
Rohima yang mendengar rayuan itu tidak serta merta mau menurut.
“Baiklah, tunggu sebentar Om.” kemudian Rohima segera berlari ke kamar ibunya.
Tok tok tok!
Rohima mengetuk pintu kamar Lilis dan Wahyu.
“Ibu, ayah! Ada orang aneh di luar jendela ku!”
Lilis yang belum tidur pun mendengar teriakan putrinya, lalu dengan segera ia turun ranjang dan membuka pintu.
“Ada apa Rohima?” tanya Lilis dengan mimik wajah khawatir.
“Ada orang yang mengatur jendela ku, dia menawarkan mainan dan meminta untuk membuka jendela, aku sangat takut bu.” Rohima pun menceritakan semua yang dikatakan orang tak di kenal itu.
“Astaga, kenapa ada saja masalah yang menghampiri keluarga kita.” kemudian Lilis kembali ke ranjang dan membangunkan suaminya.
“Mas! Ayo bangun! Ada orang jahat lagi yang datang ke rumah kita, cepat kita periksa siapa orang itu!” desak Lilis.
Wahyu yang mendengar apa yang dikatakan istrinya langsung membuka mata.
“Sialan! Orang gila mana yang lancang mengganggu ketenangan keluarga kita.” Wahyu yang kesel waktu istirahatnya terganggu turun dari ranjang.
Lalu ia mengambil barang sepanjang 50 cm dari balik lemari baju mereka.
“Kalau dapat akan ku tebas!” kemudian Wahyu tanpa takut melangkahkan kakinya dengan gagah menuju jendela kamar putrinya.
“Rohima, kau tunggu di sini, kunci dari dalam, ibu akan pergi menemani ayah,” ucap Lilis.
“Baik bu.” Rohim mengangguk setuju.
“Ya sudah kalau begitu.” kemudian Lilis keluar kamar sejurus dengan itu Rohima menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat.
“Bisa gawat kalau dia benar-benar membunuh orang!” Lilis pun semakin mempercepat langkah karena ia tak ingin ada pertumpahan darah di rumah baru mereka.
Sedang Wahyu yang telah sampai di luar rumah mendatangi jendela Rohima. Namun sayang tak ada siapapun disana.
“Dimana penjahat itu.” Wahyu sangat kesal karena mereka telah di permainkan sebanyak dua kali.
“Aku pasti akan menangkap orang itu kalau datang kembali.” Wahyu benar-benar kesal dengan orang yang berbuat iseng pada mereka.
“Bagaimana mas? Apa mas melihat siapa orangnya?” tanya Lilis yang baru datang..
“Tidak, aku tak melihat siapapun disini,” ujar Wahyu.
“Kalau begitu ayo kita keliling rumah, tadi aku sudah mengunci pintu depan.” Lilis ingin mereka segera menangkap orang yang telah meresahkan keluarga kecil mereka.
__ADS_1
“Baiklah.” karena Wahyu setuju maka keduanya pun langsung menyisir area sekitar rumah.
Sedang Rohima yang ada di dalam kamar merasa ngantuk yang teramat berat.
“Kenapa ibu dan ayah belum kembali juga?” Rohima yang ingin tidur pun naik ke atas ranjang.
Saat ia ingin memejamkan mata, tiba-tiba ada yang datang mengetuk jendela.
Tok tok tok!
Rohima yang mendengar itu merasa sangat ketakutan, Ia yakin itu orang yang sama dengan yang sebelumnya.
Rohima yang sendirian di kamar hanya diam tak mau bersuara.
Tok tok tok!!!!
Namun suara ketukan yang semakin keras membuat tubuh Rohima bergetar.
“Siapa sih.” gumam Rohima yang kini bersembunyi di dalam selimut.
“Aku tahu kau di dalam cantik, kenapa kau tidak mau membuka jendelanya? Pada hal om hanya ingin memberi mu hadiah, tapi kenapa respon mu seperti itu?” suara tenang namun mencekam dari orang misterius itu membuat Rohima berkeringat dingin.
Lalu tak lama ada yang masuk ke dalam kamar ibu dan ayahnya.
“Aaakkhh!!!” Rohima yang sudah tak tahan berteriak sekencang-kencangnya.
Rohima yang mendengar suara ibunya untuk membuka selimut.
“Bu, orang itu ada di balik jendela.” Rohima memberi tahu ibunya dengan suara yang redup.
“Hem! Apa maksud orang ini sebenarnya?!” Lilis yang naik pitam tanpa takut membuka jendela kamar mereka yang di batasi dengan teralis besi asli.
Brak!
Wus!!
Ketika jendela telah terbuka lebar hanya angin kencang yang terus menyapu wajah berkerut Lilis.
“Kami tidak punya salah pada siapapun, tapi kenapa kalian mengganggu ketenangan keluarga kami?” Lilis berharap orang misterius itu mendengar apa yang ia katakan.
“Tolong, jangan mengusik! Karena kami juga tidak pernah iseng pada siapapun.” ketika Lilis akan jendela ia kembali melihat siluet dari pohon besar yang tak jauh dari jendelan? kamarnya.
“Hei! Kau jangan cuma berani menakuti anak-anak!! Kesini sekarang juga! katakan pada ku apa maksud mu yang sebenarnya! Kami akan menyambut mu dengan baik asal kau datang dari pintu depan!” suara Lilis yang sangat keras dapat di dengan oleh Wahyu yang masih berjaga di luar. Kemudian Wahyu pun mendatangi istrinya.
“Dimana orang itu?” tanya Wahyu yang berdiri di balik jendela.
“Dia pergi ke dalam hutan, sudah jangan di kejar lagi, aku takut itu jebakan mas, orang zaman sekarang tak pernah berpikir dua kali untuk melakukan kejahatan, aku sendiri Lebih takut pada manusia dari pada setan, hati manusia itu penuh misteri dan susah di mengerti,” terang Lilis.
__ADS_1
“Kau benar, tapi kalau orang itu di biarkan lolos, pasti dia akan datang lagi,” ucap Wahyu.
“Kalau memang dia berbuat begitu, kita akan menghajarnya bersama-sama,” ujar Lilis.
“Oke, aku akan mendengarkan mu kali itu, tapi tidak untuk besok!” tatapan penuh amarah dari Wahyu membuat Lilis ketakutan.
Jangan sampai dia membunuh orang karena emosinya, batin Lilis.
***
Pada pukul 03:00 dini hari, Kenisha bangun dari tidurnya, lalu ia pun menatap wajah tampan David yang begitu mempesona meski saat tidur.
Dirinya yang tak mengenakan apapun dalam selimut yang ia pakai bersama David menjadi malu sendiri.
Tanda sadar aku terlelap karena kelelahan, pada hal tadinya aku mau mandi dulu sebelum tidur, batin Kenisha.
Lalu Kenisha miring ke kanan yang artinya membelakangi suaminya.
Apa aku mandi sekarang saja? batin Kenisha.
Saat ia akan keluar dari selimut, tangan bidang David malah memeluk dirinya dari belakang
“Masih dingin, nanti kau masuk angin.” ucap David dengan mata tertutup.
“Tapi rasanya tidak nyaman, mas.” Kenisha yang tetap ingin pergi melepaskan pelukan David.
”Jangan nakal, sekarang saja sudah sedingin es, bagaimana kalau air itu mengguyur tubuh mu?” lalu David memutar badan Kenisha jadi menghadap dirinya.
Setelah itu David mengecup bibir manis Kenisha yang baru bangun.
“Nanti saja kita mandi bersama,” ucap David.
Lalu Kenisha membelai wajah David yang nyaris sempurna.
“Kau sangat tampan, mas.” lalu Kenisha mengajak hidung mancung suaminya.
“Apa kau baru sadar?” David merasa biasa karena ia biasa mendapat pujian dari lawan jenisnya.
“Tapi sayang, barang obral!” ucap Lyra.
“Tolong jangan merusak suasana, aku tidak ingin bertengkar sekarang.” lalu David memeluk erat Kenisha.
“Aku ingin punya anak dengan mu, apa setelah aku melahirkan bayi-bayi yang lucu kau masih akan mencari wanita lain?”
“Perlu ku luruskan sedikit, pada kenyataannya, wanitalah yang terus mengejar ku, mereka yang meminta dekat dan ingin ku nikahi, kau termasuk beruntung karena aku yang melamar mu, karena itu aku menyatakan kau spesial.” David memuji Kenisha dengan caranya.
“Kau juga istimewa, karena itu aku sekarang merendahkan hati dan memohon agar tak ada main hati di antara kita, apa lagi kau tak ingin bercerai, hanya itu harapan ku.” setelah mengatakan keinginannya, Kenisha pun kembali memejamkan matanya.
__ADS_1