Terpaksa Menikahi Perjaka Tua

Terpaksa Menikahi Perjaka Tua
Sakit Hati


__ADS_3

Setelah menunggu beberapa menit Dewi datang dengan membawa dua gelas minuman segar beserta cemilan kue coklat yang ada Cherry di atasnya.


“Silahkan di nikmati.” ucap Dewi seraya duduk di hadapan Hana dan David.


Kemudian David mencicipi minuman buatan istri kedua ayahnya.


“Kurang manis, ku rasa kau menaruh sirupnya sedikit,” ucap David.


“Benar, karena itu adalah sirup limited edition, mana mungkin aku membagi banyak pada kalian.” Dewi tak memungkiri apa yang dikatakan oleh anak tirinya.


“Pelit,” gumam David.


“Oh ya, apa tujuan kalian datang kesini?” tanya Dewi tanpa rasa takut sedikitpun pada Hana yang posisinya adalah istri pertama.


“Pergilah dari kehidupan keluarga ku! Aku sudah tahu kalau kau adalah istri kedua suami ku,” ucap Hana.


“Hem... jadi kau ingin aku meninggalkan suami yang telah mencintai ku dan menyayangi ku, menjaga ku dan memberikan apapun yang aku inginkan? Apa kau waras?” Dewi tertawatir pada Hana.


“Kau benar-benar perempuan tidak tahu malu, hati nurani mu memang sudah mati, teganya kau menikahi pria yang sudah beristri, benar-benar menjijikan! Apa kau pernah berpikir lagi pada perasaan kami berdua?!” pekik Hana.


“Kau salah, dia yang meminta ku untuk menikah dengannya, aku sudah mengenali mu sejak lama, aku sangat kasihan pada mu, karena itu aku sering menolak sebelum akhirnya resmi menjadi istri sirinya, aku bisa apa kalau dia terus mengejar tanpa memberi ku celah untuk menghindar?? Harusnya kau jangan menuntut ku, salahkan dia yang lebih memilih aku dari pada dirimu, harusnya kau berkaca kenapa suami mu sampai mendua? Kurasa saat kau melihat wajah mu di cermin, kau akan tahu perbandingan antara aku dan kau,” ucap Dewi.


Mendengar jawaban tanpa penyesalan dari Dewi membuat Hana dan David sakit hati.


“Aku bersedia menjauh asalkan dia yang menceraikan aku, tapi ku rasa suami ku tidak akan melakukan itu, karena aku tahu dia sangat mencintai ku, aku tidak akan melarang atau mencegah mu untuk mempengaruhinya, silahkan kalian berunding di rumah, aku disini siap menerima keputusan kalian berdua.” Dewi tersenyum lepas karena ia tahu Heru akan memilihnya.


Tubuh Hana panas dingin melihat sikap santai Dewi.


“Baik, aku pasti tidak akan kalah darimu!” Hana pun bangkit dari duduknya.


“Ayo kita pergi.” ucap Hana pada David.


Kemudian David menggenggam tangan ibunya lalu ia pun berkata pada Dewi.


“Akan ada karma dan hukuman untuk orang yang mencuri.” setelah itu David menuntun tangan ibunya untuk keluar dari rumah madu ayahnya.


“Hah! Sialan!” Dewi tertawa getir, ia mengira kalau Hana yang mengajari David bicara seperti itu padanya.


Saat Hana dan David berada dalam lift keduanya diam satu sama lain sampai David memulai obrolan.


“Wanita itu menarik, aku juga pasti akan menyukainya,” ucap David.


“Kenapa kau jadi berubah haluan?” Hana merasa kecewa pada putra yang ia harapkan memihak nya.


“Mama salah faham, aku tidak suka pada wanita itu, hanya saja ku lihat papa lebih suka wanita yang menantang dari pada penurut dan setiap seperti mama,” terang David.


“Lalu? Apa mama harus seperti wanita itu?”

__ADS_1


“Tentu, jangan mau kalah, mama adalah orang yang mendukung papa mulai dari nol, wanita itu hadir saat kalian sudah memanen hasil kerja keras kalian selama ini, terlalu bodoh kalau mau pergi begitu saja, yang untung jelas wanita itu dan anaknya.” David pun memprovokasi ibunya agar melawan pada ayahnya dan juga Dewi.


“Kau benar, meskipun kakek mu orang kaya, tapi dia tidak mewariskan segalanya mentah-mentah pada mama, apa lagi kakek dari papa mu, mereka hanya memberikan kami modal, itu juga hanya sekali, beruntungnya kami tidak bangkrut dan usaha yang di jalankan berkembang pesat.” Hana kembali lagi dengan masa-masa sulitnya bersama Heru.


Di masa perjuangan mereka yang pelik, Hana pernah makan dengan lauk garam dan cabai giling saja.


“Aku akan mempertahankan rumah tangga ku meskipun tangan ku akan berdarah.” Hana berniat akan membunuh Dewi.


David yang mendengar rencana ibunya tak memberi komentar apapun karena ia pikir pencuri kebahagiaan orang lain wajib di beri sangsi.


Tanpa terasa keduanya pun sampai ke parkiran mobil yang ada di basement apartemen.


Sebelum beranjak pulang Hana menelpon pembunuh bayaran.


Hana [Aku ingin kau menghabisinya secepatnya, tapi pembunuhan ini buat seperti kecelakaan, aku tidak mau ada kesalahan]


Setelah selesai menelepon Hana merasa sedikit tenang.


“Sejak kapan mama mengenal orang itu?” tanya David dengan penasaran penuh.


“Satu bulan yang lalu, saat mama baru mencium kejahatan papa mu, saat itu mama ingin menghabisi papa dan juga Dewi, tapi sekarang mama berubah pikiran, mama akan menyiksa papa, dia harus tahu arti kehilangan seperti apa.” Hana balas dendam pada suaminya melalui Dewi.


“Mama harap kau tutup mulut kalau tidak mama akan hancur untuk yang kedua kalinya,” ucap Hana.


“Lakukan semau mama.” David tahu jelas kalau yang akan dilakukan Hana merupakan tindakan kriminal namun ia seolah senang akan keputusan ibunya.


“Dewi kecelakaan, nyawanya tidak terselamatkan.” Heru memberi tahu Hana dan David.


“Aku turut berduka cita pa.” ucap Hana dengan perasaan bahagia.


“Apa papa mau ku temani ke rumah duka?” Hana menawarkan diri karena ia ingin mengucapkan salam perpisahan pada madunya yang telah gugur.


“Boleh.” Heru yang sibuk akan pekerjaannya tak sempat mencurigai istri tuanya.


Pada hal jika Heru punya waktu untuk merenungi kepergian istri keduanya ia pasti menemukan kejanggalan pada Hana yang baru bertemu dengan Dewi.


Sesampainya mereka di rumah orang tua Dewi, Hana pun melihat Max kecil yang menangis memeluk ibunya.


Misi selanjutnya membuat anak mu menderita, batin Hana.


Sejak kepergian Hana Max pun pindah ke rumah yang ada ibu dan saudara tirinya.


Hari-hari yang Max lalui tidak mudah, ia seringkali mendapat perlakuan kasar dari orang-orang yang ada di rumah ayahnya.


Kendati demikian Hama tak pernah main tangan pada Max karena ia sendiri tak tega jika harus melukai anak kecil.


Begitu juga dengan David, anak dari Hana itu lebih sering memberi cacian dan juga tak mau dekat dengan adik sambungnya tersebut.

__ADS_1


Flashback Off


“Apa aku harus meneleponnya?” Hana benar-benar ragu karena itu artinya akan menurunkan harga dirinya.


“Tidak, untuk apa aku harus repot-repot melakukannya? Terserah dia baru datang atau tidak.” Hana yang lelah dan lapar memutuskan untuk ke dapur.


***


David dan Kenisha yang telah selesai menyusun baju ke dalam koper keluar dari dalam kamar.


Saat mereka berjalan menuju pintu utama keduanya pun bertemu dengan Max.


“Hati-hati di jalan, menurut perkiraan cuaca malam ini akan hujan,” ujar Max.


“Terimaksih.” jawab David tanpa melihat wajah adiknya.


Sedang Kenisha hanya tersenyum tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Setelah itu Kenisha dan Max keluar dan masuk ke dalam mobil.


Kemudian dari keduanya berangkat menuju puncak.


Max yang di tinggal mengambil handphonenya lalu menghubungi Ruby.


Max [Mereka ke puncak, ku rasa itu untuk bulan madu]


Ruby [Baiklah, kita hanya bisa menunggu sampai mereka pulang ke rumah]


Ternyata Max dan Ruby bekerja sama untuk memisahkan pasangan pengantin baru itu.


Max mau membantu Ruby karena selama ini ia sudah mengetahui kalau pembunuh ibu kandungnya adalah ibu sambungnya sendiri.


Max [Oke!]


Setelah sambungan telepon terputus Max menggenggam erat handphonenya.


“Aku pasti akan membuat mu menderita, istri mu akan ku rebut,” gumam Max.


***


Selama dalam perjalanan David dan Kenisha hanya diam, tak ada yang mau bersuara pada hal mereka duduk bersebelahan.


Wanita yang membosankan kenapa dia tak membuka mulutnya? Apa aku yang harus menyapanya terlebih dahulu? batin Max.


“Nanti mau beli cemilan di dekat villa tidak?” tanya Max sebagai basa-basi.


“Boleh mas, sekalian beli nasi goreng dong mas, aku sudah lama tak memakannya,” ucap Kenisha.

__ADS_1


“Baiklah.” David pun menganggukkan kepalanya.


__ADS_2