
Pertandingan masih berlanjut kini memasuki babak ke tiga. Masing-masing tim telah mengumpulkan poin, tim bintang meraih poin lebih unggul dari tim anggrek yaitu 21, sedangkan tim anggrek meraih poin 18.
Fikri menggiring bola ke arah lawan dan di hadang oleh Aldi, Fikri pun mengoper bolanya ke Indra lalu bola di oper lagi ke Yusuf yang sudah di dekat ring dan langsung memasukkannya ke ring, dan berhasil mencetak poin.
Bola digiring Stevan kemudian di oper ke Putra, di oper lagi ke Farel, lalu memasukkannya ke ring dan berhasil mencetak poin.
Aldi menggiring bola di hadang oleh Kemal, bola masih bertahan kemudian di oper Iqbal, lalu di oper ke Putra, lalu di oper lagi ke Iqbal, lalu memasukkannya ke ring dan mencetak poin.
Yusuf menggiring bola di hadang oleh Iqbal lalu di oper ke Indra lalu di oper lagi ke Rizal, lalu memasukkannya ke ring dan mencetak poin .
Mereka sudah di babak terakhir dan waktu tinggal lima menit lagi. Total poin dari tim bintang adalah 43, sedangkan tim anggrek 42 poin.
Yusuf menggiring bola di hadang oleh Farel dan ingin di rebut darinya namun, bola berhasil di pertahankan lalu di oper ke Fikri. Fikri menggiring bolanya mendekati ring lalu memasukkannya dan mencetak 2 poin.
Farel menggiring bola di hadang oleh Kemal, bola itu lalu di oper ke Iqbal lalu memasukkanya ke ring dan mencetak 3 poin.
Bola digiring oleh Indra di hadang oleh Aldi, Indra mengoper ke Rizal, lalu memasukkanya ke ring namun, di gagalkan oleh Farel. Bola di terima oleh Stevan lalu mengoper ke Iqbal lalu memasukkannya ke ring dan mencetak 2 poin.
Priiiitttt
Wasit meniup peluit tanda waktu telah habis.
"Waaaaaaaaaaaaaa!"
"Pertandingan ini di menangkan oleh SMAN BINTANG!"
Tim anggrek mengucapkan selamat kepada tim bintang dengan berjabat tangan secara bergantian.
"Selamat ya, tim kalian memang luar biasa." Ucap Yusuf kepada Iqbal.
"Terima kasih, tim kalian juga tidak kalah hebat." Ucap Iqbal.
"Jika ada kesempatan kita bisa bertanding satu lawan satu, mungkin aku bisa mengalahkanmu." Kata Yusuf.
"Ya tentu saja, kemampuanmu juga luar biasa." Kata Iqbal.
"Baiklah sampai jumpa lagi." Kata Yusuf pergi meninggalkan Iqbal.
"Wah bagaimana kau bisa akrap dengannya?" Tanya Indra.
"Entahlah, kita seperti punya ikatan saudara." Jawab Yusuf.
Iqbal melihat ke arah Nahda yang sedang bersorak gembira, meski jauh namun masih bisa melihatnya dengan jelas. Saat Nahda melihat dirinya, ia pun tersenyum sambil melambaikan tangan untuk menyapanya. Nahda pun membalas senyumannya lalu menunduk karena malu. Seketika itu para fensnya Iqbal pun penasaran siapa yang ia sapa, menolah-noleh melihat ke arah yang Iqbal tuju.
"Hah siapa yang di sapa Iqbal?"
"Wah apa jangan-jangan inisial N ada di sini."
"Hah benarkah ada di mana?"
Nahda yang menyadari itu pun, ikut-ikutan penasaran.
"Nahda siapa yang di sapa Kak Iqbal? Arahnya ke sini." Tanya Rida.
"Iya benar, siapa ya?" Kata Nahda pura-pura penasaran.
__ADS_1
"Oh iya tadi dia bilang inisial N ada di sini, wah kira-kira siapa ya, orangnya pasti ada di sekitar sini." Kata Nahda celingak-celinguk mencari seseorang.
Iqbal yang melihat tingkah Nahda itu pun tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Sedangkan Viona hanya fokus melihat ke arah Nahda dan Iqbal secara bergantian untuk mencari jawaban.
"Oh aku mengerti sekarang, jadi begitu yaa." Batin Viona sambil tersenyum.
"Hai inisial N." Kata Viona pelan kepada Nahda.
"Iya ada apa?" Tanya Nahda refleks menoleh ke arah Viona.
"Oh jadi benar." Kata Viona sambil tersenyum.
"Apa? Namaku Nahda, huruf depannya N, benarkan?" Tanya Nahda.
"Iya." Jawab Viona.
"Lalu kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Nahda.
"Tidak." Jawab Viona.
Setelah mendengar jawaban dari Viona Nahda pun kembali pada posisinya.
"Bagaimana kalau aku mengumumkannya?" Bisik Viona memancing Nahda.
Mendengar itu, Nahda langsung menatap tajam Viona.
"Tenang-tenang aku hanya bercanda, rahasiamu aman kok." Kata Viona sambil tersenyum.
"Rahasia apa Viona?" Tanya Elin.
"Ya rahasia, jika otak mu bekerja kau akan mengerti." Jawab Viona.
"Nahda punya rahasia?" Tanya Rida.
"Rida hargai privasi seseorang." Kata Lina.
"Memang kau tidak penasaran?" Tanya Rida.
"Ya penasaran sih, tapi lebih aman jika kita tidak mengganggu privasi seseorang terlebih teman kita sendiri." Jawab Lina.
"Iya nona kutu buku, tapi aku akan tetap mencari tahu." Kata Rida.
"Heh dasar kau ini, terserah kau saja jika Nahda marah aku tidak tanggung ya." Kata Lina.
"Viona memang menyebalkan, entah bagaimana kalau ketahuan. Pasti dua sekolah akan heboh." Gerutu Nahda dalam hati.
"Nahda!" Panggil seseorang dari belakang.
"Kenapa dia muncul? Bagaimana jika ada yang melihat?" Batin Nahda diam seperti patung dengan perasaan yang tidak karuan dan tidak berniat menoleh ke belakang.
"Apa kita bisa bicara?" Tanya Iqbal namun tidak di respon oleh Nahda.
"Apa aku mengganggumu?." Tanya Iqbal lagi namun tetap tidak di respon oleh Nahda.
__ADS_1
"Ya baiklah aku akan pergi, maaf sudah mengganggu mu." Kata Iqbal pasrah dan pergi meninggalkan Nahda.
"Hah sayang sekali, tapi mau bagaimana lagi. Maaf Kak Iqbal." Batin Nahda.
"Huf aku akan mencari kak Angel untuk menetralkan hatiku ini." Batin Nahda.
.....
"Gue gak nyangka dia bisa selicik itu." Kata Angel.
"Sudah gue bilangkan Ngel, jangan terima tantangan dari Nahda, gak dengerin sih." Kata Aurel.
"Besok-besok lo harus lebih pinter dari Nahda Ngel, dia bukan lawan yang mudah." Kata Alfi.
"Hah iya, sudahlah hanya minta maafkan, itu tidak sulit." Kata Angel pasrah.
"Ternyata kalian ada di sini." Kata Nahda menghampiri mereka.
"Ada apa?" Tanya Angel.
"Menagih hukuman." Jawab Nahda.
"Iya baiklah. Nahda aku minta maaf." Kata Angel dengan nada kesal.
"Begitukah caranya meminta maaf?" Tanya Nahda.
"Sebenarnya apa mau lo?" Tanya Angel kesal.
"Ungkapan dengan lembut dan penuh penyesalan." Jawab Nahda.
"What?"
"Kenapa, tidak bisa ya? Sayang sekali." Kata Nahda memancing Angel.
"Lo ngeremehin gue, itu sangatlah mudah." Kata Angel.
"Dia terpancing lagi." Kata Aurel pelan.
"Biarkan saja sekali-kali dia memang harus di beri pelajaran, kita lihat bagaimana ekspresinya nanti." Kata Alfi pelan.
"Ya kalau begitu silahkan, tenang saja aku tidak akan memberi tahukan kepada siapa pun." Kata Nahda.
"Ehem, Em, Nahda aku minta maaf, waktu itu sengaja menyerang mu dengan bola, aku menyesal." Kata Angel berusaha keras menahan emosinya.
"Hahaha." Aurel dan Alfi tertawa melihat ekspresi Angel berusaha untuk bersikap lembut.
"Diam kalian!" Bentak Angel.
"Ya baiklah permintaan maaf di terima." Kata Nahda sambil tersenyum puas.
"Hahaha." Aurel dan Alfi masih belum bisa berhenti tertawa.
"Ya sudah aku permisi dulu yaa, sampai jumpa." Kata Nahda berpamitan dan pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Awas lo Nahda! Akan gue balas lo!" Teriak Angel.
__ADS_1
Bersambung.....