
"Apa lo ingin mempermainkan kita?" Tanya Aurel.
"Tidak, aku mengajak kalian bermain." Jawab Nahda.
"Bagaimana berani tidak?" Tantang Nahda.
"Jangan Ngel, dia hanya ingin mempermainkan kita." Kata Aurel.
"Kaliankan yang memulai permainannya, jadi mari kita lanjutkan." Kata Nahda.
"Oke, kalau gue yang menang, apa yang gue dapat?" Tanya Angel.
"Terserah Kak Angel mau apa." Jawab Nahda.
"Trus kalau lo yang menang?" Tanya Aurel.
"Kalo aku yang menang, Kak Angel harus minta maaf karena sengaja melukai ku kemarin." Jawab Nahda.
"Hah, minta maaf? Yang bener aja lah." Kata Alfi.
"Bagaimana berani tidak?" Tanya Nahda.
"Oke siapa takut, Kalau gue yang menang lo harus jadi asisten gue selama seminggu." Kata Angel.
"Oke jadi dil ya." Kata Nahda mengulurkan tangan.
"Dil." Kata Angel membalas uluran tangan Nahda setuju.
"Trus siapa yang menghitung skornya?" Tanya Aurel.
"Kak Alfi yang menghitung skornya." Jawab Nahda."
"Kak Alfi hitung skornya dengan jujur, nanti ku bantu mendekati Kak Kemal." Kata Nahda.
"Heh lo mau nyogok gue ya?" Tanya Alfi.
"Tidak, menyogok itukan untuk berbuat curang sedangkan aku ingin Kak Alfi berbuat jujur." Jawab Nahda.
"Benar juga, lalu apa namanya?" Tanya Alfi.
"Hadiah atas kejujuran Kak Alfi." Jawab Nahda.
"Oke setuju."
"Hah kalian ini kenapa? Dia mencoba memprovikasi kalian." Kata Aurel.
"Apa kata-kata lo bisa di pegang? Bagaimana kalau lo nipu gue?" Tanya Alfi.
"Aku akan membuktikannya setelah latihan nanti." Jawab Nahda.
"Oke."
"Kenapa lo percaya sama dia Al?" Tanya Aurel.
"Tidak ada salahnyakan kita memberikannya kesempatan, aku penasaran apa yang ingin dia lakukan." Jawab Alfi.
"Ya, kita lihat apa yang bisa dia lakukan." Kata Angel.
"Ya udahlah terserah kalian." Kata Aurel.
Setelah itu 3A pergi meninggalkan mereka.
"Tidak ku sangka ternyata kamu licik juga." Kata Rida.
"Bukan licik tapi cerdas." Protes Nahda.
"Kamu serius menantang mereka Na?" Tanya Lina.
"Kenapa memangnya?" Kata Nahda balik bertanya.
"Mereka bisa berbuat apa saja." Jawab Lina.
"Lalu mereka belum tahu Nahda yang sebenarnya itu seperti apa." Kata Nahda.
"Hah terserah kau saja." Kata Lina kehabisan kata-kata.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo kita ke lapangan!" Ajak Rida.
.....
Setelah Nahda minta izin kepada Rudi, ia pergi menghampiri Fikri yang sedang duduk di bangku sendirian sambil mengikat tali sepatunya.
"Nahda, sedang apa di sini, bukanya kamu tidak latihan hari ini?" Tanya Fikri melihat Nahda menghampirinya.
"Tidak, hanya ingin lihat-lihat saja sambil menghabiskan waktu." Jawab Nahda duduk di samping Fikri.
"Ooo begitu."
"Emm, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu." Kata Nahda melihat ke arah depan
"Iya katakan saja." Kata Fikri melihat ke arah Nahda.
"Aku minta maaf." Ucap Nahda pandanganya tetap lurus ke depan.
"Untuk apa?" Tanya Fikri heran.
"Karena aku memanfaatkanmu untuk menghindari Kak Rizal dan Kak Kemal." Jawab Nahda masih dalam posisi yang sama.
"Hah?" Ucap Fikri tidak mengerti.
"Aku tau bagaimana perasaanmu kepadaku tapi, aku minta maaf, aku tidak bisa membalasnya." Kata Nahda sambil menunduk.
"Jadi sebelum rasa itu semakin dalam, sebaiknya kau buang perasaan itu jauh-jauh. Aku tidak ingin menyakitimu." Kata Nahda lagi masih menunduk.
Fikri tidak merespon ia hanya diam sambil menunduk dengan di selimuti rasa kecewa.
"Apa kamu tidak ingin memberiku kesempatan sama sekali Nahda?" Tanya Fikri setelah diam beberapa saat.
"Maaf Fik." Jawab Nahda tetap menunduk.
"Iya tidak apa-apa, hal seperti ini sudah biasakan." Kata Fikri melihat ke arah Nahda.
"Tetap saja rasanya sakit." Batin Fikri.
"Tapi kita masih bisa bertemankan?"
"Ya tentu saja, kitakan teman satu kelas dan kau teman kelasku yang paling baik." Jawab Nahda menghibur Fikri.
"Baiklah latihannya akan segera di mulai, aku pergi dulu ya." Kata Fikri beranjak pergi.
"Iya, semangat Fikri!" Ucap Nahda sambil tersenyum.
"Oke." Kata Fikri sambil menunjukkan jarinya membentuk o.
Setelah beberapa saat melihat latihan basket, Nahda sudah merasa bosan.
"Rida dan Lina ada di mana?" Kata Nahda menengok ke kanan ke kiri mencari keberadaan dua temannya.
"Oh iya pasti ada di lapangan futsal, susul ajalah kesana." Kata Nahda berjalan menuju lapangan futsal.
Di lapangan futsal.
Rida sibuk menjadi suporternya Riyan, sedangkan Lina hanya duduk diam saja.
"Ayo Yan semangat!"
"Riyan Riyan Riyan."
"Ayo terus Yan giring bolanya."
"Yaaah di rebut lawan."
"Ayo rebut lagi bolanya Yan."
"Bagus Yan."
"Gol!"
"Yeeeee..."
"Kenapa dia berisik sekali?" Batin Lina melihat Rida tidak berhenti mengoceh.
__ADS_1
"Ini sangat membosankan." Batin Lina merasa bosan.
"Aku akan menemui Nahda saja." Kata Lina beranjak pergi.
"Lina awas!" Teriak Ifan melihat bola melambung ke arah Lina
"Aaaa!" Teriak Lina sambil menghalangi wajahnya dengan kedua tangnnya.
Namun bola itu tidak menghantamnya, karena ada seseorang yang menghentikannya.
"Hampir saja, kalau bola ini menghantammu, hidungmu pasti jadi pesek hahaha" Kata Nahda sambil memegang bola.
"Nahda, aku sangat terkejut tadi." Kata Lina melihat siapa yang menghentikan bolanya.
"Ini kembalikan sendiri bolanya!" Kata Nahda memberikan bola kepada Lina yang hambir menghantam dirinya tadi.
"Apa? Tapi.." Kata Lina bingung.
"Lina lempar bolanya!" Teriak Ifan.
"Iya." Kata Lina melempar bolanya asal saja.
"Sip." Kata Zidan mengacungkan jempol setelah menangkap bola dari Lina.
Lina tersipu malu, tidak menyangka bola yang ia lempar asal saja Zidan yang menangkapnya.
Hari sudah semakin sore dan latihan akan segera berakhir. Nahda pergi menghapiri Alfi.
"Kak Alfi punya botol mineral?" Tanya Nahda.
"Buat apa?" Kata Alfi kembali bertanya.
"Di berikan kepada Kak Kemal." Jawab Nahda.
"Ya aku sudah siapkan, tapi dia tidak pernah mau menerima apapun dari ku." Kata Alfi.
"Kali ini akan aku pastikan dia meminumnya, ayo kita ke lapangan basket!" Ajak Nahda.
Entah mengapa Alfi menurut begitu saja, mereka berjalan bersama menuju lapangan basket.
"Pas sekali mereka sudah selesai latihan. Mana botol mineralnya?" Tanya Nahda.
"Ini." Jawab Alfi memberikan sebotol air meneral.
"Tunggu di sini Kak!"
"Kak Kemal, ini untuk mu." Kata Nahda menyodorkan sebotol air mineral.
"Ini benar untuk ku?" Tanya Kemal menunjuk botol air mineral yang di pegang Nahda untuk memastikan.
"Iya, ini untuk kakak." Jawab Nahda.
"Wah terima kasih." Ucap Kemal mengambil sebotol air mineral di tangan Nahda.
Glek glek glek
Kemal pun langsung meminumnya.
"Segerkan?" Tanya Nahda.
"Iya." Jawab Kemal.
"Itu tadi dari Kak Alfi, di habiskan yaa. Mubazir." Kata Nahda sambil tersenyum puas berhasil mengerjai Kemal.
"Apa? Yang benar saja, aku pikir.." Kata Kemal terkejut.
"Hahaha kasihan, sudahlah menyerah saja." Kata Rizal sambil menertawakan Kemal.
"Wah ternyata lo memang licik." Kata Alfi.
"Tapi berhasilkan dan aku penuhi janjiku kepadamu." Kata Nahda.
"Iya, lalu langkah selanjutnya apa?" Tanya Alfi.
"Akan aku fikirkan, tapi Kakak juga harus tepati janji untuk menghitung skor dengan jujur." Jawab Nahda.
__ADS_1
"Iya iya."
Bersambung.......