
"Wah ternyata dia membalas puisiku." kata Zidan membuka bukunya.
"Hah apa-apaan ini dia mengejekku." kata Zidan membaca puisi di bukunya.
#
Zidan kau selalu datang menghampiriku
Seperti lalat yang suka hinggap di makanan
Rasanya ingin kutabok kau dengan sepatula
Sayangnya aku tidak tega melakukannya
Karena kau hanyalah seekor lalat kecil yang kesepian
#
"Hahaha ternyata dia punya selera humor juga." kata zidan merasa bahagia setelah membaca puisi yang Lina tulis.
"Lalat kecil yang kesepian? ya lalat kecil yang kesepian." batin Zidan menggambarkan keadannya.
.....
Di kelas X MIPA 2
Lina dan Nahda sudah duduk di bangku masing-masing.
"Lina!" panggil Nahda
"Iya ada apa?" tanya Lina
"Kemarin Zidan menemuimu untuk apa?" tanya Nahda.
"Seperti biasa, mengerjaiku saja." jawab Lina kesal.
"Ya diakan mencari perhatian kepadamu." kata Nahda.
"Biarkan saja, dia itu sangat menyebalkan." kata Lina masih kesal
"Hihihi kauini sangat lucu." ucap Nahda sambil tertawa melihat tingkah Lina.
"Oh iya Nahda aku sangat penasaran, inisial N itu siapa sih?" tanya Lina
"Iya semua orang pasti penasaran, lagi pula dia pasti punya alasan tertentu untuk merahasiakannya." jawab Nahda
"Hm kira-kira kenapa dia merahasiakannya ya? dasar bodoh kitakan tidak ada hubungan apa-apa." batin Nahda
"Apa mungkin N itu pacarnya?" tanya Lina.
"Mungkin saja." jawab Nahda
"Hai selamat pagi." sapa Fikri baru datang
"Pagi." balas Lina dan Nahda bersama
"Kalian lagi membicarakan apa sih?" tanya Fikri duduk di bangkunya.
"Inisial N." jawab Nahda.
"Ooh, sejak aku memasuki sekolah tadi yang banyak di bicarakan juga itu. Seperti artis yang terjerat kasus saja." kata Fikri heran.
Hari cepat berlalu, kini waktunya untuk menyeleksi para peserta yang mendaftar ikut lomba. Mereka yang mendaftar sudah bersiap di lapangan dengan memakai seragam masing-masing.
"Baiklah para peserta yang mendaftar voli putri silahkan berkumpul di lapangan voli!" kata guru olahraga yang akan menyeleksi peserta voli putri yang bernama Rudi.
"Jadi ada 37 peserta yang akan ikut lomba untuk itu, kalian silahkan membentuk regu." kata Rudi.
"Iya Pak." ucap para peserta voli serentak
Regu voli terdiri dari enam orang, kerena pesertanya 37 orang jadi, terbagi menjadi enam regu dan tersisa satu orang yaitu Nahda.
"Kamu peseta terakhir ya?" tanya Rudi
__ADS_1
"Iya Pak." jawab Nahda
"Ya baiklah bapak akan menilaimu sendiri nanti." kata Rudi.
"Hei kauingin ikut bermain? yang benar saja." tanya Angel mengejek tubuh mungil Nahda.
"Sebaiknya kau pulang saja bermain bola bekel." kata Aurel.
"Hahaha."
"Hei kalian jangan mengejek!" bentak Rudi
"Kamu serius ingin ikut lomba?" tanya Rudi.
"Iya Pak." jawab Nahda
"Baiklah kalau begitu tunjukkan kemampuanmu." kata Rudi
"Iya Pak."
Nahda dan Rudi sudah bersiap di tempat masing-masing.
"Siap ya." kata Rudi bersiap melakukan servis
Rudi melakukan servis atas bola pun melambung ke arah Nahda. Nahda menerima bola itu dengan baik dan mengembalikannya ke Rudi. Rudi menerima bola dari Nahda kemudian melakukan serangan. Nahda sudah bersiap menerima serangan dari Rudi dan mampu menghalaunya, kemudian menyerang balik dan mencetak poin.
"Waaaw luar biasa!" teriak para peserta voli kagum melihat kemampuan Nahda
"Heleh gue juga bisa kalik." kata Angel.
"Lumayan juga tuh anak." kata Aurel.
"Bagus sekali." puji Rudi
Kini giliran Nahda yang melakukan servis, ia melakukan servis bawah bola pun melambung ke arah Rudi. Rudi menerima bola itu melambungkannya ke atas dan langsung melakukan serangan. Lagi-lagi Nahda mampu menghalau serangan dari Rudi. Rudi pun semakin bersemangat untuk melakukan serangan. Mereka mencetak skor sama yaitu 5:5.
"Ayo kalahkan Pak Rudi!" teriak para peserta voli
Ini adalah permainan terakhir, Nahda yang melakukan servis. Bola melambung ke arah Rudi. Rudi mengembalikan bola ke Nahda. Nahda menerima bola kemudian melakukan serangan. Rudi menerima bola tersebut dengan baik kemudian melakukan serangan balik. Nahda menerima bola itu dengan baik kemudian melakukan serangan kembali dan mencetak skor.
"Wah Luar biasa, kecil-kecil cabe rawit rupanya." puji Rudi melihat kemampuan Nahda.
"Terima kasih Pak." ucap Nahda
"Siapa namamu?" tanya Rudi.
"Nahda Pak." jawab Nahda.
"Ya, kaubisa istirahat sekarang." kata Rudi
"Baik Pak."
"Oke kita lanjut, dua regu bersiap di tempat masing-masing." kata Rudi.
Akhirnya acara seleksi itu pun selesai, kini waktunya mengumumkan siapa saja yang akan ikut bertanding nanti.
"Baiklah Bapak akan mengumumkan siapa saja yang akan ikut bertanding." kata Rudi
"Dinda, Angel, Aurel, Cika, Linda, dan yang terakhir Nahda."
"What? kita bakalan satu tim dengan cewek sombong itu, yang benar saja." kata Angel
.....
Di lorong sekolah
"Nahda!" panggil Lina dan Rida.
"Bagaimana?" tanya Rida.
"Aku terpilih untuk ikut bertanding." jawab Nahda.
"Waah selamat ya." ucap Lina
__ADS_1
"Apa sekolah kita akan menang kali ini?" tanya Rida.
"Aku tidak yakin, aku satu tim dengan Kak Angel dan Aurel." jawab Nahda.
"Benarkah, apa mereka bisa di ajak kerja sama?" tanya Rida.
"Iya Nahda, merekakan sangat membenci mu." kata Lina.
"Tidak perlu hawatir, aku bisa mengatasinya." kata Nahda.
"Oh ya, kamu sudah punya rencana?" tanya Rida.
"Tentu saja." jawab Nahda.
"Ya sudah ayo kita pulang!" ajak Nahda
....
Nahda sudah sampai di Kontrakan yang ia tinggali bersama Hanif.
"Lhoh kok jendelanya terbuka? apa ada maling?" batin Nahda melihat jendela depan sedikit terbuka.
Nahda membuka pintu dan masuk secara perhalan, melihat-lihat apakah ada orang di dalam rumah tersebut. Dan benar saja ada seorang pria berbadan cungkring dan tidak terlalu tinggi dengan memakai pakaian berwarna hitam di kamar Hanif sedang mencari sesuatu. Nahda pergi menghampiri pria itu dengan mengendap-endap. Lalu ia berdiri di belakang pria itu dan menepuk-nepuk pundak pria tersebut.
"Sssttt jangan mengganggu!" kata pria itu tidak menyadari ada seseorang di belakangnya.
Nahda menepuk-nepuk pundak pria itu lagi.
"Sudah kubilang jangan mengganggu!" kata pria itu belum menyadarinya juga.
"Eh, tunggu sebentar." kata pria itu baru menyadari ada seseorang di belakangnya, kemudian menoleh ke arah belakang.
"Hai Om, lagi cari apa?" tanya Nahda dengan tersenyum ramah
"Hehe, em ini, lagi cari..." sebelum selesai bicara, pria itu langsung lari.
"Eits om mau kemana?" tanya Nahda mencengkram baju bagian belakang pria itu, dan otomatis pria itu pun berhenti.
Pria itu pun memutar badannya melepas cengkraman Nahda dan lari begitu saja. Nahda mengejar pria itu dan menendangnya dari belakang, pria itu jatuh ke lantai kemudian bangkit dan melakukan perlawanan. Nahda dengan sigap menghalau serangan dari pria itu. Tak butuh waktu lama Nahda untuk melumpuhkan lawannya, pria itu sudah tidak berdaya untuk melakukan perlawanan lagi.
"Aduh sakit." ucap pria itu meringis kesakitan.
"Makanya Om jangan suka maling." kata Nahda membantu pria itu untuk duduk di sofa ruang tamu lalu mengikatnya dengan tali.
"Eh kenapa aku di ikat begini?"
"Aku sudah lelah jika harus mengantar Om ke kantor polisi jadi, duduk manis saja di sini temani aku menonton film sambil menunggu Om ku pulang." kata Nahda memutar film di ponselnya.
"Apa? yang benar saja." kata pria itu tidak percaya dengan tingkah Nahda
"Tidak perlu hawatir aku akan membagikan cemilanku kepada om." kata Nahda membuka bungkus cemilan.
Beberapa saat kemudian
"Anak manis tolong lepasin Om dong, Om ingin pergi ke kamar mandi." kata pria tadi memohon.
"Tidak." jawab Nahda
"Ayolah, Om serius." kata pria itu lagi
"Tidak."
"Assalamualaikum." ucap Hanif memasuki rumah
"Waalaikumsalam." jawab Nahda dan pria itu bersamaan
"Nahda ini siapa? kenapa di ikat begini?" tanya Hanif terkejut
"Maling." jawab Nahda
"Hah maling?" tanya Hanif tak percaya
"Maaf pak saya sedang butuh uang, tolong lepaskan saya pak, saya perlu ke kamar mandi." kata Pria tadi memohon.
__ADS_1
"Astaghfirulloh." ucap Hanif sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Nahda mirip seperti Ayahnya yang suka mengerjai musuhnya.
Bersambung.....