
Hingga 30 menit kemudian, Lilis dan kedua anaknya yang telah kembali membawa kayu bakar tak melihat seekor ikan pun di bersihkan oleh Kenisha.
“Hei, kenapa kau belum ambil ikannya dari ember ayah dan suami mu?” ucap Lilis.
“Kalau ada sudah ku lakukan dari tadi bu,” ujar Kenisha.
“Maksud mu mereka berdua belum mendapatkan seekor ikan pun?” tanya Lilis dengan raut wajah tak percaya.
“Iya, ku rasa mas David sudah mulai bosan, belum lagi kita tidak membawa lauk apapun, aku takut kalau dia akan mengoceh pada kita semua.” Kenisha mengatakan keresahan hatinya kepada ibunya.
“Akh... itu sudah jelas, lagi pula kita yang salah, berharap pada sesuatu yang belum pasti,” ucap Lilis.
“Tapi biasanya kan banyak terus bu, apa penguntit itu yang menghabisi ikan-ikan yang ada di sini?” Kenisha mengutarakan pendapatnya.
“Bisa jadi, hem... ibu benar-benar penasaran dengan orang itu, sebenarnya kemarin ibunya Leo juga datang ke rumah pada saat ibu dan ayah tidak ada di tempat, dia mengambil koper pemberian nak David dan membawa rohima keluar dari dalam rumah.” Lilis pun menceritakan peristiwa yang mereka alami beberapa hari yang lalu.
“Kok bisa? Apa ibu dan ayah pergi ke rumahnya setelah tahu semuanya?” tanya Kenisha.
“Tidak, kau tahu sendiri kita tak cukup bukti, pernyataan Rohima saja tidak akan membuktikan kalau kita benar,” ujar Lilis.
“Iya juga, bagaimanapun ibunya Leo adalah adiknya bapak kepala desa, sudah jelas yang di bela adalah dia bukan kita,” ujar Kenisha.
“Karena itu, ayah dan ibu lebih memilih diam, takutnya kalau di perpanjang mereka tidak akan kasih ketenangan untuk keluarga kita,” ucap Lilis.
“Ya baiklah, berarti yang paling bagus adalah menempatkan satpam dan CCTV di rumah,” ujar Kenisha.
“Ya, itu adalah pilihan yang tepat,” ujar Lilis.
__ADS_1
Mereka yang terus mengobrol tidak sadar sudah menghabiskan waktu selama 3 jam di sana.
“Sial! Apa sebenarnya mereka sedang mengerjai ku? Tak ada satu ikan pun disini?! Bahkan bangkainya pun tak ada,” gumam David.
Ia yang telah lapar meninggalkan pancingnya dan berjalan menuju istrinya.
“Apa ada yang bisa di makan?” tanya David.
Lalu Kenisha tersenyum kaku dan menunjuk ke arah nasi putih yang ada dalam panci tepatnya masih di atas tungku.
“Ada mas, apa mas ingin makan sekarang?” tanya Kenisha.
“Tentu saja, aku tidak bisa lagi menunggu ikan-ikan besar yang sedang tidur siang itu muncul ke permukaan.” David menyindir halus istri dan mertuanya karena ia telah merasa di bohongi.
“Tentu saja, silahkan duduk dulu, aku akan mengambil daun pisang sebagai piring mu mas,” ucap Kenisha.
“Aku hanya sebenar.” Kenisha yang tak ingin kena marah bergegas mengambil daun pisang yang ada di dekat hutan.
“Ikannya banyak sekali ya bu, mungkin mata pancing ku bingung harus mengait yang mana dulu makanya sampai sekarang aku belum mendapat seekor pun,” ucap David.
“Bisa jadi, harusnya nak David menunggu sebentar lagi, bukankah memancing itu sama dengan melatih kesabaran?” ujar Lilis.
“Ibu benar, tapi kalau sampai aku tidak mendapat satu seekorpun dalam 30 menit kedepan, aku akan langsung pulang,” ucap David.
“Maaf ya nak kalau kau sangat kecewa, kami saja tidak mengerti kenapa sampai sekarang belum mendapatkan ikan.” Lilis yang merasa bersama tak dapat melihat wajah menantunya.
“Mungkin ada buaya di dalam danau, atau segerombolan ular, bisa sajakan?” David berpikir demikian karena hanya itu alasan masuk akan baginya.
__ADS_1
“Ibu tidak tahu karena belum pernah melihat secara langsung, ibu juga pernah menyelam ke dalam dan ibu tidak menemukan hewan lain selain ikan,” ujar Lilis.
“Oh, begitu ya? Coba nanti aku menyelam ke dalam.” Max berniat mandi karena hanya itu yang dapat meredakan emosinya.
***
Kenisha yang sedang memotong batang daun pisang dengan pisau cutter mendengar suara langkah kaki dari semak-semak dalam hutan yang ada di hadapannya.
Apa ada orang disana? batin Kenisha.
“Tidak mungkin, bisa jadi itu hewan yang sedang mencari makan,” gumam Kenisha.
Kenisha yang telah berhasil mengambil 3 lembar daun pisang berniat untuk kembali ke danau.
Namun saat ia akan balik kanan suara langkah dari semak-semak itu semakin berisik dan tak beraturan.
“Itu apa sih?” Kenisha yang tadinya acuh kini menjadi penasaran.
“Apa itu rusa?” Kenisha yang sudah lama tidak memakan daging hasil buruan pun merasa bersemangat.
“Meskipun olahan daging di rumah mas David enak, tapi itu tidak bisa mengalahkan rasa daging original tanpa pembeku dari hutan di ini,” gumam Kenisha.
“Sebaiknya aku panggil mereka semua.” setelah Kenisha mengucapkan kata-katanya.
Tiba-tiba suara berisik dari semak-semak pun diam.
“Apa rusanya sudah pergi?” Kenisha yang takut kehilangan jejak dan gagal memakan daging masakan ibunya pun memutuskan untuk memburunya sendiri.
__ADS_1