Terpaksa Menikahi Perjaka Tua

Terpaksa Menikahi Perjaka Tua
Air Terjun


__ADS_3

“Ya sudah, kalau begitu kami pergi mandi dulu yah.” setelah pamit David melangkahkan kakinya.


“Kami hanya sebentar,” ucap Kenisha.


“Iya, jangan lupa untuk hati-hati, jaga nak David Kenisha, ayah takut ada binatang yang akan menggigit nak David.” Wahyu merasa tak tenang melepas membatu kayanya untuk mandi di air terjun.


“Iya ayah!” Lyra tersenyumlah mengangkat jempol kanannya ke atas.


“Gawat, apa sebenarnya David sudah tahu soal Leo? Tapi kenapa dia diam saja kalau itu benar? Sudah jelas para pekerjaan menemukan mayat Leo, secara seluruh area rumah sampai belakang sudah bersih.” Wahyu yakin kalau menantunya hanya pura-pura tak tahu soal keadaan yang sebenarnya.


“Ada apa mas? Kenapa wajah mu tegang begitu?” tanya Lilis yang baru datang dari dalam rumah membawa secangkir kopi untuk suaminya.


“Kata David dia sudah membeli seluruh tanah yang di sini termasuk tanah merah yang di belakang, apa menurut mu masuk akal kalau dia tidak tahu soal Leo?” ucap Wahyu.


“Kau benar mas, tidak mungkin dia diam saja karena sangat mencintai putri kita, pasti ada alasan besar yang ia sembunyikan.” Lilis yakin kalau menantunya bukan orang kaya biasa pada umumnya.


“Apa maksud mu?” tanya Wahyu untuk memperjelas ucapan istrinya.


“Jangan-jangan David sudah sering membunuh orang, makanya dia biasa saja saat mengetahui ada mayat di sekitar rumah kita, kalau tidak sudah jelas dia koar-koar meminta kejelasan dari kita,” terang Lilis.


“Masuk akal, wah! Kita harus bagaimana? Kalau yang kau katakan benar, apa putri kita aman bersamanya? Aku takut kalau salah sedikit David akan menghabisinya.” Wahyu menjadi khawatir akan keselamatan putrinya.


“Nanti kita tanya pada Kenisha apa dia baik-baik saja,” ucap Lilis.


“Oke.” Wahyu pun duduk di atas tikar yang ada di bawah pohon, lalu ia menyeruput kopi buatan istrinya.


***


David yang tak biasa berjalan di atas tanah liat pun merasa kesulitan untuk melangkah, apa lagi tanah di sana masih basah akan hujan yang datang kemarin sore.


“Kenapa lambat? Cepat sedikit jalannya.” ucap Kenisha yang berdiri di belakang David.


“Apa kau tidak lihat tanah ini menyedot sendal jepit yang ku pakai?” ucap David.


“Namanya jalan setapak, lagi pula tadi ku sudah ku bilang kita tidak usah mandi disini,” ujar Kenisha.


“Aku tidak tahu kalau ingin ke air terjun membutuhkan perjuangan ekstra.” David yang yang melangkah pun harus kecewa saat tali sendal jepit yang ia tarik paksa dari tanah malah putus.


“Astaga!” David pun menepuk keningnya karena kesal.

__ADS_1


“Hem, lagi pula kau yang payah mas, kalau sendal lengket ketanah, harusnya goyang-goyang kaki mu sampai sendal mu agak terangkat sedikit, ini malah tidak ada kesabaran,” ucap Kenisha.


“Aku tidak punya pengalaman sebelumnya Kenisha, memangnya di rumah ku ada sendal yang seperti ini?” tanya David.


“Iya, di halaman rumah mu jalannya aspal semuakan mas?” ucap Kenisha.


“Benar juga.”


“Apa?” tanya Kenisha.


“Setelah aku membeli tanah ini, aku akan membuat jalan aspal agar tidak kesulitan datang kesini sekali lagi,” jawab David.


“Enggak usah mas, kalau mas melakukan itu keindahan alamnya akan berkurang,” ucap Kenisha.


“Siapa bilang? Aku tidak ada rencana untuk menebang pohon, yang ingin ku lakukan hanya membuat jalan aspal dan membersihkan rumput-rumput liar yang ada disini, kalau semak belukarnya setinggi orang dewasa menurut mu apa saja yang ada di dalamnya? Apa kau tidak takut saat berendam di air terjun ada ular yang menyelam di dalam air?” David pun menjelaskan kemungkinan buruk yang akan terjadi jika tempat itu tidak di rawat dengan baik.


“Ya sudah, terserah mas saja.” Kenisha akhirnya setuju karena ia sendiri tidak mau adik-adiknya yang sering mandi disana kena bahaya.


“Oke.” David menganggukkan kepalanya.


Kenisha yang melihat suaminya berjalan bagai siput akhirnya menawarkan bantuan.


“Ayo ku gendong mas.” ucap Kenisha yang maju ke depan David.


“Ayo!” Kenisha yang biasa angkat berat merasa yakin kalau dapat membawa suaminya sampai ke tujuan.


“Baiklah!” David yang tak ingin lelah berjuang menerima tawaran istrinya.


Kemudian Kenisha membungkukkan badannya lalu David melingkarkan kedua tangannya di leher Kenisha.


“Ya ampun, kau berat sekali mas!” Kenisha menggoda suaminya.


“Apa iya? Bukannya sudah sesuai dengan tinggi badan ku?” David merasa berat badannya sudah ideal.


“Iya, tapi aku kesulitan untuk mengangkat mu.” ucap Kenisha yang mulai berjalan membawa beban luar biasa di punggungnya.


“Kalau begitu aku turun saja,” ucap David.


“Jangan! Tadi aku hanya bercanda, hehehe.” Kenisha tertawa cengengesan pada suaminya.

__ADS_1


“Dasar!” David pun mencubit hidung istrinya.


Kenisha yang pantang menyerah pun akhirnya berhasil membawa suaminya sampai dengan selamat ke tujuan.


“Wah, benar-benar indah.” David pun berdecak kagum melihat pemandangan air terjun dan area sekitar yang di tumbuhi rumput hijau dan bunga-bunga indah dengan berbagai warna.


“Makanya aku tidak ingin di bersihkan, sudah jelas orang yang lewat akan melihat ini semua, mas tahu sendirikan kalau banyak orang yang lalu lalang atau beraktivitas disini, maka air terjun ini akan banyak sampah, bunga-bunganya juga pasti akan di petik,” ucap Kenisha.


“Kau benar juga, tapi kalau sudah milik sendiri, kita bisa membuat peraturan bagi orang yang datang berkunjung, keluarga mu juga bisa jualan di dekat air terjun, dari pada kerja serabutan dengan orang lain, lebih baik buka usaha sendirikan?” ujar David.


“Iya, ya!” kali itu Kenisha setuju dengan apa yang dikatakan Virgo.


“Nah! Nanti di depan kita akan buat gerbang, di samping kiri kanan jalan di hiasi bunga, pasti orang-orang akan suka dan itu menarik minat wisawatan untuk berkunjung,” ucap David.


“Iya mas.”


“Area datar di air terjun ini kan luas, nanti kita bisa membangun atau kalau kau takut merusak keasriannya, kita sewa tenda saja pada pengunjung yang ingin menginap.” David si pengusaha sukses pun melihat peluang bisnis di tempat itu.


“Oke, kalau yang itu aku setuju, tapi jalan aspal jangan sampai kesini,” ucap Kenisha.


“Aman, aku sudah memperhitungkan segalanya.” David mengangkat jempolnya ke atas.


“Wah! Ternyata suami ku pintar banget ya!” Kenisha yang usil pun tersenyum penuh makna lalu ia dengan cepat mendorong tubuh suaminya hingga terjatuh ke air yang dingin bagai es.


Byur!!


“Hei! Aku tidak berencana mandi pakai baju lengkap ya!” David marah karena ia terkejut.


“Biasa saja mas, lagi pula di larang mandi telanjang disini,” ucap Kenisha.


“Mana mungkin aku bugil disini, apa kau tahu kalau handphone ku jadi basah karena mu?!” pekik David.


“Apa? Mas membawa handphone?” seketika Kenisha merasa bersalah karena ia tahu barang itu sangat penting untuk suaminya.


“Iya! Cepat bantu aku naik?! Aku ingin segera mengeringkannya, disini banyak file dan juga nomor-nomor orang penting,” ucap David.


“I-iya mas.” Kenisha yang takut karena berbuat salah pun mengulurkan tangannya.


Kemudian David memegang tangan istrinya dengan kuat.

__ADS_1


Alih-alih ingin naik, dirinya malah menarik istrinya untuk masuk ke dalam air.


“Aakkkk!!” Kenisha berteriak dengan sangat kencang.


__ADS_2