
“Mas! Aku belum siap mandi!” ucap Kenisha.
“Aku juga begitu, sudahlah! Dari pada bertengkar lebih baik kita berenang.” David memeluk Kenisha. Lalu ia mengajak istrinya untuk menyelam.
Di dalam air Kenisha membuka mata dan melihat suaminya yang seperti menikmati dinginnya air sungai jernih itu.
Tampan banget, pada hal umurnya sudah tua, kalau disini usia 35 tahun saja sudah mirip bapak-bapak 50 tahun, batin Kenisha.
Setelah beberapa saat mereka berdua pun bangkit dari dalam air.
Sejurus dengan itu Kenisha tanpa sengaja melihat seorang pria berlari dari atas bukit.
Deg!
Siapa orang itu? batin Kenisha.
Kenisha yang penasaran tak dapat mengalihkan pandangannya dari bukit kecil tersebut.
“Ada apa?” tanya David.
“Tidak apa-apa mas,” jawab Kenisha.
“Jangan berbohong, dari tadi malam kau bertingkah aneh, katakan pada ku siapa tahu aku bisa membantu.” David yakin istrinya menyembunyikan sesuatu darinya.
“Tadi aku melihat laki-laki di atas bukit,” ucap Kenisha
Lalu ia pun menunjuk ke arah yang ia maksud pada David.
“Mungkin itu hanya orang iseng, kau sendiri yang bilang, orang bisa lalu lalang kesini.” David sama sekali tidak merasa janggal dengan apa yang dikatakan istrinya.
“Entahlah mas, rasanya orang itu sangat mencurigakan, kenapa dia harus lari sekencang itu?” ucap Kenisha.
“Mungkin dia pikir kita akan melakukan hal mesum makanya dia mengintip, pas ketahuan oleh mu dia jadi ketakutan,” ungkap David.
“Bisa jadi, tapi hatiku tak tenang karena sebenarnya tadi malam aku melihat siluet laki-laki di pohon, aku tidak jujur karena tidak mau kau khawtair mas.” ucap Kenisha yang mulai memakai sabun.
“Harusnya katakan saja padaku, kitakan bisa mengejar pelakunya bersama-sama,” ucap David.
“Akukan sudah bilang alasan ku, lagi pula kita tidak mungkin mengejar orang itu di kegelapan malam,” ujar Kenisha.
“Kalau begitu kita harus panggil polisi untuk berjaga di depan rumah mu.” David keluarga istrinya aman dari segala bahaya yang datang mengancam.
“Aku sih mau saja, tapi aku sangat takut.” Kenisha yang sudah tak tahan menyimpan rahasia berniat untuk buka suara pada suaminya.
“Kenapa? Ceritakan pada ku setelah kita selesai mandi, bagaimanapun kita sudah menjadi suami istri, ku harap tak ada rahasia di antara kita, aku akan bersedia membantu kalau masalah yang kalian hadapi serius,” ucap David.
“Baiklah.” karena sudah sama-sama sepakat, akhirnya keduanya pun melanjutkan mandi sampai selesai.
Setelah itu mereka menuju rumah untuk mengganti baju.
***
__ADS_1
Max yang baru membuka mata terkejut melihat dirinya terbangun di tempat asing.
“Dapur?” Max yang telah sadar penuh pun duduk lalu menatap seluruh sudut ruangan.
“Bukankah ini rumah Ruby?” Max pun bingung bagaimana cara ia sampai kesana.
“Astaga, pasti aku meracau tadi malam, ku rasa aku minta di antar sopir taksi kesini.” Max yang ingin pulang pun mencari Ruby dengan niat untuk sekedar pamit dan meminta maaf.
Dirinya yang baru keluar dapur melihat Ruby sedang duduk di atas sofa yang ada di ruang tamu.
“Ruby.” sapa Max dengan santai.
Ruby yang melihat kehadiran Max langsung membuang wajahnya.
Hal itu tentu di anggap wajar oleh Max karena ia datang dengan cara yang tidak sopan.
“Hei, aku mohon maaf, aku benar-benar tidak sadar datang kesini.” Max mendekat kalau duduk di hadapan Ruby.
“Apa Kau melupakan apa yang telah kau lakukan pada ku?” ucap Ruby.
“Maksudnya apa?” Max tak mengerti Ruby bicara apa padanya.
“Kau, menodai ku tadi malam, tidak ku sangka ternyata kau adalah berandal berwajah lugu.” mengetahui kenyataan itu Max langsung merasa syok.
“Tidak! Kau pasti bercandakan?!” Max tertawa getir, ia seolah tak mempercayai apa yang dikatakan Ruby padanya.
“Kau pikir aku tukang bohong? Lagi pula aku tidak punya alasan untuk menipu mu! Kau bukanlah tipe ku! Itu!” Ruby menunjuk ke arah meja yang di atasnya ada sebuah plastik putih.
“Apa itu?” tanya Max.
“Astaga, aku pasti mabuk berat, maafkan aku Ruby, aku bener-bener tidak sengaja.” Max berharap Ruby mau mengampuninya.
“Lalu? Apa menurut mu kau bisa lolos begitu saja?” ucap Ruby.
“Baiklah, aku akan mengganti rugi atas semua perbuatan ku, katakan saja berapa uang yang kau inginkan.” Max siap bertanggung jawab dengan kesalahan yang ia lakukan.
“Aku tidak butuh uang mu, masalah terbesarnya kau keluar di dalam, aku hanya takut kalau aku hamil, aku tidak mau mengandung anak mu, kau tahukan kalau aku sangat mencintai David.” Ruby yang punya niat jahat pada Kenisha malah menuai apa yang ia rencana.
“Ya Tuhan!!!” Max menarik rambutnya karena merasa prustasi.
“Apa kau ingin aku menikahi mu?” tanya Max.
“Apa kau gila? Mana mungkin kau dan aku jadi satu? Aku jauh lebih tua darimu! Tidak, aku akan menggugurkannya jika aku benar-benar hamil.” Ruby yang ingin hidup bebas belum siap punya anak saat itu.
“Kalau kau pikir itu adalah yang terbaik, silahkan saja, tapi jika kau ingin mempertahankannya katakan saja padaku, aku akan menikahi mu, tapi secara sirih,” ucap Max.
“Kita tidak akan pernah sampai ke tahap itu, sekarang ku mohon pada mu untuk melupakan segalanya, anggap tidak ada yang terjadi di antara kita.” ucap Ruby yang merasa jijik dengan Max.
“Baiklah, aku ikut apa katamu saja.” Max menurut karena ia sendiri tidak merasa di rugikan.
“Kalau begitu aku pulang dulu, oh ya aku hampir lupa.”
__ADS_1
“Apa?” tanya Ruby.
“Ku rasa kita hentikan saja kerja sama yang pernah kita sepakati, aku merasa semua akan sia-sia saja, lagi pula aku hanya sebentar disini,” ucap Max.
“Jadi kau tidak akan meniduri, Kenisha?” tanya Ruby.
“Tidak, karena aku tidak ingin menghancurkan orang yang tak ada sangkut pautnya dengan masalah ku, aku akan melakukan yang lain.” Max yang selesai bicara bangkit dari duduknya.
“Maaf kalau aku tidak tepat janji, aku sangat menyesal telah menyakiti mu.” Max yang tak nyaman berada di tempat yang sama dengan Ruby memutuskan pergi.
Ruby yang di tinggal sendiri merasa hancur, ia tak menyangka kalau dirinya akan menyesal karena sudah meninggalkan kekasih yang sangat mencintainya di masa lalu.
“Andaikan aku tidak macam-macam, pasti semuanya masih baik-baik saja.” Ruby pun mulai menangis atas kegagalannya untuk mendapatkan David kembali.
***
Max yang ada dalam taksi berulang kali meminta maaf pada Ruby dalam hatinya yang paling dalam.
“Aku akan mengatakan semua kejahatan kalian pada papa.” Max yang telah mengantongi bukti kuat setelah bertahun-tahun mencari kebenaran pun siap untuk mengungkap kejahatan ibu dan saudara sambungnya.
***
Hana yang sedang sarapan melihat suaminya yang tidak selera makan.
“Ada apa pa? Sepertinya papa sedang ada masalah,” ucap Hana.
“Tidak juga, aku hanya merindukan Max, dia tidak datang kesini sejak pulang, menurut mu kenapa dia malah bertahan di rumah David?” Daniel bertanya pada istrinya.
“Aku tidak tahu, mungkin betah,” jawab Hana.
“Atau kau melarangnya untuk kesini?” ucap David.
“Pa!” Hana yang kesal meletakkan sendok yang ada di tangannya ke atas piring.
“Apa ma?” tanya Daniel.
“Papa jangan sembarangan menuduh ya! Aku sangat khawatir saat dia tak menghubungi dan tidak datang ke rumah, waktu aku datang ke rumah David, ternyata dia ada disana, aku sudah bilang untuk menghubungi mu, tapi dia tidak melakukannya, sekarang kau malah menyalahkan aku! Jangan seenaknya ya pa! Kalau bingung dan ingin marah sebaiknya lampiaskan kepada anak hasil hubungan gelap mu itu! jangan bawa aku setiap kali anak mu membuat ulah!”
Hana yang dikhianati dan bosan di tuduh berbuat jahat akhirnya menyudahi makannya.
“Aku sangat benci pada mu, kau adalah suami dan ayah yang tidak adil kepada istri dan anak mu sendiri, laki-laki seperti mu tidak layak untuk di hormati.” Hana yang selalu mengalah kini malah memberontak.
Ia pun bangkit dari duduknya dan meninggalkan meja makan tanpa pamit pada suaminya.
Anak sialan, sama seperti ibunya! batin Hana.
Hana yang ingin melampiaskan kekesalannya menuju rumah David.
Aku akan memaki mu sampai puas, terarah kau mau mengadu kepada papa mu! Aku sudah tidak takut lagi, batin Hana.
***
__ADS_1
Max yang baru sampai ke rumah bertemu dengan Winda yang akan pergi ke supermarket untuk membeli lipstik.
“Selamat pagi tuan.” ucap Winda sebagai basa-basi