
"Benarkah itu?" Tanya seseorang dari belakang Nahda.
"Sebentar, suara itu.." Kata Nahda menggantungkan ucapannya karena mendengar suara yang familiar.
Nahda pun langsung membalikkan badannya dan betapa terkejutnya dia meliahat siapa yang ada di belakangnya.
"Hei, Kak. Mendengar pembicaraan orang lain itu tidak baik." Kata Nahda mengomeli orang tersebut.
"Oh begitu ya, maaf aku akan pergi." Kata orang tersebut kemudian pergi dengan senyuman mengambang.
"Bagaimana dia ada di sini? Dia benar-benar ingin menemuiku?" Kata Nahda membalikkan badannya lagi seperti sebelumnya sambil memegang kedua pipinya yang memerah karena malu.
Orang itu adalah Iqbal yang sebelumnya mengirim pesan kepada Nahda bahwa dia ingin menemuinya. Tidak di sangka Iqbal benar-benar datang untuk menemui Nahda, dia pikir hanya candaan saja ternyata serius.
"Haaaa, dia juga tahu kalau aku menyukainya, bagaiamana ini." Kata Nahda sambil menghentak-hentakkan kakinya dan salting sendiri seperti cacing kepanasan.
"Lina kenapa kamu tidak bilang kalau dia ada di sini?" Tanya Nahda menghampiri Lina.
"Ya bagaimana aku memberi tahumu, aku tidak mendapatkan celah untuk berbicara." Jawab Lina.
"Hahahaha." Rida tertawa melihat tingkah Nahda.
"Kenapa kamu tertawa? Tadi kau marah padaku, sekarang menertawakan aku. Kau ini memang menyebalkan." Kata Nahda mengomel.
"Ya maaf, abis kamu lucu sih." Ucap Rida.
"Terserah." Kata Nahda langsung pergi begitu saja.
"Eh Nahda, tunggu!" Teriak Rida mengejar Nahda.
"Aku minta maaf." Ucap Rida sambil mengejar Nahda.
"Kenapa jadi dia yang marah sekarang dan aku yang mengejarnya." Kata Rida kepada dirinya sendiri.
Sedangkan Lina diam tidak ikut berbicara hanya ikut mengejar kedua temannya itu.
"Nahda, berhenti!" Teriak Rida lagi.
"Aku minta maaf sudah salah paham kepadamu." Ucap Rida masih mengejar Nahda.
"Nahda, tolong maafkan aku." Ucap Rida lagi.
"Iya iya." Sahut Nahda masih belum berhenti berjalan.
"Tapi berhenti dong!" Kata Rida menarik tangan Nahda agar berhenti.
"Iya, apa lagi sekarang?" Tanya Nahda.
"Tuh ada yang nungguin kamu." Jawab Rida menunjuk ke arah Iqbal yang berdiri di belakang Nahda.
"Kalian sudah selesai berbicaranya?" Tanya Iqbal.
"Kakak sedang apa di sini?" Tanya Nahda kembali.
"Untuk menemui mu." Jawab Iqbal.
"Eits kalin berdua mau kemana? Temani aku di sini." Kata Nahda menarik tas Rida dan Lina yang ingin pergi meninggalkannya.
"Untuk apa menemuiku, Kak? Ada perlu apa?" Tanya Nahda masih memegang tas kedua temannya agar tidak melarikan diri.
"Aku rindu wajah manismu itu, Dek." Jawab Iqbal sambil tersenyum.
Nahda pun langsung tertunduk malu, entah apa yang akan ia katakan.
"Hei Kakak ada di sini, kenapa lihat ke bawah terus? Ada apa di sana?" Tanya Iqbal menggoda karena gemas melihat tingkah Nahda.
Namun Nahda tetap menunduk tidak berani menampakkan wajahnya yang sudah merah seperti tomat. Sedangkan Lina dan Rida hanya tertawa kecil melihatnya.
"Em maaf Kak, aku harus segera pergi. Om Hanif sudah menunggu ku." Kata Nahda berpamitan dan langsung saja pergi sambil menarik kedua temannya.
Iqbal tertawa melihat tingkah Nahda yang malu-malu kucing.
"Dia sangat menggemaskan." Kata Iqbal melihat Nahda pergi semakin jauh.
"Hei Nahda, kalian belum ngobrol. Kenapa main kabur aja?" Tanya Rida menggoda.
"Diam!" Kata Nahda kesal.
__ADS_1
"Uuh adikku yang manis." Kata Rida masih asik menggoda Nahda.
"Sudahku bilang diam." Kata Nahda semakin kesal.
"Hihihi." Tawa Rida.
.....
Nahda sudah berada di rumah bersama Hanif, ia sibuk memainkan ponselnya di sofa ruang tamu. Tanpa di sadari Hanif memerhatikannya dari belakang, melihat Nahda sedang chatingan dengan Iqbal.
"Ehem, asik banget ya?" Kata Hanif masih di belakang Nahda.
"Eh Om Hanif." Kata Nahda melihat Hanif ada di belakangnya.
"Hayo lagi ngapain?" Tanya Hanif duduk di samping Nahda.
"Gak ngapa-ngapain." Jawab Nahda.
"Itu tadi chatingan sama cowokkan." Kata Hanif.
"Hehe."
"Katanya gak mau pacaran, trus itu apa?" Tanya Hanif.
"Gak pacaran Om, cuma temenan aja." Jawab Nahda.
"Oh ya? Tapi kalian bermain perasaan kan." Kata Hanif.
"Lalu?" Tanya Nahda.
"Ya sama aja." Jawab Hanif.
"Terus gimana dong?" Tanya Nahda.
"Ya harus putus komunikasi dong." Jawab Hanif
"Gak usah cemberut, bilang aja sama dia kalau memang serius, suruh dia nikahin kamu setelah bertemu lagi nanti." Kata Hanif.
"Bagaimana ya." Batin Nahda sambil berfikir.
Setelah lama berfikir akhirnya dia memutuskan untuk putus komunikasi dan mengatakan pada Iqbal seperti yang di katakan Hanif tadi.
"Kaya Om gak pernah ngerasain jatuh cinta aja." Protes Nahda.
"Hehehe iya, ikut om yuk!" Ajak Hanif.
"Kemana?" Tanya Nahda.
"Resto." Jawab Hanif.
"Tumben." Kata Nahda heran.
"Mau ikut apa enggak?" Tanya Hanif.
"Iya ikut dong, masa aku di tinggal sendiri." Jawab Nahda.
"Ya udah sana, siap-siap."
"Oke."
"Katanya ke resto, ngapain kita kesini?" Tanya Nahda bingung karena di ajak ke toko perhiasan.
"Beli cincin." Jawab Hanif.
"Buat siapa?" Tanya Nahda penasaran.
"Ceweklah." Jawab Hanif.
"Wah Om Hanif mau melamar seseorang ya? Siapa?" Tanya Nahda antusias.
"Nanti juga tahu." Jawab Hanif
"Terus kenapa ajak aku?" Tanya Nahda heran.
"Biar gak berdua aja." Jawab Hanif.
"Di resto pasti banyak oranglah om, gak berdua." Jelas Nahda.
__ADS_1
"Sudah jangan cerewet, sekaliankan buat menghibur kamu." Kata Hanif mulai kesal dengan ocehan Nahda seperti anak TK.
"Iya deh."
"Ayo bantuin Om pilih cincinya."
Setelah beberapa saat kemudian mereka akhirnya sampai di resto yang mereka tuju. Orang yang ingin di temui Hanif sudah menunggunya di sana.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Udah lama menunggu ya?" Tanya Hanif.
"Gak kok, mas. Baru aja." Jawab Syifa.
"Ifan, ngapain kamu ada di sini?" Tanya Nahda.
"Kamu sendiri mau ngapain di sini?" Tanya Ifan kembali.
"Makanlah." Jawab Nahda.
"Kalian saling kenal?" Tanya Syifa.
"Kita teman satu kelas, Kak." Jawab Ifan.
"Oh begitu."
"Kalian belum pesan makanan?" Tanya Hanif.
"Belum, mas." Jawab Syifa.
"Nahda, kamu mau pesan apa?" Tanya Hanif.
"Spageti minumnya lemontea."
"Kalian mau pesan apa?" Tanya Hanif kepada Syifa dan Ifan.
"Apa aja boleh." Jawab Syifa.
"Kok apa aja, nanti gak cocok lagi." Protes Hanif.
"Samaain aja deh dengan Nahda." Kata Syifa.
"Oke, mbk pesan spageti dan lemontea 4 ya."
Sambil menunggu pesanan, Hanif dan Syifa saling mengobrol sedangkan Ifan dan Nahda asik bermain ponsel. Setelah pesanan datang, mereka hanya fokus makan saja tanpa ada suara hanya dentingan sendok yang terdengar hingga selesai. Mereka semua hanya diam tidak ada yang berbicara padahal acara makannya sudah selesai.
Nahda mengerti Hanif sedang kebingungan bagaimana mengatakannya kepada Syifa, ia pun mengode Ifan untuk pergi dari sana, namun Ifan tidak mengerti. Akhirnya Nahda mengirim pesan dan Ifan pun mengerti.
"Em aku mau ke toilet dulu." Kata Nahda berdiri dan pergi dari sana.
"Aku juga." Kata Ifan menyusul.
Bukannya ke toilet beneran mereka hanya berpindah tempat agak jauh supanya Hanif bisa leluasa mengungkapkan isi hatinya.
"Em, Syifa."
"Iya, mas."
"Begini."
"Aku sudah lama menyukaimu dan hari ini aku ingin melamarmu. Maukah kamu menjadi teman hidupku dalam suka maupun duka." Kata Hanif sambil meletakkan sebuah kotak kecil berisi cincin yang ia beli tadi di hadapan Syifa.
"Maaf, mas." Kata Syifa menggeser cincinnya ke hadapan Hanif.
"Iya tidak apa-apa." Kata Hanif menyimpan cincinnya kembali dengan rasa kecewa.
"Aku belum selesai ngomong. Cincinnya nanti aja pakeinnya kalau sudah selesai ijab kabul, makanya aku kembalikan." Jelas Syifa.
"Jadi, lamaranku di terima?" Tanya Hanif memastikan.
"Iya, mas." Jawab Syifa sambil tersenyum.
"Alhamdullilah terima kasih Syifa." Ucap Hanif sangat bahagia
"Chie chie ada yang mau nikah nih. Selamat ya. Jadi aku punya temen di rumah." Kata Nahda ikut bahagia.
__ADS_1
Bersambung.....