
"Lihat akulah yang menang sekarang. Jadi lebih baik kau pergi saja dari sekolah ini." Kata Angel puas berhasil membuli Nahda habis-habisan.
"Oh ya, jangan senang dulu. Permainan baru saja di mulai." Kata Nahda sambil berdiri.
"Apa maksudmu?" Tanya Angel bingung.
"Lihat di sana." Jawab Nahda menunjuk ke sudut atas tembok.
"Apa itu cctv? Sejak kapan ada cctv di situ? Mampus kita." Kata Angel panik melihat ada cctv di sana.
Flash back on
Beberapa hari yang lalu saat Nahda akan pulang sekolah, tidak sengaja melihat Fahri memasang cctv di depan ruang guru. Itu pun di saat para Murid sudah pulang selain yang mengikuti ekstra kurikuler. Nahda pun segera menghampiri Fahri.
"Pak Fahri, sedang apa?" Tanya Nahda.
"Pasang cctv." Jawab Fahri fokus memasang cctv.
"Pasang juga, Pak. Di lapangan." Kata Nahda.
"Kenapa?" Tanya Fahri turun dari tangga.
"Di lapangan biasanya di jadikan tempat untuk membuli, temanku juga pernah jadi korbanya." Jawab Nahda.
"Kenapa kamu tidak bilang?" Tanya Fahri.
"Aku tidak punya bukti." Jawab Nahda.
"Iya, nanti akan saya pasang. Sekarang pulanglah." Kata Fahri mengerti.
"Iya, Pak." Kata Nahda pergi meninggalkan Fahri untuk pulang.
Flash back off
"Hei kalian semua!" Teriak Fahri dari ujung lapangan.
"Hah Pak Fakri, mampus kita." Ucap salah satu siswi panik.
"Jangan ada yang melarikan diri tetap di sana!" Teriak Fahri berjalan menghampiri mereka.
"Apa-apaan kalian ini, hah!" Bentak Fahri.
"Beginikah cara kalian memperlakukan teman kalian sendiri?"
"Apa sekolah ini mengajarkan kalian untuk membuli seperti ini?"
"Inikah yang kalian pelajari selama ini?"
"Kenapa hanya diam? Jawab!" Bentak Fahri emosi.
"Keterlaluan."
"Angkat salah satu kaki kalian dan pegang kedua telinga kalian. Jangan coba-coba untuk melarikan diri." Kata Fahri memberi hukuman kepada para siswi yang membuli.
"Bapak akan mengawasi kalian dari sana." Kata Fahri menunjuk ke arah cctv.
"Apa kamu baik-baik saja, Nak?" Tanya Fahri kepada siswi yang di buli tadi.
"Ya Pak, saya baik." Jawab Nahda.
"Loh, Nahda?" Tanya Fahri terkejut.
"Iya, Pak." Jawab Nahda santay.
"Ya Allah, keponakanku yang manis, kenapa jadi adonan bakwan begini." Kata Fahri prihatin melihat keponakannya yang sudah berlumuran tepung hingga wajahnya tidak terlihat.
__ADS_1
"Hehehe." Nahda ketawa kecil menanggapi ucapan Fahri.
"Malah ketawa lagi." Kata Fahri heran.
"Apa? Nahda keponakannya Pak Fahri?" Kata beberapa siswi terkejut.
"Kita sudah membuat kesalahan besar." Kata siswi yang lainnya.
"Hukuman kita pasti berat nih." Kata siswi yang lainnya lagi.
"Ya sudah, ayo ganti seragammu dulu." Ajak Fahri.
"Iya om, eh Pak." Kata Nahda.
"Dan kalian tetap disini dalam posisi ini sampai saya kembali lagi nanti. Kalian mengerti!" Kata Fahri memberi peringatan.
"Iya, Pak." Sahut para siswi tersebut.
"Ini semua gara-gara lo, Ngel. Kita jadi di hukum nih." Protes Aurel.
"Kenapa nyalahin gue, kalian juga yang merencanakan ini." Kata Angel tidak mau kalah.
"Udah jangan berisik, kita ini sama tahu. Gak sadar diri." Kata Alfi ikut protes.
"Kamu ngapain lagi sih, bisa jadi kaya gini?" Tanya Fahri heran.
"Gak ngapa-ngapain." Jawab Nahda santay.
"Lalu kenapa mereka membulimu seperti itu?" Tanya Fahri lagi.
"Tidak tahu." Jawab Nahda santay.
"Nahda!" Teriak Fikri, Rizal, Kemal, Ronal, dan Lia menghampiri Nahda.
"Pertanyaan kalian itu salah, seharusnya begini. Nahda apa kamu bersenang-senang dan aku akan menjawab ya, tentu saja aku baru saja bersenang-senang dan aku sangat senang sekali." Jawab Nahda.
"Hah?" Kata Rizal, Kemal, Ronal dan Lia bersama, merasa heran dengan jawaban Nahda.
"Hihihihi." Tawa Fikri dan Fahri mendengar jawaban dari Nahda.
"Kamu ini memang gamer hebat, Nahda." Kata Fikri mengacungkan dua jempol.
Nahda pun menanggapinya dengan mengacungkan dua jempol juga.
"Nahda, bagaimana kamu bisa sebahagia ini setelah di buli?" Tanya Rizal benar-benar heran.
"Inilah yang di namakan mental baja." Jawab Nahda sambil memukul-mukul pundaknya pelan.
Sedangkan Fahri hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Nahda, masih sama seperti saat kecil dulu.
"Baiklah, aku harus pulang dan bersih-bersih. Daaa sampai jumpa lagi." Ucap Nahda melenggang pergi begitu saja sambil melompat-lompat kecil.
"Dia itu terbuat dari apa sih?" Tanya Ronal masih heran.
"Entahlah, pertama kalinya aku melihat manusia seperti dia." Jawab Kemal.
"Bagaimana Nahda bisa sehebat itu?" Tanya Lia masih heran juga.
"Kalian ini mau pulang atau menginap di sini?" Tanya Fahri.
"Eh iya, Pak. Kami akan pulang." Kata Rizal.
"Permisi, Pak." Ucap mereka berlima secara bersama.
"Hm iya." Ucap Fahri menanggapi mereka berlima.
__ADS_1
Setelah itu Fahri kembali ke lapangan untuk mengeksekusi para pembuli tadi.
"Baiklah sudah cukup." Kata Fahri menghentikan hukuman yang ia berikan tadi.
"Tulis nama dan kelas kalian dan serahkan kepada Bapak. Setelah selesai, sebelum pulang kalian bersihkan lapangan ini dulu dan besok kalian setorkan tulisan permohonam maaf seratus kali." Kata Fahri memberikan hukuman lagi.
"Hah seratus kali?" Tanya para siswi merasa keberatan.
"Kenapa, kurang?" Tanya Fahri meledek.
"Tidak, Pak. Tidak." Jawab para siswi.
"Ya sudah. Silahkan kerjakan, saya tunggu di sini."
......
Keesokan harinya.
Para siswi yang membuli Nahda kemari berkumpul di depan ruang bk untuk menyetorkan tulisan permohonan maaf. Sedangkan Nahda duduk santay sendiri di bangku taman menikmati suasana sejuk di pagi hari sebelum pelajaran di mulai.
"Nahda, aku dengar kamu kemarin di buli habis-habisan sama Kak Angel dan teman-temannya? Apa benar begitu?" Tanya Lina tiba-tiba duduk di samping Nahda.
"Tidak, aku bermain bersama mereka kemarin, sangat menyenangkan." Jawab Nahda sambil tersenyum bahagia.
"Bermain apa memangnya?" Tanya Lina bingung.
"Membuat adonan bakwan." Jawab Nahda masih tersenyum bahagia.
"Hah, dasar aneh." Kata Lina heran.
"Oh iya, bagaimana dengan Rida?" Tanya Nahda.
"Dia sudah lebih baik, tapi mungkin masih marah kepadamu." Jawab Lina.
"Ya tidak apa-apa. Setelah dia tahu kebenarannya nanti juga baikan." Kata Nahda.
"Iya kamu benar." Kata Lina.
.....
Rida dan Riyan sedang berjalan di lorong sekolah untuk menuju ke kelas mereka.
"Rida!" Panggil Rizal menghampirinya.
"Ada apa?" Tanya Rida datar.
"Aku ingin minta maaf." Jawab Rizal.
"Untuk apa?" Tanya Rida lagi.
"Karena aku tanpa sengaja menyakiti perasaanmu." Jawab Rizal berterus terang.
"Maaf tapi Rida tidak punya waktu untuk bicara denganmu." Kata Riyan menyela.
"Aku tidak punya urusan denganmu, jadi minggirlah!" Kata Rizal tidak terima.
"Urusan Rida adalah urusanku juga." Kata Riyan tak mau kalah.
"Memang kau siapa?" Tanya Rizal.
"Temannya." Jawab Riyan.
"Ayo Da, kita pergi dari sini." Kata Riyan menarik tangan Rida mengajaknya pergi dari sana.
Bersambung.....
__ADS_1