
Sontak David menutup matanya sejenak karena ia pun mengerti akan tujuan Ruby yang sebenarnya.
“Apa kau akan pulang sekarang?” tanya David.
“Iya, maaf kalau aku sudah mengganggu waktu kalian berdua.” Kenisha tersenyum lalu ia mencoba melintas dari hadapan suaminya.
“Kalau begitu kita pulang bersama,” ucap David.
“Memangnya urusan kalian sudah selesai?” tanya Kenisha dengan tenang tanpa memperlihatkan amarah di wajahnya.
“Iya,” jawab David.
“Belum,” sahut Luna.
“Begitu ya? Hem...” Kenisha pun menatap wajah suaminya lalu ia berkata.
“Aku tidak akan menunggu mu, ku rasa bu Ruby juga lebih membutuhkan bantuan mu, jadi aku pulang sendiri saja.” Kenisha sengaja berkata demikian karena ia ingin membuktikan pada Ruby kalau suaminya akan tetap memilihnya.
“Jangan banyak bicara, ayo pulang bersamanya, mana mungkin kau pergi sendiri tanpa aku.” kemudian David menggenggam tangan Kenisha.
“Baiklah, tapi aku malas kembali ke Villa, bagaimana kalau aku menunggu di sini sambil menemani bu, Ruby? Pasti dia kesepian apalagi kakinya masih sakit,” ucap Kenisha.
David tahu meninggalkan keduanya wanita itu akan menimbulkan pertengkaran.
“Baiklah.” namun dirinya membiarkan begitu saja karena ia merasa keduanya perlu bicara satu sama lain.
__ADS_1
“Aku hanya sebentar.” kemudian David beranjak menuju villa.
Ketika Kenisha dan Ruby tinggal berdua Kenisha menetap tajam mantan suaminya.
“Pada hal aku sudah memberi kesempatan padamu, tapi sepertinya kau kurang beruntung, karena suami ku tetap ingin bersama ku, apa sampai di sini kau belum menyerah juga by, Ruby?” ucap Kenisha.
“Jangan sombong, kau hanyalah pelampiasan semata,” balas Ruby.
“Yang namanya pelampiasan itu di pakai tapi tidak di halalkan, aku tidak pernah mengenal mas David sebelumnya, tapi dia yang datang melamar langsung ke rumah ku, dia yang mengatur segala hal tentang akad dan resepsi, dia juga ingin kami buru-buru menikah, bukti cinta yang sesungguhnya itu adalah mengikat janji suci kepada yang maha kuasa.” Kenisha membungkam mulut Ruby.
“Hahaha... dia melakukannya karena merasa putus asa, itu semua di sebabkan aku yang meninggalkannya saat itu, kemarin saja dia sempat setuju kalau kami akan bersama lagi, bahkan kami hampir begituan, hanya saja aku menahan diri karena aku iba pada mu, bukankah saat itu malam pertama kalian.” Ruby pun memanas-manasi Kenisha.
“Andaikan kalian bener-bener berhubungan haram, aku sama sekali tidak rugi apapun, akan aku simpulkan kalau kau yang menawarkan diri, karena aku juga mendengar kau meneleponnya, yang namanya laki-laki, perempuannya jual mahal bahkan pakaian tertutup rapat pun akan di serobot kalau memang dia ingin, apalagi yang seperti dirimu, sudah main obral tapi tetap di tinggalkan, ku rasa yang suami ku rasakan sekarang itu adalah prihatin, meski pun menolak kau terus menyodorkan diri.” Kenisha membuat Ruby malu sampai ke ubun-ubun kepala.
“Baiklah, aku akan mengingat semua yang kau katakan, hanya saja... sebagai sesama wanita aku merasa kasihan dengan keadaan mu, padahal kau lumayan cantik, meskipun usia mu sudah tidak muda lagi, ku rasa masih banyak laki-laki baik yang mau menerima dirimu apa adanya.” kata-kata kasar Kenisha yang menyinggung soal umur membuat Ruby naik pitam.
Plak!
Dengan kesadaran penuh Ruby menampar pipi kanan Kenisha. David yang baru tiba pun menyaksikan hal itu.
“Apa yang kau lakukan, Ruby?!” David mendorong Ruby dari hadapan Kenisha.
“Dia yang mulai duluan, dia bilang aku tua dan tidak laku-laku, dia juga mengasihani aku dan merendahkan aku!” Ruby yang salah masih bisa membela diri dan juga melebih-lebihkan cerita.
“Meski pun kau benar, tapi tindakan main tangan tidak bisa di anggap wajar untuk membalas kekejaman mulut seseorang! Kau itu perempuan, selayaknya harus bersikap anggun, bukan malah seperti preman!” kemudian David memeluk Kenisha yang pipinya.
__ADS_1
Bukankah kaubdan dia sama saja? batin Kenisha.
“Pasti sakit.” perhatian yang David tunjukkan membuat hati Ruby terkoyak.
Ia yang merasa sakit hati memilih untuk pergi meninggalkan keduanya.
“Kenapa kau harus bertengkar dengannya?” tanya David seraya mengelus dan mengecup bekas tamparan Ruby.
“Bukannya mas senang jadi rebutan?” ucap Kenisha.
“Siapa bilang?” David jelas menyangkal apa yang di katakan Kenisha.
“Sikap mu yang tidak tegas dan terkesan memberi harapan pada semua orang adalah bukti dari apa yang aku katakan, pernikahan itu sakral mas, bukan seperti pacaran yang bebas selingkuh dan putus nyambung sesuka hati, kalau sudah memilih ku untuk apa melirik wanita lain?” ucap Kenisha.
“Maaf, kalau kesalahan ku sudah menyakiti mu.”
“Aku tidak butuh kata maaf, tindakan dan pembuktian adalah yang paling penting, ingat mas, kau bukan laki-laki lajang lagi, kalau Allah mengizinkan mungkin kita juga akan memiliki anak, itu juga kalau umur pernikahan kita panjang,” ujar Kenisha.
Kenisha benar juga, batin David.
“Aku mengerti, apa kita bisa pulang sekarang atau kembali ke Villa?” tanya David.
“Pulang, tapi aku mau ke rumah orang tua ku,” ucap Kenisha.
“Apa?” David terkejut dengan permintaan Kenisha.
__ADS_1