
Kemudian David melajukan mobil yang ia kendarai semakin cepat.
Setelah menempuh perjalan selama 3 jam akhirnya mereka sampai di tujuan.
“Mas, benar disini tempatnya?” Kenisha merasa ragu karena ia melihat mereka ada di hutan belantara.
“Tentu saja, gedung resepsionis 3 menit dari sini,” ucap David.
“Oke.” Kenisha menganggukkan kepala dengan perasaan cemas.
Tidak seperti yang aku bayangkan, ku pikir hutan kecil dan masih terlihat rumah penduduk, tapi ternyata pohon-pohon disini menjulang tinggi sampai ke langit, batin Kenisha.
“Ada apa? Kenapa wajah mu syok begitu?” tanya David.
“Tidak apa-apa mas.” Kenisha tersenyum kaku pada suaminya.
Harusnya aku pilih ke Bali tadi, dasar bodoh! batin Kenisha.
Setelah masuk ke dalam kawasan hutan lindung keduanya pun melihat gedung klasik berlantai 2 tak jauh dari hadapan mereka.
“Disana tempat para pekerja, kita penyewa Villa bisa masak sendiri atau memesan makanan dari mereka,” terang David.
“Oh, begitu ya.” Lyra pun merasa tenang setelah mengetahui ada orang selain mereka di sana.
Tak lama mereka pun sampai di depan gedung.
Keduanya pun turun dari dalam mobil, David dan Kenisha juga di sambut baik oleh 2 karyawan pria yang siap membawa koper mereka ke villa yang akan mereka tempati.
“Mas, duluan saja tali sepatu ku lepas,” ucap Kenisha.
“Baiklah.” David pun masuk terlebih dahulu dalam gedung.
“Selamat sore pak David.” ucap sang resepsionis wanita dengan sangat ramah.
“Sore juga,” sahut David.
“Apa kabar pak? Sudah lama ya bapak dan ibu Ruby tidak kesini, padahal kami selalu menanti kedatangan bapak dan ibu Ruby.” ucap sang resepsionis yang sudah bekerja selama 15 tahun di villa XX tersebut.
“Iya.” jawab David dengan singkat.
“Apa bapak mau Villa yang biasa di tempati dengan bu, Ruby?” tanya sang resepsionis.
“Boleh.” David tak menolak karena ia merasa tak masalah berbulan madu di kamar yang biasa ia pakai bercinta dengan Ruby.
“Baiklah.” setelah memasukkan data-data David ke sistem komputer resepsionis cantik itu pun memberikan kunci Villa VIP pada David.
“Terimakasih banyak.” ucap David seraya menerima kunci dari sang resepsionis.
Ketika pria tampan itu membalik badan iapun melihat istrinya berdiri mematung menatap dirinya dengan seksama.
“Ayo.” David menggenggam tangan Kenisha dan menuntunnya menuju villa yang berjarak 10 menit dari gedung tersebut.
__ADS_1
“Astaga, apa aku akan membuat mereka bertengkar?” sang resepsionis yang tak tahu jika David membawa wanita lain menjadi resah.
Ia takut Kenisha akan marah besar pada David.
“Harusnya tadi aku mengunci mulut sebelum melihat siapa yang datang bersama pak David,” gumam sang resepsionis.
***
Selama dalam perjalan yang hanya dapat di tempuh dengan berjalan kaki, Kenisha yang mendengar segalanya jadi diam seribu bahasa.
“Ada apa dengan mu?” tanya David.
“Tidak apa-apa,” jawab Kenisha.
”Aku heran, sikap mu selalu berubah-ubah dalam hitungan jam,” ucap David.
“Aku memang selalu begini, mas.” meski belum ada rasa cinta namun Kenisha tidak terima jika harus berada di tempat kenangan terindah suaminya.
“Tolong bersikap normal dan jangan banyak melamun, kau tahu ini alam bebas, kalau kau kesurupan aku bisa repot,” ucap David.
“Iya.” Kenisha yang merasa kesal dan tak nyaman melepaskan genggaman tangan David darinya
“Ada apa lagi?” David mengerti kalau Kenisha mendengar percakapannya dengan sang resepsionis.
“Aku bisa jalan sendiri.” lalu Kenisha melewati David yang ada di hadapan.
“Aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi aku lebih dulu mengenal Ruby dari pada dirimu, bagaimanapun kami pernah menjalin hubungan, tapi itu sudah masa lalu, masa depan ku sekarang adalah kau.” David sedikit berkata manis agar momen bulan madu mereka tidak berantakan.
“Padahal mas banyak uang, tapi kenapa harus ke tempat ini?” Kenisha butuh penjelasan dari suaminya.
Kenapa di selalu menang saat berdebat? batin Kenisha.
“Aku ingin kita ganti Villa,” ucap Kenisha.
“Baik, tapi kau yang ke gedung resepsionis, kaki ku cape,” ucap David.
“Oke!” Kenisha merasa tak takut jika harus berjalan sendirian pada hal saat itu langit sudah menjelang petang.
“Keras kepala.” David tak menghentikan istrinya karena ia tidak ingin ada pertengkaran di antara mereka.
Ia pun menatap kepergian istrinya yang terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.
“Sialan! Bisa-bisanya dia membawa ku kesini, untung tadi aku mendengar percakapan mereka berdua, kalau tidak mungkin dia sudah membayangkan aku sebagai Ruby saat bercinta nanti.” Kenisha yang marah menjadi berpikir negatif pada suaminya.
Dan Kenisha yang larut dalam emosi tanpa sadar memilih jalan yang salah.
“Aku benar-benar muak kalau harus di bawa ke tempat yang pernah ia kunjungi dengan mantan pacarnya itu,” gumam Kenisha.
“Eh, kenapa ada air? Bukannya tadi kami tidak lewat sini?” Kenisha pun menepuk keningnya.
“Dasar ceroboh, semoga saja ini bukan awal dari istilah tersesat, enggak lucu banget kalau sampai orang-orang mencari ku.” ketika Kenisha yang balik kanan ia semakin bingung karena ada empat jalur di hadapannya.
__ADS_1
“Apa ini? Sejak kapan ada jalan bercabang?” Kenisha yang takut salah memilih jalan pun memilih untuk menghubungi suaminya.
Namun sayang tempat sunyi itu ternyata tidak ada sinyal.
“Ya Tuhan bagaimana ini?” cuaca yang mulai gelap membuat Kenisha merinding.
Kenisha pun mulai khawatir akan keselamatannya, meski ia tinggal di tempat yang minim penduduk dan di kelilingi banyak gunung tapi dirinya tetap segan pada lingkungan yang baru ia pijak.
“Bagaimana ini?” Kenisha yang tak mau diam di tempat terpaksa memilih jalan yang akan ia tempuh.
“Semoga aku kembali ke jalan yang benar .” Kenisha pun memilih jalur setapak yang ada di sisi kanannya.
Ia pun mulai melangkah dengan bulu kuduk yang merinding hebat Kenisha mencoba menguatkan dirinya.
Sraakk!
“Haah!!!” Kenisha terkejut dan melihat ke arah semak-semak yang ada di sebelah kirinya.
Yang tadi itu apa? Kenisha bertanya dalam hatinya.
“Tolong...” Kenisha yang masih diam di tempat mendengar suara pria yang begitu lirih.
Deg!
Seketika jantung kenisa berdetak dengan sangat kencang.
“Hantu!!!” ia pun segera lari dengan sekuat tenaganya.
“Tolong! Mas David!! Kau dimana hiks!” Kenisha memanggil nama suaminya dengan berdarai air mata.
Suasana hutan yang semakin gelap membuat jarak pandangan Kenisha terbatas.
Ia yang fokus melihat ke depan tak sadar jika banyak akar pohon di tanah, alhasil kakinya pun tersandung dan tubuhnya yang indah ambruk ke tanah.
Bruk!
“Lepaskan aku, tolong!” Kenisha mengira hantu lah yang memegang kakinya.
Disaat ia hampir pingsan di tempat tanpa sengaja ia melihat sebuah Villa dengan lampu menyala 85 meter di hadapannya.
Kenisha yang rentan mengumpulkan sisa tenaganya, lalu bangkit dari tanah menuju villa yang akan menyelamatkan nyawanya.
“Hosh... hosh... sedikit lagi sampai.” Kenisha yang berlari menjadi sesak nafas.
Sesampainya Kenisha ia pun langsung menutup pintu masuk Villa.
Tok tok tok!
“Permisi! Aku tersesat! Aku ingin penumpang sebentar saja! Tolong buka pintunya,” pinta Kenisha.
Lalu tak lama terdengar suara langkah kaki dari dalam villa
__ADS_1
Ceklek!
Ketika pintu telah terbuka lebar mata Kenisha membuat sempurna .