Tetap Istiqomah Ya

Tetap Istiqomah Ya
Penghianat


__ADS_3

"Nahda, maukah kamu menjadi pacarku." Kata Rizal membuka kotak kecil yang ia bawa.


"Apa?" Kata Nahda membulatkan bola matanya karena terkejut.


Namun Rida lebih terkejut lagi, ia pikir Rizal sudah melupakan Nahda, padahal akhir-akhir ini Rizal lebih akrab dengannya, lalu apa ini.


"Kau tidak salah menyebutkan nama?" Tanya Nahda pelan.


"Tidak, namamu Nahdakan. Kamulah orang yang ada di hatiku." Jawab Rizal.


"Whats? Rizal bener-bener nembak Nahda secara terang-terangan gini." Kata Angel.


"Gak tahu tuh Rizal, gue yakin pasti di tolak dan mengacaukan pestanya." Kata Aurel.


"Kalau di terima gimana." Kata Alfi.


"Gue gak akan biarin dia hidup dengan tenang." Kata Angel


"Jadi bagaimana Nahda, maukah kamu menerima cinta ku?" Tanya Rizal.


"Terima! Terima! Terima! Terima!" Seru para tamu indangan.


Rida yang mendengar itu pun hatinya tidak karuan, ia mundur beberapa langkah dan pergi dari sana.


"Aku tidak menyangka dia akan melakukan ini dan di mana Rida, dia pasti terluka. Bagaimana ini aku tidak mungkin langsung menolaknya, acaranya pasti akan kacau." Batin Nahda bimbang.


"Em, bisa kita bicara di luar." Kata Nahda dan pergi lebih dulu.


"Kenapa?" Tanya Rizal heran dan pergi mengikuti Nahda.


"Heh kenapa mereka pergi? Bukannya ini kejutan?"


"Tidak tahu, mungkin ceweknya malu kalik."


"Masa sih begitu, mungkin saja di tolak."


"Tidak tahu, aku juga penasaran."


Dan masih banyak lagi bisik-bisik para tamu undangan.


"Mohon maaf sepertinya mereka butuh waktu untuk bicara jadi, kita tunggu mereka kembali, silahkan sambil menikmati makanan yang kami sediakan." Kata mc mempersilahkan para tamu untuk menikmati makanan yang di sediakan.


Rida ada di mobilnya sedang menangis di temani Lina.


"Lina apa yang terjadi padaku? Hatiku rasanya sakit hiks hiks." Kata Rida sedih.


"Rida, jangan menangis." Kata Lina memeluk Rida.


"Sudahku bilangkan jangan terlalu berharap kepadanya, kenapa kau tidak mau dengar. Sekarang kau sendiri yang merasa sakitkan." Kata Lina masih memeluk Rida.


"Sudahlah jangan menangis, aku yakin Nahda tidak akan menerimanya dan sudahlah lupakan saja dia." Kata Lina menghapus air mata Rida.


"Ayo kita pulang saja!" Ajak Lina.


Rida menjawab hanya dengan anggukan saja.


Nahda dan Rizal sudah berada di halaman rumah.


"Kak Rizal, apa yang kau lakukan?" Tanya Nahda.

__ADS_1


"Kau sudah tahu kenapa bertanya." Jawab Rizal.


"Tapi kenapa harus di tempat umum?" Tanya Nahda.


"Memangnya kenapa?" Tanya Rizal kembali.


"Karena aku tidak mau mempermalukanmu dan merusak acara ulang tahunmu." Jawab Nahda.


"Maksudnya?" Tanya Rizal tidak mengerti.


"Maaf Kak, kerena aku tidak bisa membalas perasaanmu." Jawab Nahda.


"Kenapa?" Tanya Rizal.


"Karena aku ingin fokus belajar dan tidak ingin berpacaran." Jawab Nahda.


"Kita bisa jadi teman." Kata Rizal.


"Kenapa kau tidak mengerti?" Tanya Nahda.


"Tentu saja, alasanmu itu tidak logis." Jawab Rizal.


"Baiklah aku tanya sekali lagi, kenapa kau tidak mau menerimaku?" Tanya Rizal lagi.


"Karena sudah ada orang lain di hatiku." Jawab Nahda.


"Siapa?" Tanya Rizal.


"Kau tidak perlu tahu." Jawab Nahda.


"Apa orang itu Fikri?" Tanya Rizal lagi.


"Bilang saja kalau itu hanya alasan, kenapa Nahda? Cintaku tulus padamu, sungguh." Kata Rizal meyakinkan Nahda.


"Maaf Kak, aku benar-benar tidak bisa menerimamu." Kata Nahda.


Setelah mengatakan itu Nahda langsung pergi mencari Rida dan Lina.


Sedangkan Rizal melempar kotak kecil hitam yang di bawa tadi dan menginjaknya hingga rusak. Kecewa itu pasti, karena harapan yang ia bangun selama ini hancur begitu saja. Dengan perasaan yang kacau Rizal merusak beberapa dekorasi di luar rumah untuk melampiaskan emosinya.


"Sayang ada apa?" Tanya Fera menghampiri putranya karena sudah lama di luar.


"Tidak apa-apa jika dia tidak menerimamu, masih banyak cewek yang baik." Kata Fera mengerti apa yang terjadi pada putranya namun tidak di respon.


"Sudah ya, ayo masuk mereka semua menunggumu!" Kata Fera menarik tangan Rizal, namun masih diam saja.


"Rizal, jangan lemah hanya karena cewek." Kata Fera lagi.


"Iya, Ma." Kata Rizal mulai tenang.


"Ya sudah, ayo kita masuk!" Ajak Fera.


"Dimana mereka apa sudah pulang? Oh iya mobilnya sudah tidak ada." Kata Nahda mencari dua temannya di parkiran.


"Apakah Rida sesedih itu?" Batin Nahda melihat lurus kedepan.


"Nahda!" Panggil seseorang dari belakang.


"Om Hanif." Kata Nahda melihat siapa yang memanggilnya.

__ADS_1


"Mau pulang sekarang apa nanti?" Tanya Hanif seakan mengerti keinginan keponakannya.


"Emangnya boleh pulang sekarang?" Tanya Nahda kembali.


"Boleh, om sudah minta izin." Jawab Hanif


"Ya sudah, aku ingin pulang saja." Kata Nahda.


Hanif sejak masih ada di dalam tadi memperhatikan Nahda, saat Rizal menembaknya dan dia mengikutinya keluar dengan melihatnya dari kejauhan.


.....


Malam telah berganti dengan mentari yang cerah muncul dengan penuh keceriaan namun, tak secerah hatinya Rida.


"Selamat pagi, Rida." Sapa Nahda kepada Rida di depan gerbang sekolah namun tidak di respon.


"Apa kamu baik-baik saja, Rida?" Tanya Nahda.


"Gak usah sok peduli deh, dasar penghianat!" Jawab Rida.


"Apa? Aku tidak menghianatimu, Rida." Jelas Nahda.


"Oh ya, kamu pikir aku akan percaya begitu saja dengan orang yang licik seperti dirimu." Kata Rida.


"Ada apa ini, Rida? Aku tidak mengerti." Tanya Nahda bingung.


"Gak usah pura-pura bodoh. Aku gak nyangka temanku sendiri menghianatiku." Kata Rida.


"Apa masalah tadi malam? Aku tidak menerimanya, Rida." Kata Nahda menebak.


"Oh ya, lalu ini apa?" Tanya Rida menunjukkan foto Nahda dan Rizal sedang berdua di kafe FardanFera duduk saling berhadapan dan saling memandang dengan Rizal tersenyum di ponselnya. Foto itu di ambil dari arang kanan belakang Nahda jadi, wajah Rizal saja yang kelihatan.


"Kamu salah paham, Rida. Itu tidak seperti yang kamu kira." Jelas Nahda.


"Lalu bagaimana dengan yang ini?" Tanya Rida lagi menunjukkan foto Rizal dan Nahda yang lain. Foto ini di ambil saat Rizal mengerjai Nahda di taman dekat toko FardanFera.


"Kalian saling memandang dengan jarak yang sangat dekat, begitukah caramu? Kau menyuruhku untuk melupakannya karena ini? Kenapa kau tidak berterus terang saja sejak awal? Apa memang kau ingin menghancurkan aku?" Tanya Rida bertubi-tubi.


"Rida, tidak seperti itu." Jelas Nahda.


"Cukup, aku tidak ingin melihatmu dan jangan bicara padaku!" Kata Rida dengan nada sedikit tinggi kemudian pergi meninggalkan Nahda.


"Apa yang terjadi sebenarnya? Dari mana foto-foto itu? Ternyata ada yang mencoba menjebakku. Kenapa aku tidak menyadarinya dan siapa yang berhasil memprovokasi Rida?" Batin Nahda masih berdiri di depan gerbang sekolah.


"Nahda, kenapa kau hanya berdiri di sini?" Tanya Lina dari belakang.


"Em tidak apa-apa, kamu tidak bersama Rida?" Jawab Nahda dan kembali bertanya.


"Tidak, mungkin sudah berangkat dulu." Jawab Lina.


"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Nahda memastikan.


"Ya, dia sedih sekali memang tapi sudah lebih baik kok." Jawab Lina.


"Syukurlah kalau begitu." Kata Nahda


"Iya, ayo masuk!" Ajak Lina.


"Ternyata Lina tidak tahu kalau Rida marah padaku." Batin Nahda.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2