
Nahda tertidur sampai maghrib setelah pulang dari lomba karena merasa lelah.
Tok tok tok
Hanif mengetuk pintu kamar Nahda.
"Nahda!" Panggil Hanif dari luar tapi tidak mendapatkan respon.
"Udah bangun belum sih." Kata Hanif karena tidak mendapat respon dari Nahda.
"Ya Allah masih molor aja nih anak." Kata Hanif membuka pintu dan melihat Nahda masih tidur.
"Nahda bangun sudah maghrib." Kata Hanif menggoyah-goyangkan tubuh Nahda pelan.
"Hmm."
"Hp kamu bunyi terus tuh." Kata Hanif lagi.
"Coba di lihat." Kata Nahda dengan suara parau dan masih belum membuka mata.
"Satu pesan dari Kak Iqbal." Kata Hanif membaca notifikasi di ponsel Nahda.
Mendengar itu pun Nahda langsung membuka matanya dan segera menggambil ponselnya dari Hanif.
"Siapa Iqbal?" Tanya Hanif.
"Kakak kelas dari sekolah lama Nahda." Jawab Nahda.
"Tadi susah di bangunin, setelah mendengar nama Iqbal kok langsung bangun, ada apa ini?" Tanya Hanif curiga.
"Tidak ada apa-apa." Jawab Nahda.
"Ya sudah cepat mandi dan solat maghrib." Kata Hanif.
"Iya om." Kata Nahda.
Beberapa saat kemudian.
Nahda sudah selesai solat maghrib, buru-buru menggambil ponselnya untuk melihat pesan dari Iqbal.
》"Hai Nahda, apa kamu suka dengan hadiahnya?" Tanya Iqbal.
"Hah hadiah? Hadiah apa?" Kata Nahda sambil berfikir.
Flash back on
Iqbal berjalan di halaman sekolah dan tak sengaja menemukan sebuah Handpone.
"Hp siapa ini?" Kata Iqbal melihat sebuah ponsel tergeletak.
"Oh ini punya Nahda, dia pasti akan mengambilnya, aku tunggu di sini saja." Kata Iqbal melihat wallpaper hp tersebut adalah foto Nahda.
Tak lama kemudian orang yang di tunggu pun datang, sedang celingak-celinguk mencari sesuatu.
"Mencari ini?" Tanya Iqbal sambil menyodorkan ponsel.
"Oh iya, terima kasih Kak." Ucap Nahda mengambil ponsel dari tangan Iqbal.
"Kalau begitu aku permisi dulu." Kata Nahda berpamitan.
"Eh tunggu dulu, aku ingin memberimu sesuatu." Kata Iqbal mengambil sebuah kotak kecil dari tasnya.
"Ini hadiah untukmu karena timmu berhasil mengalahkan tim dari sekolahku." Kata Iqbal menyodorkan sebuah kotak hadiah.
"Itu tidak perlu Kak, ucapan selamat saja sudah cukup." Tolak Nahda.
"Jangan begitu, anggap saja ini penghargaan atas kemenanganmu." Kata Iqbal.
"Maaf Kak, aku tidak bisa menerimanya." Tolak Nahda lagi
"Em aku harus segera pergi, teman-temanku sudah lama menunggu, permisi Kak." Kata Nahda berpamitan kemudian membalikkan badanya untuk pergi namun, baru satu langkah ia berjalan tasnya di tarik Iqbal menghentikan langkahnya.
"Tunggu!" Kata Iqbal menarik tasnya Nahda dan mendekatinya.
__ADS_1
"Aku menyukaimu." Kata Iqbal pelan di belakang telinganya Nahda sambil memasukkan kotak hadiah tadi ke dalam tasnya Nahda.
Deg deg deg
Nahda yang mendengar itu pun membulatkan bola matanya dan langsung lari ngibrit dengan perasaan yang tidak karuan.
"Hahaha." Iqbal tertawa melihat tingkah Nahda.
"Dia sangat menggemaskan." Kata Iqbal melihat kepergian Nahda yang semakin menjauh.
Tanpa di sadari ada dua pasang mata yang memerhatikannya sejak tadi.
Flash back off
"Apa dia memasukkanya ke tasku." Kata Nahda segera memeriksa tasnya.
Dan benar saja kotak hadiah yang di berikan Iqbal ada di dalam tasnya, ia pun segera membukanya.
"Wah bagus sekali." Kata Nahda melihat sebuah gelang yang terbuat dari benang berwarna biru dengan gantungan 2 bintang dan 2 kupu-kupu berwarna emas, serta huruf I&N.
Setelah itu dia membalas pesan dari Iqbal.
》"Bagus Kak, aku suka, terima kasih." Kata Nahda.
》"Sama-sama." Balas Iqbal.
Drrrrttt drrrrrttt
Ponsel Nahda bergetar, Viona dan Elin melakukan panggilan vidio.
"Ehem ehem ada yang baru jadian nih." Kata Viona menggoda Nahda.
"Apaan sih, jadian sama siapa juga?" Tanya Nahda heran.
"Iqbal." Jawab Viona.
"Enggak." Kata Nahda.
"Hadiah apa sih?" Tanya Nahda pura-pura tidak tau.
"Udah deh gak usah pura-pura, kita berdua lihat tadi sampek kamu lari ngibrit juga, hahaha." Kata Viona kemudian tertawa.
"Ternyata kalian ini mata-mata ya." Kata Nahda.
"Eh dia bisikin apa sih sampek lari ngibrit gitu, hahaha kamu tuh lucu banget tahu gak sih." Ledek Viona.
"Gak usah ngeledek, bukan apa-apa." Kata Nahda kesal.
"Biar ku tebak dia pasti bilang I LOVE YOU." Kata Viona.
"Sok tahu kamu." Kata Nahda semakin kesal.
"Emang kamu beneran jadian sama Kak Iqbal Na?" Tanya Elin.
"Enggak Lin." Jawab Nahda.
"Jadi inisial N itu emang kamu ya, kenapa gak cerita ke kita?" Tanya Elin.
"Bukan begitu Lin, aku gak berani mempublikasikan saja, kamu tahu sendirikan Viona itu ember." Jawab Nahda.
"Enak aja ngatain aku ember, aku publikasikan inisial N baru tahu kamu." Kata Viona.
"Coba aja kalau berani." Kata Nahda tak mau kalah.
"Sudahlah kalian ini gak bisa apa kalau tidak bertengkar." Kata Elin.
"Oh ya Nahda hadiahnya apa? Tunjukin dong." Tanya Elin.
"Ini." Jawab Nahda sambil menunjukkan sebuah gelang.
"Wah gelangnya bagus." Kata Elin.
"Di pakai dong." Kata Viona.
__ADS_1
"Gak ah aku simpen aja." Kata Nahda.
"Nahda!" Panggil Hanif masuk kekamar Nahda.
"Iya ada apa om?" Tanya Nahda.
"Ini ayah kamu ingin bicara." Jawab Hanif sambil menyodorkan ponselnya.
"Sebentar om."
"Ya udah ya Viona, Elin aku tutup telfonnya."
"Iya Nahda daaa."
"Daaa."
"Assalamualaukum Ayah, apa kabar?"
"Waalaukumsalam, Alhamdulillah baik, bagaimana denganmu?"
"Alhamdulillah, baik juga Yah."
"Oh iya bagaimana pertandingannya tadi?" Tanya Bagas.
"Tim voli dari sekolahku yang menang Yah." Jawab Nahda.
"Ini hadiah dari siapa Nahda? I&N?" Tanya Hanif mengamati gelang pemberian dari Iqbal.
"Dari temen, Intan dan Nahda." Jawab Nahda.
"Sejak kapan kamu punya teman yang namanya Intan?" Tanya Hanif tidak percaya.
"Beberapa bulan yang lalu." Jawab Nahda.
"Oh iya lalu ini apa? yang memberimu hadiah adalah Iqbal, itu nama laki-lakikan?" Tanya Hanif menunjukkan pesan di ponsel Nahda.
"Ih Om ngapain ngotak-atik hpnya Nahda, sini balikin." Kata Nahda ingin mengambil ponselnya namun gagal.
"Iqbal itu siapa sayang?" Tanya Bagas.
"Kakak kelas dari sekolah Nahda dulu." Jawab Nahda.
"Terus apa maksudnya ngasih hadiah begini ke kamu?" Tanya Hanif.
"Gak tahu." Jawab Nahda.
"Kalau gak tahu kenapa di terima?" Tanya Hanif lagi.
"Tadi aku tolak tapi dia maksa masukin ke tas aku, aku juga gak tau." Jawab Nahda.
"Kalau gitu di buang aja ya." Kata Hanif.
"Jangan dong, sayang bagus tauk." Kata Nahda.
"Hm anak ayah sudah mulai jatuh cinta nih rupanya." Kata Bagas.
"Enggak." Kata Nahda.
"Jangan bohong, ayah bisa lihat dari sini." Kata Bagas.
"Emang gak boleh Yah?" Tanya Nahda.
"Boleh-boleh saja, itu hal yang normal. Yang penting hatinya benar-benar di jaga ya, kamu masih belum paham dengan perasaan itu. Jadi jangan coba-coba bermain dengan perasaan itu." Jawab Bagas panjang kali lebar.
"Iya Ayah, aku juga akan berusaha memcintainya dalam diam saja." Kata Nahda.
"Heleh sok-sokan kamu, mencintai dalam diam apa, sudah berbalas pesan gini." Kata Hanif.
"Ya kan baru usaha Om." Protes Nahda.
"Hahaha iya iya."
Bersambung....
__ADS_1