
“Kenisha, apa yang kau lakukan? Apa kau tidak kasihan padanya? Ruby sedang sakit, jadi sepantasnya kita untuk membantunya.” David tidak setuju dengan perbuatan tidak terpuji istrinya.
“Kalau mau, antar saja sendiri, aku akan pulang!” Kenisha yang merajuk meninggalkan suaminya.
“Kau mau kemana Kenisha?!” David yang ingin berbuat baik malah terhalang oleh istrinya.
“Apa kau akan meninggalkan aku?” wajah Ruby yang terus menampilkan kesakitan membuat David bimbang untuk mengejar istrinya yang kembali ke Villa.
“Tunggu sebentar aku membujuknya dulu,” ucap David.
“Dia adalah istri mu, memangnya apa yang bisa ia perbuat selain diam pada mu kalau sedang marah?” Ruby terus berupaya agar David lebih memilihnya.
“Kau benar, tapi saat ini aku sedang menghindari pertengkaran,” ucap David.
“Baiklah, aku mengerti, tapi apa kau bisa mengantar ku ke villa atau ke gedung resepsionis? Setelah itu baru kau menemui istri mu, tolong Vid, aku benar-benar kesulitan untuk berjalan.” Ruby yang memohon akhirnya membuat David luluh.
David pun menggendong Ruby ala bridal style menuju gedung resepsionis untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
“Terimakasih, aku sangat rindu kehangatan ini.” Ruby pun meletakkan kepalanya ke dada bidang David.
Sedang Kenisha yang berjalan ke Villa menoleh ke arah belakang.
“Dia benar-benar tidak mengejar ku? Apa itu artinya dia lebih mementingkan perempuan tua nakal itu?” Kenisha merasa kesal karena suaminya lebih menjaga perasaan wanita lain di bandingkan dirinya.
“Baiklah, aku akan benar-benar pulang.” sesampainya di villa Kenisha menyusun 2 baju yang sempat ia pakai namun belum di cuci.
Setelah itu ia mencari uang dari koper suaminya sebagai ongkos pulang.
“Bodoh, aku sempat salah sangka kalau dia bisa berubah, tapi mana mungkin secepat itu,” gumam Kenisha.
***
Sesampainya di gedung resepsionis, David menurunkan Ruby yang ia gendong.
__ADS_1
“Kau bisa pergi sekarang, terimakasih banyak.” Ruby meminta demikian karena ia tak ingin kebohongan terbongkar.
“Apa ada yang bisa saya bantu pak, David?” ucap sang resepsionis yang datang menghampiri mereka.
“Iya, apa disini ada tukang urut?” tanya David.
“Oh, saya bisa pak, apa bu Ruby sedang terkilir?” tanya sang resepsionis.
Mengetahui keahlian sang resepsionis membuat Ruby jadi panik.
Gawat! kalau ketahuan David bisa marah pada ku, batin Ruby.
“Iya, tadi katanya dia jatuh,” jawab David.
“Itu benar.” timpal Ruby dengan tersenyum kaku.
“Oh ya, pasti istri mu menunggu kau kembali, sana pergi, aku tak mau kalian bertengkar karena aku!” Ruby menepuk punggung David.
David yang merasa tanggung memberi bantuan malah memilih untuk menemani Ruby.
David yang ingin menetapkan membuat Ruby pusing.
“Ayo bu, duduk dulu.” sang resepsionis dan David pembantu Ruby untuk duduk di atas sofa.
Kemudian sang resepsionis meminta minyak terapi pada rekannya.
Setelah itu sang resepsionis mulai memijat area pergelangan kaki Ruby.
“Aduh sakit!” Ruby pura-pura meringis agar David percaya padanya.
“Maaf ya bu.” sama resepsionis terus memijat kaki Ruby sampai hampir 2 menit.
“Kaki ibu baik-baik saja kok, tidak ada kejepit urat atau pergeseran tulang kaki,” ucap sang resepsionis.
__ADS_1
Mendengar hal itu membuat David sadar kalau Ruby telah mengelabuinya.
Ia pun tiba-tiba ingat dengan istri yang telah ia abaikan peringatannya.
Astaga! Bisa repot kalau seperti ini, batin David.
David yang kesal pada diri sendiri memilih pergi tanpa pamit pada Ruby.
Hal itu sontak membuat Ruby merasa ketar-ketir.
Ia juga takut kalau David tidak bertemu dengannya lagi.
Aku harus meminta maaf padanya, batin Ruby.
“Terimakasih banyak.” ucap Ruby, lalu ia bangkit dari duduknya.
“Saya permisi dulu.” lalu Ruby lari menyusul David.
David yang berjalan terlebih dahulu ternyata dapat di susul oleh Ruby.
“David, tunggu!” kemudian Ruby menggenggam erat tangan David.
“Kau pembohong, dari dulu tidak pernah berubah, pada hal aku percaya pada mu!” lalu David menghempaskan tangan Ruby darinya
“Maaf, aku salah, ini semua ku lakukan karena aku ingin mendapat perhatian mu yang dulu, aku benci saat kau berubah karenanya! Kau juga mengabaikan aku, tolong! tunggakan dia! Aku kita bersama lagi!” teriak Ruby.
Ruby yang tanpa sengaja melihat Ruby datang pun mengambil kesempatan.
“Terimakasih banyak.” lalu Ruby memeluk dan mengecup lekat leher David.
Kenisha yang menyaksikan itu memutar mata malas.
Lalu ia berjalan dengan tenang ke arah keduanya
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan? Kita sudah putus, harusnya kau sadar itu!” David yang akan marah lebih lanjut tanpa sengaja melihat istrinya yang kini ada di sebelah mereka.