Terpaksa Menikahi Perjaka Tua

Terpaksa Menikahi Perjaka Tua
Malu


__ADS_3

Max yang mendapat hinaan dari ibu sambungnya menahan segala emosinya yang kapan saja siap meledak.


“Aku tahu di mana tempat ku, aku juga sangat berterima kasih telah di terima di keluarga ini.” ucap Max yang masih mencoba menjaga kesopanannya pada Hana.


“Bagus, nanti hubungi papanya David, kalau kau malas datang ke rumah kami.” Hana yang tak ingin berlama-lama di rumah anaknya memilih untuk pergi karena ia benci melihat kehadiran Max di sana.


“Iya ma.” jawab Max seraya mengepal kedua tangannya dengan sangat kuat.


Setelah itu Hana beranjak dari hadapan Max dengan wajah tak menyenangkan.


Max yang kini tinggal sendiri memijat pelipisnya yang terasa sakit.


“Aku sangat benci wanita itu, seberapa keras pun aku menghormatinya, tapi dia tidak pernah menghargai ku dan dia selalu membuat aku marah.” sejak Max tinggal bersama ibu dan saudara tirinya, ia selalu berusaha menjadi anak yang baik dan patuh.


Max juga tak pernah mengadu kepada Daniel apabila dirinya di caci maki oleh orang-orang yang ada di kediaman Western.


Namun seperti pada manusia umumnya ia juga punya batas sabar, Max yang lelah berusaha akhirnya membenci semua orang yang pernah menyakitinya kecuali sang ayah yang memang selalu baik padanya.


Max juga sering membayangkan dirinya melukai saudara dan ibu kandungnya, karena dirinya yang lemah selalu tak bisa melakukan tindakan buruk yang ada dalam kepalanya.


Namun keinginan itu kembali menguat saat ia bertemu dengan Ruby yang berhasil mempengaruhinya.


Ia yang merasa memiliki teman akhirnya memutuskan untuk melanjutkan balas dendamnya.


“Aku sudah tidak tahan, aku pasti akan membuat hidup kalian berdua menderita.” Max yang lelah memutuskan kembali ke kamar untuk istirahat.


Namun saat ia membalik kanan, iapun melihat Winda berdiri di hadapannya.


“Ada apa? Kenapa wajah mu terlihat putus asa saat melihat ku?” tanya Max.


“Tidak ada, apa tuan sendiri baik-baik saja?” Winda tahu kalau Max sedang menghadapi masalah.


“Iya, semuanya berjalan lancar, kalau begitu aku ke kamar sekarang,” ucap Max.


“Sebelum pergi, apa aku boleh tanya sesuatu pada mu tuan?”


“Tentu, silahkan saja.”


“Apa aku masih ada di hatimu?” pertanyaan Winda membuat Max bingung, karena ia sendiri sudah lama melupakan rasa cinta yang ada di hatinya untuk Winda.


“Entahlah, apa masih ada yang ingin kau bicarakan? Kalau tidak, aku ingin pergi.” Max memilih untuk menghindari Winda karena ia tak mau gagal balas dendam karena wanita tersebut.

__ADS_1


“Aku selalu setia menunggu mu tuan, tapi kalau tuan sudah memiliki yang lain, maka aku akan berhenti mencintai mu.” Winda pun mencoba berbesar hati karena ia sendiri sadar akan posisinya.


“Terserah kau saja.” Max tak perduli dengan apa yang Winda katakan karena saat itu hatinya belum bisa berpikir jernih karena ia masih marah pada Hana yang baru saja merendahkannya.


Mendapat respon yang cukup mengejutkan membuat Winda jadi malu atas kepercayaan dirinya untuk berbicara pada sang majikan.


“Maaf, kalau begitu saya permisi dulu tuan.” Winda pun buru-buru menuju dapur karena ia tak sanggup melihat wajah Max.


Max yang tak ambil pusing kembali lanjutkan langkahnya menuju kamar yang ia tempati di rumah David.


“Maaf, kalau aku mengecewakan mu, Winda,” gumam Max.


***


Pada malam harinya, tepat di pukul 00:45, Kenisha dan David sampai ke tujuan.


Mereka pun turun dari dalam mobil dengan wajah yang lumayan kusam karena berada dalam mobil seharian penuh.


“Sepertinya mereka sudah tidur.” ucap Kenisha karena melihat pintu rumahnya yang tertutup rapat.


Lalu ia pun bergegas untuk mengantuk pintu agar mereka segera masuk.


“Assalamualaikum, bu! Ayah! buka pintunya bu, ini Kenisha.”


Lilis yang ternyata masih di ruang tamu mendengar suara putrinya.


“Kenisha? Kenapa dia pulang tengah malam begini?” Lilis yang penasaran pun bergegas untuk membuka pintu.


Krieeet...!!!


Ketika pintu telah terbuka lebar, Lilis melihat putrinya pulang bersama menantunya.


“Eh, waalaikumsalam, ayo masuk nak David, Kenisha.” Lilis pun menyambut kedatangan anak dan menantunya dengan sangat ramah.


“Tunggu sebentar, ibu akan membangunkan ayah mu.” Lilis pun bergegas menuju kamar.


Kenisha yang baru pertama kali melihat rumah barunya berdecak kagum dalam hati, ia juga merasa berterima kasih pada suami yang telah mengubah rumah gubuknya menjadi beton besar, yang terlihat indah dan juga nyaman.


“Mas pasti lapar dan hauskan?” Kenisha yang ingin balas budi berniat untuk melayani suaminya dengan baik.


“Iya, kenapa kau tidak ambil ayam goreng yang kita beli tadi? Pasti rasanya lebih enak kalau di makan ramai-ramai, cepat ambilkan,” titah David.

__ADS_1


Kenapa bukan dia saja? Angkat berat jugakan termasuk tugas suami, ih! Enggak romantis banget, batin Kenisha.


“Iya mas, akan segera ku ambil.” Kenisha yang tak ingin merusak suasana indah malam itu pun memenuhi permintaan suaminya.


Ketika ia telah berada di luar rumah tanpa sengaja ia melihat seseorang berdiri di balik pohon yang tak jauh dari pintu utama rumah orang tuanya.


“Siapa?” hati Kenisha bertanya-tanya dan juga penasaran.


“Apa mungkin pencuri?” Kenisha yang takut pun memanggil suaminya yang ada dalam rumah.


“Mas! Kesini sebentar!” meski Kenisha sudah berteriak dengan keras, namun orang yang ada di balik pohon itu tak kunjung beranjak.


“Ada apa? Kenapa suara mu kencang sekali? Aku ini tidak tuli tahu?!” pekik David.


Ketika Kenisha melihat ke arah pohon ternyata orang misterius itu sudah tak ada disana.


“Ah, tidak apa-apa, aku hanya takut sendirian di luar,” ucap Kenisha.


“Alasan, katakan saja kau tidak mau mengangkat ayam goreng ini.” kemudian David mengambil 10 kotak ayam dari dalam bagasi mobil.


“Pemalas, pada hal ini ringan.” setelah mengatakan itu takut meninggalkan istrinya yang terlihat mencari sesuatu.


Cepat sekali perginya, mungkin belum jauh, apa aku periksa dulu? batin Kenisha.


Kenisha yang ingin menuju pohon pun di hentikan oleh suaminya.


“Hei! Apa kau sedang kesurupan? Untuk apa kau berjalan ke tempat gelap itu? Atau kau ingin menunggu mantan mu yang bersembunyi disitu?” ucap David.


“Enggak kok mas, aku hanya ingin jalan-jalan sebentar, sudah lama aku tidak pulang kampung.” lalu Kenisha balik kanan.


“Kau belum sampai sebulan tinggal di rumah ku tapi kau sudah rindu kampung halaman mu?” David tak percaya dengan apa yang dikatakan istrinya.


“Namanya juga rumah sendiri, mau kecil atau besar tetap akan membuat rindu,” ucap Kenisha.


“Terserah kau mau bicara apa.” kemudian David masuk ke dalam rumah.


Mantan? Apa itu Leo? Tapi bukannya dia sudah meninggal? batin Kenisha.


“Tapi siapa yang akan memata-matai rumah ini selain dia? Atau sebenarnya itu hantunya?” Kenisha yang berpikir negatif malah takut sendiri.


Ia pun dengan cepat masuk ke dalam rumah karena merasa takut dan juga merinding hebat.

__ADS_1


__ADS_2