Terpaksa Menikahi Perjaka Tua

Terpaksa Menikahi Perjaka Tua
Perkara Cabai


__ADS_3

“Apa kau sudah gila?” David tak menyangka jika Ruby ingin melanjutkan pernikahan mereka yang telah batal beberapa tahun yang lalu.


“Aku serius, kau tidak perlu menceraikannya cukup tambahkan aku di hatimu saja, aku hanya ingin status,” ucap Ruby.


“Aku tidak bisa, kau jangan mengada-ngada, apa ada lagi yang ingin kau katakan? Kalau tidak aku akan pulang.” David pun berniat bangkit dari duduknya.


“Pikirkan baik-baik, aku akan menunggu jawaban terbaik mu.” kemudian Ruby menggenggam tangan David.


“Vid, aku menyesal telah menggugurkan calon bayi kita, sampai sekarang aku belum bisa memaafkan kesalahan yang telah ku perbuat.” Ruby pun menundukkan kepalanya.


Seolah ia bersedih atas keputusan yang ia ambil di masa lalu.


“Jangan di ingat lagi, itu kemauan mu sendiri.” kemudian David bangkit dari duduknya.


“Jika ingin melakukan sesatu di pikir dulu efek kedepannya, jangan gegabah mengambil keputusan kalau tidak kau akan menyesal seperti sekarang. Ruby, berbagi hati itu sangat berat, aku takut kau tidak kuat, apa lagi status mu hanya simpanan, apa kau bisa menahan emosi mu? Karena sudah jelas kau bukan prioritas utama ku,” ucap David.


“Aku bisa, karena hadir mu itulah yang selalu ku inginkan.” lagi-lagi Ruby bertindak tanpa memikirkan resiko di masa mendatang.


“Terserah ” kemudian David meninggalkan Ruby di kafe itu sendirian.


“Aku pasti bisa menjadi nyonya Western, aku akan menarik seluruh perhatian mu, aku akan buat kau lupa pada istri pertama mu, saat aku telah berhasil mengandung benih mu, maka perempuan itu akan ku tendang, hanya aku yang boleh menjadi pendamping hidup mu,” gumam Ruby.


***


Kenisha yang sedang menggarap tanah dengan garpu kecil mengambi biji cabai yang telah ia persiapkan dalam wadah kecil warna kuning.


“Kita tidak tahu kapan harga cabe akan naik, karena itu harus sedia payung sebelum hujan.” Kenisha yang biasa bertani merasa senang melakukan kegiatan bercocok tanam di kebun belakang milik suaminya.


“Kau sedang apa?”


“Menanam cabai.” lalu Kenisha menolehkan ke sumber suara yang ada di belakangnya.


“Kau siapa?” tanya Kenisha pada pria tampan bertubuh semampai yang ada di hadapannya.


“Aku Max, adiknya pemilik rumah ini.” Max pun mengulurkan tangannya pada Kenisha.


“Benarkah?” seketika Kenisha bangkit dari jongkoknya lalu ia membersihkan tangannya yang kena tanah dengan gaunnya.


Sontak hal itu membuat Max tertawa kecil pasalnya Kenisha terlihat tidak menyayangi baju dengan harga belasan jutanya.


“Aku Kenisha, istri mas David ” lalu Kenisha tersenyum pada Max.


“Oh, ternyata kau orangnya.” Max mengangguk penuh makna.


“Iya, maaf kalau aku tidak mengenal mu sebelumnya.” Kenisha tersenyum canggung.


“Aku juga minta maaf karena tidak tahu kalau kau adalah kakak ipar ku.” Max yang ramah dan juga bersahabat membuat Kenisha senang.


“Boleh aku membantu mu?” tanya Max seraya berjongkok di hadapan tanah yang telah di garap oleh Kenisha.

__ADS_1


“Tidak usah, nanti tangan mu kotor.” Kenisha melarang karena ia merasa janggal bersebelahan dengan adik iparnya yang terlihat lebih tua darinya.


“Tidak apa-apa, saat ini aku kuliah di Swiss, aku juga menyewa rumah dengan tanah yang luas disana, dan si sekitar tempat tinggal ku banyak orang bertani, jadi aku juga ikut-ikutan, aku menanam cabai, tomat, bawang panjang, seledri, strawberry, kentang dan juga jambu, aku sudah sering panen loh!” Max begitu bangga dengan apa yang ia lakukan.


“Hebat! Dari dulu aku sangat ingin ke Swiss, padahal aku hanya sekali melihat negara itu di televisi, saat itu aku melihat tempat yang banyak rumput hijau di antara pegunungan yang juga ada air terjunnya, mungkin kalau memelihara kambing disana bisa sehat dan gemuk.” Kenisha pun mengatakan impian dalam angannya pada Max.


“Kapan pun kau bisa kesana, kau hanya perlu minta izin pada mas David, nanti kau tinggal di rumah ku, tenang saja! Di kontrakan hanya ada aku, aku juga tidak pernah membawa teman karena aku tidak suka beramai-ramai, apa kau mau ikut kalau aku pulang?” tanya Max.


“Ah hahaha... kalau memang pergi aku pasti berangkat dengan mas David.” Kenisha merasa canggung dengan ajakan adik iparnya.


“Baiklah, kalau begitu ayo kita lanjutkan menanam cabainya.” Max yang hangat dan juga ramah tamah membuat Kenisha jadi serba salah.


Pasalnya adat daerah ia tinggal tidak membenarkan wanita atau pria yang telah menikah berduaan dengan laki-laki lain.


“Ayo, sini! Apa yang kau tunggu?!” Max menarik tangan Kenisha hingga berjongkok di sebelahnya.


“Lihat ya, aku akan mengajari mu menanam bibit dengan benar!” Max yang bersemangat mulai menggali tanah dengan cangkul kecil milik Kenisha.


Dia sok ramah banget sih, kalau orang sampai salah sangka bagaimana? batin Kenisha.


Kenisha sangat takut jika dirinya menjadi bahan omongan orang lain.


“Kenapa kau melamun? Mau panen cabai enggak?” Max tertawa pada yang terlihat imut saat diam.


“Baiklah.” Kenisha terpaksa menurut karena ia tak tahu cara melarikan diri dari adik iparnya.


***


“Kenisha?” ucap David.


Namun orang yang ia cari ternyata tidak ada disana.


“Kemana dia?” David yang merasa kehilangan langsung mendial nomor istrinya.


Tididing!!


David yang mendengar dering telepon dalam kamar langsung menuju sumber suara.


Lalu David menemukan telepon genggam istrinya yang berada di atas ranjang.


“Di saat semua orang tidak bisa lepas dari barang elektronik ini, dia malah meninggalkannya dengan mudah, apa dia pikir handphone ini tidak penting?” David pun menghela napas panjang.


Lalu ia bergegas keluar kamar untuk bertanya pada art.


Resti yang kebetulan lewat pun di tanyai oleh David.


“Dimana istri ku?”


“Nyonya ada di halaman belakang tuan,” jawab Resti.

__ADS_1


“Sedang apa dia disana?” tanya David dengan penasaran penuh.


“Menggarap tanah tuan, padahal tadi Winda sudah melarangnya tapi nyonya tetap ingin menanam cabai.” Resti memberitahu situasi yang sebenarnya sebelum sang majikan marah pada mereka yang gagal menjaga nyonya rumah.


“Baiklah.” David pun segera menuju halaman belakang melalui pintu masuk dan keluar dapur.


Ceklek!


Saat David membuka pintu, ia pun mengernyitkan dahinya.


“Apa itu, Max?” David yang penasaran pun mendekat.


“Max?” David memanggil nama adik tirinya.


“Mas?” sahut Max seraya menoleh ke arah David yang ada di belakangnya.


Kenisha yang merasa kalau dirinya salah langsung berdiri dan berniat untuk menjabat tangan suaminya.


Namun David yang cinta kebersihan langsung menepis tangan istrinya.


Sikap kasar David membuat Max tercengang sekaligus kasihan pada Kenisha yang terlihat menahan malu.


Pada hal perempuan ini istri pilihannya, tapi kenapa mas David tidak menjaga harga diri istrinya di hadapan ku? batin Max.


“Apa yang kau lakukan disini?” tanya David dengan nada dingin pada Kenisha.


“Aku menanam cabai mas,” jawab Kenisha.


“Apa kau pikir aku miskin? Segunung cabai bisa ku beli kalau kau menginginkannya, apa tidak ada pekerjaan selain bermain dengan tanah?!” David marah pada Kenisha yang seperti memiliki suami yang pelit.


“Aku hanya bosan tanpa melakukan apapun mas, ini hanya hobi, aku suka melihat sayur-sayuran yang tumbuh subur.” Kenisha membela diri agar tidak di marahi suaminya lagi.


“Kalau bosan harusnya pergi ke mall, ke salon atau menonton film ke bioskop bersama Winda! Aku tidak akan marah kalau kau menghabiskan uang, tapi aku akan gusar kalau kau melakukan pekerjaan yang tidak bermanfaat, tinggalkan masa lalu mu yang kelam itu! Sekarang kau sudah menjadi orang kaya.” kata-kata sombong David sangat menyakiti hati kecil Kenisha.


“Maaf kalau aku sudah melukai harga dirimu mas, kau harus maklum kalau istri yang kau nikahi bukan berasal dari orang kaya dan berkelas,” ucap Kenisha.


“Karena itu kau harus merubah sikap mu, jadilah wanita elegan agar kau pantas berada di samping ku,” ujar David.


“Baiklah.” Kenisha yang merasa sesak langsung meninggalkan suami dan adik iparnya tanpa pamit terlebih dahulu.


“Apa yang salah, mas?” Max ikut kesal pada David yang bicara tak memakai perasaan.


“Ini bukan urusan mu, dia adalah istri ku! Lagi pula Kenapa kau datang tanpa memberitahuku terlebih dahulu?” ucap David yang sedikit tak suka pada adik tirinya.


“Kau adalah saudara ku, apa aku harus meminta izin kalau mau datang? Aku ini adik mu satu-satunya, aku bukan orang lain, jadi berhenti bersikap kaku, kita bukan anak-anak lagi, mas.” Max yang kini berusia 28 tahun sudah berani melawan pada David yang selalu memusuhinya sejak pertama kali mereka tinggal satu atap.


David yang menerima kata-kata itu pun memutar mata malas.


“Kau benar, tapi kau bisakan jangan terlalu dekat pada istri ku?” David tak ingin insiden berbagai hati orang tua kembali terlang pada mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2