Terpaksa Menikahi Perjaka Tua

Terpaksa Menikahi Perjaka Tua
Jujur


__ADS_3

“Selamat pagi juga, maaf bisakah kau membuatkan ku teh jahe hangat?” pinta Max yang ingin meredakan mabuk dan pusing di kepalanya.


“Baik tuan.” Winda yang bersemangat langsung mengerjakan permintaan Max.


Kemudian Max yang ingin mandi bergegas ke kamarnya.


Sesampainya Max di kamar, ia pun memikirkan semua yang telah ia lakukan pada Ruby.


“Bodoh! Harusnya aku tidak mabuk tadi malam, akhirnya jadi begini, bagaimana kalau dia benar-benar hamil, mana mungkin aku menikahi dia saat hatiku ada pada Winda.” Max benar-benar bingung dan juga resah akan semua masalah yang datang menghampirinya.


“Kenapa semua penderitaan ini harus aku yang merasakannya? Sementara pembunuh ibu ku hidup tenang tanpa merasa bersalah sedikitpun, kenapa hukum alam dan Tuhan begitu kejam pada ku? Atau memang seorang perebut suami orang pantas di bunuh?” Max yang kecewa tak dapat memikirkan apapun lagi.


Ia yang merasa kotor segera melepas seluruh pakaiannya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sementara Winda yang ada di dapur merasa senang karena sikap Max kembali seperti semula padanya.


“Pasti tuan belum makan, sebaiknya aku siapkan sarapan bubur untuknya.” Winda pun menunjukkan perhatiannya karena ia ingin memperbaiki hubungan mereka berdua.


Setelah bekerja keras menyiapkan amunisi penuh cinta, Winda pun bergegas menuju kamar Max.


Sesampainya Winda, ia mengetuk pintu terlebih dahulu.


Tok tok tok!


“Permisi tuan, saya datang mengantar sarapan,” ucap Winda.


“Masuklah.” titah Max yang kebetulan baru selesai mandi.


Winda pun memutar handle pintu dan perlahan kakinya melangkah maju ke dalam kamar.


“Ah, maaf tuan.” Winda menundukkan kepalanya karena tak sengaja melihat Max dengan keadaan memakai celana d*alam dan juga bertelanjang dada.


“Letakkan di atas meja saja,” titah Max.


“Baik tuan.” Winda yang merasa deg degan dan juga panas dingin ingin segera keluar dari kamar itu.


Ia pun cepat-cepat meletakkan sarapan sang majikan ke atas meja, setalah itu Winda balik kanan.


“Winda, apa aku boleh minta bantuan pada mu?” tanya Max.


“Tentu saja tuan.” Winda pun menganggukkan kepalanya.


“Aku ingin kau menyuapi ku makan.” permintaan Max semakin membuat jantung Winda berdebar kencang.


“Bo-boleh, aku akan melakukannya setelah tuan selesai berpakaian,” ucap Winda.

__ADS_1


“Tapi aku sangat lapar.” entah apa yang Max pikirkan pagi itu, dirinya yang biasa bersikap sopan kini malah berani nakal.


“Kalau begitu tuan harus lebih cepat memakai baju, aku tunggu di luar, setelah selesai baru tuan memanggil ku.” Winda yang ingin menghindari masalah buru-buru keluar dari kamar Max.


Max yang di tinggal pun tertawa getir, ia hanya bisa geleng-geleng kepala.


“Ini yang aku suka darimu, kau adalah wanita yang suci, apa setelah mengetahui keburukan ku kau masih mau menjalin hubungan dengan ku?” Max berniat menceritakan apa yang terjadi pada Winda.


“Tapi, haruskah aku mengatakannya? Bagaimana kalau dia menjadi ilfil pada ku dan tak mau bicara dengan kau lagi?” Max yang kacau semakin berantakan.


Suasana hatinya kembali suram dan tak bersemangat.


5 menit kemudian, Max yang telah rapi memanggil Winda untuk masuk kembali.


“Winda, apa kau masih disana?”


“Iya tuan.” kemudian Winda masuk dan menatap wajah Max yang terlihat banyak masalah.


“Apa ada yang ingin tuan bicarakan dengan ku?” Winda yang peka tahu jika majikannya ingin menyampaikan sesuatu padanya.


“Iya, aku akan cerita kalau sudah kenyang," ucap Max.


“Baiklah.” kemudian minta duduk di sofa yang ada di sebelah meja.


“Baiklah.” lalu Max duduk di kursi Yanga dan di sisi kanan meja.


***


Setelah selesai sarapan David beserta keluarga istrinya duduk bersama di ruang tamu.


Kenisha yang ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi langsung membuka topik obrolan.


“Ibu, ayah, apa ada yang ingin kalian katakan pada ku?” ucap Kenisha.


“Kami mencintai mu nak,” jawab Wahyu.


“Aku sudah tahu itu dari dulu, yang ku maksud, apa ada yang kalian sembunyikan? Atau kejadian yang belum kalian katakan pada ku?”


“Tidak nak.” Lilis geleng-geleng kepala.


“Apa kalian tidak pernah melihat ada penguntit yang mengawasi rumah ini?” ucap David.


“Apa?” Wahyu terkejut karena menantunya tahu apa yang mereka sembunyikan.


“Jujur saja aku juga melihat orang itu, hanya saja wajahnya kurang jelas,” ucap Kenisha.

__ADS_1


“Ya Tuhan, orang misterius itu benar-benar meresahkan.” Wahyu mengepal tangan kanannya dengan sangat kuat.


“Ayah, apa yang orang itu inginkan?” tanya Kenisha.


“Ayah juga tidak tahu, dia bahkan berani meneror dan mengganggu adik mu Rohima,” ucap Wahyu.


“Apa mungkin itu, Leo?” Kenisha mengutarakan kecurigaannya.


Mendengar putrinya mengungkit nama Leo sontak mata Lilis dan Wahyu membulat sempurna.


“Siapa lagi itu? Apa dia mantan mu?” tanya David.


Astaga, apa yang di pikirkan anak ini? Apa dia akan membongkar semuanya? batin Wahyu.


“Iya.” jawaban Kenisha hampir saja membuat Lilis dan Wahyu pingsan.


“Oh, ceritanya dia tidak bisa move on, begitu?” David tersenyum geli dan menatap tajam pada Lyra.


“Kalau sebatas itu masih wajar, mas.” Kenisha yang terlihat ingin mengungkapkan kebenaran membuat Lilis dan Wahyu menjadi ketar-ketir.


Mereka takut jika David marah dan mengambil semua apa yang telah mereka miliki saat itu.


“Iya, aku juga punya mantan yang sama gilanya, jadi aku memaklumi itu semua.” David tertawa seraya menganggukkan kepalanya.


“Karena tak ingin di tinggal Leo bunuh diri di hadapan ku, ibu dan juga kedua adik ku.” kejujuran kerjasama buat David diam seribu bahasa.


Ia hanya dapat menatap istri, kedua mertua dan adiknya secara bergantian sebelum membuka mulutnya kembali.


“Bunuh diri atau di bunuh?” tanya David seraya menegakkan posisi duduknya.


“Dia yang melakukannya sendiri, Leo tidak terima jika aku menikah dengan orang lain, karena ulahnya kami jadi repot, bahkan kami menyembunyikan mayatnya di tanah merah belakang,” ucap Lyra.


“Apa? Kenapa tidak meyerahkan pada keluarganya atau melapor pada polisi? Jika memang tidak bersuara harusnya kalian tidak perlu takut pada siapapun.” David merasa janggal dengan keterangan istrinya.


“Orang-orang di desa sangat rasis pada orang miskin, mereka sangat tidak menyukai kami, tentu saja mereka akan menyalahkan kami sekeluarga atas meninggalnya Leo, belum lagi saat itu, sopir utusan mu tiba-tiba datang, kalau kami jujur apa kau masih mau menikahi ku, mas?” tanya Kenisha.


“Tentu saja, karena itu bukan salah mu,” ucap David.


“Bohong, sekarang saja kau ragu, apa lagi saat kau tahu di waktu kejadian, sudah jelas pernikahan kita akan batal.” Kenisha yang terus terang membuat kedua orang tuanya pusing dan takut David akan mengamuk.


“Aku bukan orang yang suka memvonis tanpa bukti, aku juga orang yang mengutamakan fakta daripada berita yang mencuat tanpa bukti akurat, jika kau terbukti bersih, kenapa aku harus meninggalkan mu?” David tersenyum pada Kenisha.


Hal itu tentu di anggap aneh oleh Kenisha dan keluarganya.


Bagaimana bisa dia senang itu? batin Kenisha.

__ADS_1


__ADS_2