
Setelah lumayan jauh Nahda melepaskan tangannya.
"Aku tidak butuh bantuanmu." Kata Nahda langsung pergi meninggalkan Rizal.
"Aku tahu kamu tidak menyukaiku, tapi setidaknya hargai usahaku." Kata Rizal diam di tempat tidak berniat mengejar Nahda.
"Nahda!" Panggil Rizal namun tidak di respon oleh Nahda.
"Hah, sudahlah." Kata Rizal pergi dari sana.
.....
Di kelas X IPS 1
Rida menangis di kelas tanpa suara, menyandarkan kepalanya di atas meja pertumpu dengan kedua tangannya.
"Rida, kamu kenapa?" Tanya Riyan menghampiri Rida, namun tidak di respon.
"Rida!" Panggil Riyan, namun tetap tidak di respon.
"Kamu menangis?" Tanya Riyan lagi sambil menarik kursinya untuk duduk di samping Rida.
"Aku tahu kenapa kamu menangis, sudahlah lupakan saja dia. Lihat sendiri kaulah yang tersakiti."
"Berhentilah menangis. Masih ada aku di sini." Kata Riyan sambil mengusap-usap kepalanya Rida.
"Hatiku terasa sakit melihatmu seperti ini, Da." Kata Riyan masih mengusap kepalanya Ruda.
"Jangan sia-siakan air matamu itu, ini hapuslah air matamu." Kata Riyan meletakkan sapu tangan di meja.
"Aku tahu bagaimana perasaanmu, aku juga temanmukan. Lupakan saja mereka."
"Hah, iya. Terima kasih, Yan." Kata Rida bangkit dan mengusap wajahnya dengan sapu tangan yang di berikan Riyan.
"Ke lapangan yuk!" Ajak Riyan.
"Ngapain?" Tanya Rida.
"Bermain bola masa bermain boneka." Jawab Riyan.
"Aku tidak bisa."
"Aku akan mengajarimu."
"Untuk apa?" Tanya Rida tidak mengerti.
"Tentu saja untuk mengiburmu, kau juga bisa mendapatkan bonus nanti." Jawab Riyan.
"Bonus apa?" Tanya Rida penasaran.
"Memesekkan hidungmu dengan hantaman bola, hahaha." Jawab Riyan sambil tertawa mengejek.
"Hahaha." Tawa Rida.
"Enak saja hidungmu yang akan aku pesekkan." Kata Rida tidak terima
"Kalau begitu, ayo!" Ajak Riyan.
"Oke, siapa takut." Kata Rida setuju.
Di taman sekolah
Lina duduk termenung sendiri memikirkan kedua temannya.
"Ehem, bengong aja mikirin apa?" Tanya Zidan duduk di samping Lina namun tetap menjaga jarak.
"Gak papa." Jawab Lina singkat dengan pandangan lurus kedepan.
"Mikirin kedua temanmu ya?" Tanya Zidan menebak.
"Iya." Jawab Lina.
__ADS_1
"Tidak usah terlalu di pikirkan nanti baikan sendiri." Kata Zidan.
"Bagaimana caranya mereka baikan sendiri?" Tanya Lina.
"Ya mana ku tahu." Jawab Zidan.
"Aku ingin membantu, tapi bagaimana? Apa kau bisa membantuku?" Tanya Lina.
"Untuk apa aku membantumu, itukan masalahmu bukan masalahku. Minta bantuan sama Ifan sana, diakan yang sering membantumu." Jawab Zidan.
"Hah benar juga, untuk apa aku minta bantuan kepadamu. Lebih baik aku temui Ifan saja." Kata Lina kemudian berdiri dan pergi dari sana.
"Apa? Serius? Aku hanya bercanda." Kata Zidan tidak habis fikir.
"Dasar bodoh." Gerutu Zidan kepada dirinya sendiri.
"Lina, Tunggu!" Teriak Zidan mengejar Lina.
........
Di perpustakaan
Nahda menyendiri duduk di bangku perpustakaan sambil membaca buku namun, pikirannya kemana-mana memikirkan bagaimana cara menyelesaiakan masalah yang terjadi padanya.
"Nahda, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Fikri duduk di samping Nahda.
"Iya aku baik-baik saja." Jawab Nahda fokus membaca buku.
"Apa kamu perlu bantuan? Jika perlu katakan saja, mungkin aku bisa membantumu." Tanya Fikri.
"Tidak Fik, aku bisa mengatasinya sendiri." Jawab Nahda menoleh ke arah Fikri sebentar.
"Kamu yakin?" Tanya Fikri memastikan.
"Tentu saja, kamu belum tahu Nahda yang sesungguhnya." Jawab Nahda sambil tersenyum.
"Oh ya, oke oke. Aku akan melihatnya nanti kau ini pahlawan super apa manusia canggih." Kata Fikri.
"Ya mungkin saja begitu." Kata Fikri.
"Hah baiklah, aku akan keluar sekarang." Kata Nahda beranjak pergi.
"Mau kemana?" Tanya Fikri.
"Melanjutkan permainan." Jawab Nahda.
"Oh begitu rupanya, aku mengerti sekarang. Kau adalah gamer dunia nyata." Kata Fikri pergi mengikuti Nahda.
"Ya mungkin begitu." Kata Nahda.
Di kelas XI MIPA 1
Kemal, Ronal dan Lia sedang berdiskusi tentang apa yang terjadi hari ini.
"Bagaimana ini bisa terjadi, kasihan Nahda." Kata Lia.
"Biangkeroknya pasti mereka bertiga." Kata Kemal.
"Kita laporkan saja." Usul Ronal.
"Bagaimana caranya? Kita tidak punya bukti." Kata Lia.
"Tapi Nahda itu keponakannya Pak Fahrikan. Dia bisa langsung melaporkannya sendiri." Kata Ronal.
"Benar juga, tapi dia diam saja." Kata Kemal.
"Meskipun begitu, tetap saja harus ada bukti." Kata Lia.
"Iya benar." Kata Ronal.
"Entah di mana Nahda sekarang. Ini semua gara-gara Rizal." Kata Kemal kesal.
__ADS_1
"Kenapa nyalahin Rizal?" Tanya Lia heran.
"Eh mau kemana lo?" Tanya Ronal melihat Kemal keluar kelas tanpa menjawab pertanyaan dari Lia.
"Mencari Nahda." Jawab Kemal dari depan pintu.
"Gara-gara Nahda mereka jadi suka berantem." Kata Ronal.
"Kenapa jadi nyalahin Nahda, mereka berdua yang tidak sadar diri." Protes Lia.
"Iya iya, perempuan emang selalu paling benar." Kata Ronal.
Di Halaman sekolah
Nahda berjalan sendiri hendak pergi ke kelas, sedangkan Fikri entah pergi kemana.
"Nahda, kamu dari mana saja? Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Kemal tiba-tiba datang menghampirinya.
"Ya, aku baik-baik saja." Jawab Nahda santay.
"Nahda, ternyata kamu ada di sini." Kata Rizal ikut bergabung.
"Ada apa memangnya?" Tanya Nahda datar.
"Tidak apa-apa, aku hanya memastikan kau baik-baik saja atau tidak." Jawab Rizal.
"Lebay lo." Kata Kemal muak dengan bualan Rizal.
"Kenapa? Masalah buat lo?" Tanya Rizal.
"Ya tentu saja, Nahda kena masalah gara-gara lo." Jawab Kemal.
"Kenapa nyalahin gue? Tahu apa lo?" Tanya Rizal mulai tersulut emosi.
"Ya emang lo yang salah." Kata Kemal tidak mau kalah.
"Hah drama apa ini membosankan." Batin Nahda.
"Apa tidak ada yang lebih menarik? Oh aku tahu bagaimana caranya agar menjadi menarik." Kata Nahda dalam hati mendapatkan ide dan pergi dari sana meninggalkan Rizal dan Kemal yang masih bertengkar.
Beberapa saat kemudian
Rizal dan Kemal masih adu mulut dan hampir saja saling menonjok.
"Heh kalian berdua, ini sekolah bukan arena gulat." Bentak Fahri datang bersama Nahda.
Sontak Rizal dan Kemal pun menghentikan aktivitasnya mendengar suara siapa yang memanggil mereka.
"Hehehe kita hanya bercanda, Pak. Benarkan." Kata Rizal sambil menepuk-nepuk bahu Kemal
"Iya, Pak. Kami hanya bermain saja." Kata Kemal.
"Ikut saya sekarang!"
"Baik, Pak."
"Daaaa. Hihihi." Nahda tertawa cekikikan berhasil mengerjai Rizal dan Kemal.
"Wah Lina, temanmu yang satu itu berasal dari planet mana? Bagaimana dia bisa berbuat seperti itu?" Tanya Zidan heran melihatnya dengan Lina dari jauh.
"Aku juga tidak tahu. Tapi sepertinya dia tidak butuh bantuanku." Jawab Lina sama-sama heran juga melihat pertunjukan yang unik itu dan menunggunya sampai selesai.
"Coba lihat cewek itu benar-benar tidak tahu diri."
"Gak tahu tuh, mereka berantem karena karena dia. Malah di laporin."
"Emang resek tuh cewek, harus di kasih pelajaran."
Kata para siswi yang melihat kejadian itu.
Bersambung......
__ADS_1