita bisa saja lapor polisi tapi pernikahan mu akan terancam batal, pikirkan baik-baik, ayah tidak ingin karena dia masa depan kita hancur.” Wahyu yang telah susah payah membujuk putrinya untuk menikah dengan David tentu saja tidak membiarkan begitu saja akan batal, hanya karena lelaki yang tidak ada ikatan dengan putrinya.

__ADS_1


“Lalu kita mau kubur di mana mas?” Lilis bertanya lebih lanjut.


“Di belakang rumah kita, di tanah liat merah.” Wahyu merasa tempat itu adalah yang paling cocok, di karenakan tidak akan ada seorangpun yang lalu-lalang di bukit belakang rumah mereka tersebut.


“Bagaimana cara kita membawanya ayah?” sejujurnya Kenisha takut melihat kondisi Leo yang mengenaskan, ia juga khawatir kalau ada orang yang melihat mereka menggotong jasad Leo.


“Kita lewat belakang, terpaksa memotong jalan, kalian bersihkan darah di wajah kalian apa tidak ada yang melihatnya,” ujar Wahyu.


“Baik mas, Kenisha angkat bagian kaki!” titah Lilis.


“Ba-baik bu.” dengan tangan dan tubuh bergetar Kenisha memegang kaki sebelah kanan Leo.


Sedang Lilis di sebelah kiri dan Wahyu di bagian kepala.


Mereka bertiga pun bekerja sama mengangkat tubuh Leo yang besar melewati rawa, parit dan tanjakan yang memiliki kemiringan 60 derajat.


Saat mereka melewati tanjakan jasad Leo berulang kali terjatuh dan tergelinding ke bawah.


Kenisha bergidik ngeri dan berulang kali meneteskan air mata, namun apa boleh buat mereka harus melanjutkan apa yang mereka telah kerjakan.


“Ayo! Pegang dengan erat biar enggak jatuh lagi, Kenisha, Lilis!” seru Wahyu dengan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menaiki tanjakan miring itu.


“Kenisha, Lilis, cepat ambil cangkul, parang dan skop, kita harus cepat menggali untuk menguburnya ” titah Wahyu dengan bermandikan keringat di tubuhnya.


Lilis dan Kenisha pun menganggukkan kepala, setelah itu ibu dan anak itu pun berlari menuju rumah yang jaraknya tidak terlalu jauh.


Sesampainya mereka di rumah tiba-tiba mobil jemputan utusan dari sang calon suami berhenti di halaman rumah Kenisha.


“Astaga! Cepat banget mereka datangnya.” gumam Kenisha.


Jantungnya semakin berdetak dengan sangat kencang, karena satu masalah belum selesai masalah baru telah datang menghampiri.


Lilis dan Kenisha pun bingung harus berbuat apa, karena mayat yang ada di perbukitan belum dapat di tuntaskan.


“Tunggu di sini bu,” ucap Kenisha.


Untuk menghindari kecurigaan, Kenisha berjalan menemui sopir yang baru turun dari di dalam mobil.

__ADS_1


“Apa bapak supirnya tuan David?” tanya Kenisha.


“Benar non, kami di suruh untuk menjemput sekarang juga,” jawab si sopir.


Lalu Kenisha menoleh ke arah ibunya yang masih berdiri di sebelah rumah mereka.


“Ini masih pagi dan kami belum mandi.” Kenisha berencana untuk mengulur waktu agar ia dan kedua orang tuanya memiliki jeda untuk mengurus jasad Leo.


“Tuan bilang harus berangkat sekarang juga, nona dan seluruh keluarga bisa mandi setelah sampai di rumah tuan,” ujar si sopir.


Mendengar permintaan sang sopir membuat Kenisha lemas.


“Baiklah, aku akan bilang pada orang tua ku dulu,” ucap Kenisha.


“Silahkan nona,” ujar sang sopir.


Kemudian Kenisha berjalan menemui ibunya yang masih berdiri dengan wajah tegang di belakang rumah.


“Apa yang harus kita lakukan bu? Tidak mungkin kita selesai menggali dalam hitungan detik, kalau di biarkan begitu saja baunya akan mencuat dan kita bisa ketahuan.” Kenisha pusing karena kesalahan yang tidak ia lakukan.


“Ibu akan ke belakang dan menanyakan pendapat ayah mu kau tunggulah di sini, awasi mereka, jangan sampai pergi kemana-mana,” ujar Lilis.


“Oke bu.” Kenisha menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


Kemudian Lilis berlari ke bukit belakang rumah mereka.


“Mas, mas.... gawat!!!” Lilis menggenggam erat tangan kanan suaminya.


“Ada apa?” tanya Wahyu yang tidak tahu apapun.


“Gawat, sopir tuan David sudah ada di depan rumah, kita di minta untuk segera berangkat dengan mereka sekarang juga ma,” ucap Lilis.


“Astaga! Buru-buru sekali mereka.” Wahyu pun berpikir sejenak tindakan apa yang paling menguntungkan mereka.


“Apa kita buang saja mas? Biar kita enggak repot?” ucap Lilis.


Di saat Wahyu masih berpikir keras, tanpa sengaja ia melihat ada tumpukan ilalang di arah sebelah timur desa.

__ADS_1


“Untuk sementara kita buat dia di sana saja.” Wahyu menunjukkan tumpukan ilalang itu kepada istrinya.


__ADS_2