
Di kelas XI MIPA 1
Angel sangat kesal karena berhasil di permainkan Nahda lagi.
"Tuh cewek nyebelin baget sih. Bagaimana dia bisa lebih licik dari aku." Gerutu Angel tidak terima karena kalah lagi dari Nahda.
"Udah deh Ngel, gak usah berurusan sama tuh cewek lagi." Kata Aurel memberi saran.
"Gak bisa." Kata Angel.
"Kamu mau di keluarin dari sekolah, lihat Nahda itu siapa." Kata Alfi.
"Tapi aku gak terima." Kata Angel
"Terserah kamu ajalah, aku gak mau ikut campur." Kata Aurel.
"Ya udah aku bisa sendiri." Kata Angel.
"Jangan nekat, Ngel." Kata Alfi.
"Kenapa sih, lagian cuman keponakannya Pak Fahri kan, bukan anaknya kepala sekolah." Kata Angel.
"Iya aku tahu, tapi tetap saja lo yang salah pasti lo yang di hukum." Kata Aurel.
"Kalau gitu aku harus buat dia yang salah." Kata Angel.
"Ingat, Ngel. Nahda itu pintar." Kata Alfi.
"Udahlah biarain aja tuh cewek. Cuman buang-buang waktu dan tenaga aja, kita yang rugi nanti." Kata Aurel.
"Ya udahlah, kalau kalian tidak mau membantu aku bisa sendiri. Pengecut." Kata Angel kesal dan lergi meninggalkan kedua temannya.
"Apa? Dia ngatain kita pengecut." Protes Alfi.
"Udah biarin aja, Al." Kata Aurel.
.....
Rizal masih belum menyerah untuk meminta maaf kepada Rida, ia tetap berusaha untuk bicara dengan Rida. Dan kali ini Rida sendiri duduk di bangku taman, dan inilah kesempatan bagi Rizal.
"Rida!" Panggil Rizal duduk di samping Rida namun masih menjaga jarak.
"Aku ingin minta maaf, aku benar-benar tidak tahu kalau kamu menyukai ku." Kata Rizal meminta maaf namun tidak di respon.
"Aku juga di tolak oleh Nahda, dia menyukai orang lain." Kata Rizal lagi namun tetap tidak mendapatkan respon.
"Masalah foto yang beredar itu palsu. Yaa aku memang bersama Nahda waktu itu, tapi aku yang mengerjai Nahda." Jelas Rizal.
"Jadi jangan marah padanya, dia tidak salah." Lanjut Rizal.
"Oh jadi kamu meminta maaf karena Nahda." Kata Rida kesal lalu langsung pergi begitu saja meninggalkan Rizal sendiri.
"Tidak, bukan begitu." Kata Rizal.
"Rida, tunggu!" Seru Rizal ingin mengejar Rida namun tidak jadi.
"Aku salah ngomong lagi, bagaimana caranya bicara dengannya?" Kata Rizal bingung.
.....
Di kelas X MIPA 2
Nahda duduk di bangkunya dengan asik memainkan ponselnya sambil senyum-senyum sendiri, Fikri yang penasaran pun diam-diam mendekati Nahda untuk melihat apa yang sedang di lakukannya.
"Apa sih Fik, kepo deh." Kata Nahda mengetahui Fikri berdiri di belakangnya sambil mengintip ponselnya.
"Lagi chatan sama siapa sih?" Tanya Fikri sangat penasaran.
"Siapa aja bisalah." Jawab Nahda.
"Biar ku tebak. Kamu pasti chatan samaaa..." Kata Fikri menggantungkan ucapannya.
"Sama siapa? Gak usah sok tahu deh." Kata Nahda.
"Aku tahu, orang aku udah lihat tadi." Kata Fikri.
"Siapa memangnya?" Tanya Nahda tidak percaya.
__ADS_1
"Iqbal, benarkan inisial N." Jawab Fikri berbisik.
"Ssssttt, jangan keras-keras." Kata Nahda pelan.
"Iya, tenang aja aman kok." Kata Fikri santay.
"Kalian jadian?" Tanya Fikri.
"Enggak." Jawab Nahda.
"La trus?" Tanya Fikri lagi.
"Ya cuma chatan aja." Jawab Nahda santay.
"Jadi inisial N itu bener kamu ya?" Tanya Fikri berbisik.
"Iya." Jawab Nahda berbisik juga.
"Hmm gitu. Pantesan." Kata Fikri tidak melanjutkan ucapannya.
"Kenapa?" Tanya Nahda.
"Gak papa." Jawab Fikri.
"Pantes aja banyak cowok yang kamu tolak, udah nemu yang berkualitas." Batin Fikri kembali ke tempat duduknya.
Semakin hari Nahda dan Iqbal semakin akrab meski hanya lewat chat.
....
Di Lorong sekolah
Kemal sedang berjalan sendiri menuju kelas, Alfi yang melihat itu pun langsung pergi menghampirinya.
"Hai, Kemal." Sapa Alfi berjalan di samping Kemal.
"Iya, ada apa?" Tanya Kemal datar.
"Kenapa sih kamu tuh cuek terus ke aku?" Tanya Alfi.
"Emang aku harus gimana?" Kata Kemal kembali bertanya.
"Siapa yang mau temenan sama penjahat kaya kamu." Kata Kemal.
"Kalau aku jadi baik, mau ya temenan lagi." Kata Alfi.
"Ya kalau kamu bisa membuktikan kata-katamu, akan aku pertimbangkan." Kata Kemal.
"Oke. Trus aku harus apa?" Tanya Alfi penuh semangat.
"Minta maaf ke Nahda." Jawab Kemal.
"Siap bos." Kata Alfi sambil hormat.
"Ayo kita temui Nahda." Kata Alfi menarik tangan Kemal.
"Kenapa harus ngajak aku?" Tanya Kemal heran.
"Jadi saksi." Jawab Alfi sambil menarik Kemal untuk menemui Nahda di kelas.
"Hai, Nahda." Sapa Alfi.
"Iya, Kak. Ada apa?" Tanya Nahda bingung tiba-tiba saja Alfi menghampirinya bersama Kemal.
"Em begini, gue ingin minta maaf karena berkali-kali membuli lo." Kata Alfi pelan.
"Iya, tidak apa-apa aku maafkan." Jawab Nahda santay.
"Lo langsung maafin gue gitu aja? Lo gak punya dendam ke gue gitu?" Tanya Alfi heran.
"Enggak tuh, kalau Kakak memang bener-bener mau berubah." Jawab Nahda.
"Hati lo terbuat dari apa sih, heran gue?" Tanya Alfi lagi masih tidak mengerti.
"Gak tahu, coba tanya sama yang menciptakan aku." Jawab Nahda.
"Hah?" Ucap Alfi bingung dengan jawaban Nahda dan menoleh ke arah Kemal.
__ADS_1
Kemal hanya tertawa kecil melihat itu.
"Em ya sudah kalau begitu, gue pergi dulu ya." Kata Alfi berpamitan.
"Iya, Kak." Jawab Nahda.
"Ayo, Mal." Ajak Alfi.
"Tunggu, satu lagi." Kata Kemal menghentikan langkah Alfi.
"Apa lagi?" Tanya Alfi.
"Itu belum." Jawab Kemal menunjuk ke arah Lina.
"Oke."
"Em, gue, juga ingin minta maaf sama lo. Karena gue juga sering membuli lo. Maafin ya." Ucap Alfi pelan.
"Iya, Kak. Aku maafin." Ucap Lina.
"Wah ada apa nih, tiba-tiba Kak Alfi minta maaf gini?" Batin Lina bingung.
"Ya udah gue pergi sekarang." Kata Alfi berpamitan.
"Iya, Kak." Jawab Lina.
Alfi dan Kemal pun pergi dari sana, sedangkan Lina dan Nahda saling pandang, bingung apa yang sebenarnya terjadi.
....
Rida sedang menunggu jemputan di depan gerbang sekolah sendiri, Nahda dan Lina melihat itu pun menghampirinya.
"Rida, kamu belum di jemput?" Tanya Nahda.
Melihat siapa yang bertanya Rida hanya diam saja dan pindah posisi lebih jauh.
"Kamu masih marah sama aku?" Tanya Nahda namun, tetap tidak di respon dan pindah posisi lagi.
"Aku tidak jadian dengan Kak Rizal." Kata Nahda lagi dan tetap tidak direspon, malah Rida berjalan terus untuk menghindari Nahda.
Nahda juga terus mengejarnya di ikuti oleh Lina.
"Rida, Tunggu!" Teriak Nahda mengejar Rida.
"Dengarkan aku dulu." Kata Nahda terus mengejar Rida dengan langkah kaki yang cepat.
"Aku akan jelasin tentang foto itu."
"Di kafe itu aku sedang menunggu om Hanif pulang. Trus Kak Rizal yang nyamperin aku, tapi aku gak peduli sama dia. Dan foto itu di ambil pas aku mergokin Kak Rizal menatapku sambil tersenyum jelek aku langsung menutupi wajahku dengan HP." Jelas Nahda.
"Trus yang ada di taman itu, Kak Rizal yang ngerjain aku. Dia sengaja deketin wajahnya dan memanggilku, dan otomatis aku menoleh. Tapi aku sangat terkejut sampai aku pukul dia pakai tas." Lanjut Nahda.
"Rida berhenti!" Kata Nahda menghadang Rida.
"Kamu pikir aku bakalan percaya sama kamu." Kata Rida mengalihkan pandangannya.
"Ya gimana biar kamu percaya sama aku?" Tanya Nahda.
"Beneran deh aku gak suka sama siapa pun kecuali..." Jelas Nahda namun di gantungkan saat ingin menyebut nama seseorang.
"Kecuali siapa?" Tanya Rida.
"Siapa? Kak Rizal." Tanya Rida lagi kesal.
"Bukan." Jawab Nahda.
"Terus siapa?" Tanya Rida seakan tak peduli.
"Kak Iqbal." Jawab Nahda pelan.
"Siapa? aku gak dengar." Tanya Rida kurang jelas dengan jawaban Nahda.
"Kak Iqbal, Rida. Aku suka sama Kak Iqbal." Jawab Nahda sedikit berteriak karena kesal.
"Benarkah itu?" Tanya seseorang dari belakang Nahda.
"Sebentar, suara itu.." Kata Nahda menggantungkan ucapannya karena mendengar suara yang familiar.
__ADS_1
Bersambung.....