
Kenisha melihat wajah suaminya yang seketika berubah jadi datar.
“Ada apa sayang? Kenapa wajah mu tegang begitu?” tanya David.
“Tidak apa-apa mas.” Lyra pun geleng-geleng kepala.
“Oh ya, bagaimana kalau hari ini kita memancing ke danau? Sepertinya cuacanya sangat cerah, pasti cocok untuk piknik sambil bakar-bakar ikan.” ucap Wahyu yang ingin mengalihkan topik pembicaraan.
“Boleh juga, dimana danaunya?” tanya David.
“Di atas bukit belakang tanah merah,” jawab Wahyu.
“Pasti ikan-ikan di sana sudah besar,” ujar Lyra.
“Kau benar, lagi pula kita sudah 4 bulan tidak kesana,” ucap Lilis.
“Ada ikan apa saja bu?” tanya David.
“Banyak, udang juga ada, ayah mu yang menaruh bibit kesana, setiap kali ayah pulang menjala ke sungai, ikan-ikan kecil akan di buang ke danau,” terang Lilis.
“Oh, begitu ya.” David cukup terkesan dengan kesederhanaan keluarga istrinya.
“Iya nak, lagi pula kalau beli bibit harganya sangat mahal, selain ikan kecil, ayah juga menaruh beberapa ikan besar yang sedang bertelur ke dalam, itulah keuntungan tinggal di perbatasan, danau atau tanah kosong bisa kita manfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari.” Wahyu tertawa pada menantunya.
“Enggak salah sih, asal jangan di bangun saja,” ucap David.
“Betul-betul, ayah setuju dengan pendapat mu. oh ya Kenisha, Lilis, siapkan perbekalan karena kita akan segera berangkat,” ujar Wahyu.
“Iya ayah.” Kenisha pun bangkit dari duduknya dan segera menuju dapur untuk menyiapkan bekal.
“Mas, aku akan ambil tikar dan juga payung, nas dan menantu ke gudang untuk ambil pancingan ya,” ujar Lilis.
“Baiklah. Ayo nak.” Wahyu mengajak menantunya untuk pergi bersama.
David pun menurut dan mengikuti langkah kaki mertuanya.
Setelah berjalan beberapa saat mereka pun tiba di gudang yang ada di belakang rumah.
Lalu Wahyu membuka pintu dan mengambil 5 kail dari balik pintu.
“Ini apa?” David terkejut melihat alat pancing mertuanya yang terbuat dari kayu.
__ADS_1
Tali kailnya hanya di lilit ke batang kayu sekecil itu? Apa kuat untuk menarik ikan? batin David.
“Alat pancing! Ini sangat klasik dan juga manjur dalam menjebak ikan-ikan yang memakan umpan di mata kail yang ayah buat,” ucap Wahyu.
“Baiklah, aku akan percaya setelah menangkap ikan 10 kilo dengan itu.” David pun mengambil satu pancing dari mertuanya.
“Hahaha... kau pasti baru pertama kali melihatnya, iyakan?” ucap Wahyu.
“Iya, ayah benar! Kalau memang ampuh, aku akan memberikan hadiah pancing terbaik untuk ayah.” David pun tersenyum lalu mengajak mertuanya pergi.
***
Max yang baru selesai makan menyeka bibirnya dengan tisu.
“Winda.”
“Iya tuan?” sahut Winda.
“Aku masih sangat menyukai mu.” Max pun jujur akan perasaannya pada Winda.
Winda yang mendengar itu merasa sangat bahagia.
”Tapi, kau pasti akan membenci ku.” Max menatap nanar Winda yang ada di sebelahnya.
“Itu tidak mungkin.” Winda geleng-geleng kepala karena merasa semua baik-baik saja.
“Setelah aku mengatakannya, terserah kau mau memutuskan apa.”
“Memangnya apa yang telah tuan lakukan?” Winda pun di buat penasaran oleh Leo.
“Aku telah berbuat dosa besar.” Max yang ingin jujur akhirnya mengatakan semua pada Winda.
Winda yang mendengar semua curahan hati orang yang ia cintai merasa sangat sedih.
Ia yang merasa di khianati tak tahu harus memberi komentar apa pada Max
“Maaf, aku bukan laki-laki baik seperti yang kau pikirkan, kalau kau ingin membuang perasaan mu silahkan saja, aku tidak akan menghentikannya. Winda, kau berhak mendapatkan orang yang lebih baik dariku,” ucap Max.
“Iya, tuan benar. Meski pun aku ingin tetap bersama tuan, tapi aku tidak punya nyali, karena nyonya Ruby bisa saja mengandung anak tuan, maaf kalau aku tidak bisa berada di sisi tuan lagi, dari awal semua memang semua sudah salah, kita berdua memang tidak mungkin bersama.” Winda yang telah selesai bicara memutuskan untuk pergi.
Max yang di tinggal merasa sangat hancur, tapi ia sendiri tak ingin memaksa kehendak agar Winda tetap bersamanya.
__ADS_1
“Ya, mungkin ini adalah yang terbaik.” Max mencoba tegar dan akan melupakan wanita baik yang telah berhasil membuatnya jatuh hati.
Winda sendiri menangis di kamarnya karena orang yang selama ini ia impikan akan menjadi suaminya malah bercinta dengan orang lain.
“Walau pun itu tidak sengaja tapi rasanya tetap sakit, hatiku tidak bisa tegar apa lagi santai mengetahui kenyataan itu, kenapa? Kenapa kau malah ke rumahnya saat mabuk tuan, hiks.” Winda benar-benar merasa sangat patah hati.
***
Ruby yang ada di rumah merasa sangat bosan karena tak tahu harus pergi kemana hari itu.
“Diam di rumah saja membuat ku seperti orang bodoh, apa aku harus ke bar untuk mencari hiburan?” Ruby yang stres tak dapat mengendalikan perasaannya.
“Sial! Gara-gara si Max aku jadi gila sendiri, tapi kalau di pikir-pikir mainnya enak juga.” Ruby yang tadinya benci kini malah kepikiran Max.
“Tidak, tidak! Ini pasti efek aku tak di sentuh laki-laki selama 6 bulan, ayo Ruby! Kau harus sadar, Max itu bukan tipe mu!” Ruby merasa malu karena tertarik pada orang yang telah menodainya.
“Mungkin hanya aku orang yang ingin bercinta lagi dengan penjahat yang telah meniduri ku secara paksa. Haaah! Pada hal aku sudah berniat tidak akan mau di celup laki-laki yang bukan suami ku lagi, tapi kenapa ya... rasanya sangat sulit untuk mengubah kebiasaan yang telah membuat kita kecanduan.”
Ruby yang kurang bimbingan orang tua sejak muda menjadi liar dan bebas melakukan apapun tanpa di pantau oleh ibu ayahnya yang telah bercerai dan sibuk akan urusannya masing-masing.
“Sebaiknya aku pergi ke rumah Desi, dia pasti punya gosip bagus yang bisa mengalihkan pikiran kotor ku saat ini.” Ruby pun beranjak ke kamar untuk mengganti baju.
***
“Apa masih jauh?” tanya David yang tak bisa menaiki bukit yang memiliki kemiringan 60 derajat.
“10 menit lagi kita akan sampai, berjuanglah nak!” Wahyu menyemangati menantunya.
”Astaga! Tahu begini lebih baik beli ikan tadi!” David yang biasa kemana-mana di temani oleh mobil jelas merasa menderita dengan rute perjalanan yang ia tempuh.
“Jangan mengeluh! Nanti perjuangan mu akan terbayar oleh pemandangan indah danau matahari,” ucap Kenisha.
”Ya, baiklah! Aku benar-benar tidak sabar untuk melihatnya, ku harap rasa ikan bakarnya juga akan lezat, bagaimana pun ini adalah perjuangan berat yang menghabiskan banyak energi ku,” ucap David.
“Astaga! Kau benar-benar mirip anak kecil ya, mas! Harusnya kau malu pada Rohima dan Andri, mereka saja tidak banyak komentar seperti mu, mas.” Kenisha yang ada di barisan paling belakang mencubit bokong David yang ada di hadapannya.
“Sakit sayang!” teriak David.
“Kecilkan suara mu, apa kau tidak malu memanggil ku mesra di hadapan keluarga ku? Dasar aneh.” ucap Kenisha yang sungkan dan malu dengan sikap manis suaminya.
“Sayang! Sayang ku!” David yang usil malah semakin mengencangkan suaranya.
__ADS_1