Tetap Istiqomah Ya

Tetap Istiqomah Ya
Seperti musang


__ADS_3

Tim b melakukan servis, di terima oleh Aurel, kemudian di oper ke Dinda, lalu di oper ke Angel, dan Angel melakukan smes dengan keras ke arah Nahda. Benar saja Nahda tidak bisa menerima bola tersebut dan menghantam dirinya dengan keras hingga terjatuh.


"Nahda!!" Teriak semua orang yang di lapangan voli bergegas menghampiri Nahda.


"Aduh sori, gue terlalu keras memukulnya." Kata Angel ikut menghampiri Nahda.


"Nahda kamu tidak apa-apa?" Tanya Linda melihat Nahda meringkuk menahan sakit.


"Nahda! Apa kamu baik-baik saja?" tanya Rida.


"Nahda katakan sesuatu! jangan hanya diam saja!" Teriak Lina hawatir


"Hah aku.. hah hah tidak.. hah hah bisa bernafas.. hah hah." Jawab Nahda terengah-engah sulit bernafas sambil memegang dadanya.


"Bantu dia duduk, longgarkan jilbabnya." Kata Rudi segera memberikan pertolongan pertama.


"Baiklah, ikuti Bapak. Tarik nafas dalam-dalam hembuskan secara perlahan."


"Ayo lagi, tarik nafas hembuskan secara pelahan."


"Bagus, lakukan lagi."


"Bagaimana sekarang, sudah lebih baik?" tanya Rudi setelah beberapa saat.


Nahda menjawab dengan anggukan saja sambil menetralkan nafasnya.


"Baiklah latihan hari ini kita sudahi dulu." Kata Rudi.


"Nahda bagaimana keadaanmu?" tanya Lina.


"Hahh, aku baik, tidak perlu hawatir." Jawab Nahda sambil merapikan jilbabnya.


"Syukurlah." Ucap Rida


"Ayo Nahda, Bapak antar ke rumah sakit!" Ajak Rudi.


"Tidak perlu Pak, saya baik-baik saja." Tolak Nahda.


"Kamu yakin?" Tanya Rudi memastikan.


"Iya Pak, hanya nyeri sedikit." Jawab Nahda meyakinkan Rudi.


"Ya sudah, istirahatlah dulu sebelum pulang."


"Iya Pak, terima kasih."


"Nahda kamu ini bikin panik kita aja, beneran nih gak papa?" Tanya Linda.


"Iya Kak, aku baik-baik saja." Jawab Nahda sambil berdiri


"Syukurlah kalau begitu, aku pulang dulu ya, daa." Kata Linda melambaikan tangan.


"Daa, Kak Linda." Ucap Nahda, Lina dan Rida bersama sambil melambaikan tangan.


"Nahda kamu ini seperti musang yang habis makan ular saja." Kata Rida.


"Kenapa memangnya?" Tanya Nahda heran.


"Tadi hampir sekarat sekarang baik-baik saja." Jawab Rida.

__ADS_1


"Iya, bikin panik aja." Kata Lina.


"Itulah kekuatan rahasia musang, hahaha." Kata Nahda sambil tertawa.


"Aduh." Kata Nahda memegang dadanya, merasakan sakit karena tertawa.


"Makanya jangan sok-sokan." Kata Lina.


Waktu sudah sore dan latihan semua tim pun telah usai. Rizal, Kemal dan Fikri bergegas menghampiri Nahda, karena tadi mendengar teriakan memanggil Nahda dan terlihat berkerumun di lapangan voli yang memungkinkan terjadi sesuatu kepada Nahda.


"Nahda apa kamu baik-baik saja?" Tanya Rizal.


"Apa kamu terluka?" Tanya Kemal.


"Apa yang terjadi padamu tadi?" Tanya Rizal.


"Aku mendengar teman-temanmu berteriak memanggilmu tadi." Kata Kemal.


"Dan mereka berkerumun menghampirmu." Kata Rizal.


Fikri hanya diam saja menyimak balapan pertanyaan itu. Sebenarnya dia juga ingin bertanya namun, tidak mendapatkan celah karena Kemal dan Rizal bertanya seperti kereta api yang gerbongnya saling terhubung.


"Yaa seperti yang saudara sekalian lihat, saya baik-baik saja." Jawab Nahda.


"Syukurlah kalau begitu, aku sangat hawatir." Kata Rizal.


"Iya Nahda aku juga hawatir." Kata Kemal.


Fikri melipat kedua tangannya sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain karena bosan dengan bualan Rizal dan Kemal. Sedangkan Lina hanya tersenyum menahan tawa melihat drama langsung itu. Berbeda dengan Rida yang terlihat cemberut sambil memainkan ponselnya.


"Segitu amat hawatirnya." Batin Rida cemburu.


"Iya, ayo kita pulang sudah sore!" Jawab Lina sambil mengambil tasnya.


Rida tidak merespon, ia berjalan lebih dulu. Kemudian di ikuti Nahda dan Lina, sedangkan Rizal, Kemal dan Fikri berjalan di belakang mereka. Lalu Rizal dan Kemal pergi ke parkiran untuk mengambil motor mereka, sedangkan Nahda, Lina dan Rida berjalan keluar gerbang sekolah karena mereka di jemput. Sedangkan Fikri menyusul Nahda dulu sebelum mengambil motor miliknya di parkiran.


"Nahda sebenarnya apa yang terjadi tadi?" Tanya Fikri penasaran.


"Tidak apa-apa, hanya di tubruk bola saja." Jawab Nahda.


"Tadi Nahda di hantam bola hingga sulit bernafas." Kata Lina tidak puas dengan jawaban Nahda.


"Jadi begitu. Nahda, meski kamu terlihat baik, sebaiknya periksa ke dokter, bagaimana jika ada luka dalam? Itu bisa membahayakan dirimu." Kata Fikri menasehati Nahda.


Nahda hanya diam saja mendengar perkataan Fikri. Karena tidak mendapatkan respon Fikri pun pergi meninggalkan Nahda.


"Fikri benar Na, periksa ke dokter." Kata Lina.


"Iya baiklah." kata Nahda.


"Dan satu lagi." Kata Lina serius.


"Apa?" Tanya Nahda.


"Fikri sangat baik kepadamu jangan sakiti perasannya." Jawab Lina.


"Maksudnya?" Tanya Nahda tidak mengerti.


"Baiklah, itu Om Hanif sudah datang, aku duluan ya. Daa" Kata Lina berpamitan.

__ADS_1


"Nahda kamu mau menginap di sini atau pulang?" Tanya Hanif melihat Nahda masih bengong.


"Iya Om." Jawab Nahda pergi menghampiri Hanif.


"Om bisa antar Nahda ke dokter dulu, dadaku masih sakit terkena bola tadi." Kata Nahda.


"Asfaghfirulloh, ya udah ayo!"


.....


Keesokan harinya


Nahda tetap masuk sekolah namun, ia tidak di izinkan untuk ikut latihan. Itu pun saran dari dokter, karena hantaman yang cukup keras sedikit melukai paru-parunya.


"Nahda bagaimana keadaanmu?" tanya Fikri ketika melihat Nahda memasuki kelas dan duduk di bangkunya.


"Baik, tapi aku belum bisa ikut latihan." Jawab Nahda.


"Oo begitu."


"Jangan sedih, perlombaannya masih seminggu lagi, kamu pasti masih bisa ikut." Kata Fikri melihat Nahda murung.


"Ya semoga saja begitu."


"Apa maksud yang di katakan Lina kemarin? Aku masih belum menemukan jawabannya? Aku tau jika dia menyukai ku, apa aku harus membalas perasaannya? Itu tidak mungkin. Lalu apa yang harus aku lakukan?" Batin Nahda terhanyut dalam pikirannya.


"Nahda, hari ini kamu masuk sekolah?" Tanya Lina baru datang dan menghampiri Nahda, namun tidak di respon.


"Kemarin kamu ke dokterkan?" Tanya Lina lagi masih belum di respon.


"Bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Lina lagi tetap tidak di respon.


"Nahda!" Bentak Lina.


"Eh iya."


"Kamu lagi mikirin apa?" Tanya Lina.


"Tidak, bukan apa-apa." Jawab Nahda.


"Lalu jawaban dari pertanyaanku tadi."


"Memang kamu tanya apa?" Tanya Nahda.


"Hah sudah lupakan saja, sepertinya kau baik-baik saja." Jawab Lina duduk di bangkunya.


.....


Di lorong sekolah


"Gimana Ngel, Nahda baik-baik aja tuh. Dia masuk sekolah hari ini." Kata Dinda.


"Iya lebih baik begitu, kalo dia masuk rumah sakit kita akan di curigai." Kata Angel.


"Iya sih, bisa di keluarin dari sekolah kaya Bela." Kata Dinda.


"Tenang aja, pasti hari ini atau beberapa hari dia gak akan ikut latihan dan akan di gantikan." Kata Angel.


"Ya harus begitu, aku tidak mau kerja sama dengannya." Kata Dinda.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2