
Hari ini adalah hari bersejarah dalam hidupku, hari dimana aku menikah. Yah, menikah serasa mustahil. Umurku baru 19 tahun dan yang aku ketahui normal usia untuk menikah pada perempuan adalah 23 tahun, lah aku? Baru 19, haha, tapi demi melihat senyum bahagia yang terbit di bibir kedua Orang tuaku karena aku akan menikah dengan seorang anak tunggal dari Keluarga Sastriwijaya, dimana Keluarga itu sudah banyak berjasa pada Keluarga kecilku. Kenapa aku bilang berjasa? Karena, saat ketidak mampuan Ekonomi Keluargaku untuk menyekolahkan aku serta kedua adikku, Keluarga itu datang ke rumah dan memberi bantuan secara cuma-cuma pada Keluargaku. Mereka sangat baik, dan sekarang aku membalas kebaikanya dengan menikah pada putra tunggalnya, Arthan Sastriwijaya.
Eh, hampir lupa. Perkanalkan, namaku Thalita Wardana. Aku sudah tamat sekolah SMA dan tidak berniat melanjutkan ke tingkat lebih tinggi lagi, Kuliah.
Acara pernikahanku di langsungkan di rumah Keluarga Sastriwijaya, kalian tahu? Rumahnya mirip istana kerajaan, mewah perlengkapan rumahnya berharga belasan juta mungkin ada juga Milyaran. Bahkan kamar yang aku tempati untuk di rias sangat besar dan luas, di dalamnya ada kasur King Zise yang empuk, lemari kaca yang besar serta banyak perhiasan mahal di dalamya, dan masih banyak lagi.
Aku beruntung akan menjadi bagian dari Keluarga ini, bukan ... bukannya aku suka mereka karena harta tapi aku beruntung bisa membalas budi baik mereka selama ini.
Aku sudah dirias oleh seorang perias terbaik, hasilnya sangat amazing, bahkan Orang tuaku tidak percaya itu adalah aku. Gaun pengantin yang aku kenakakan sangat cantik dan indah, kata pembantu di rumah ini Tuan Sastriwijaya memesannya dari luar negri, harganya pun sangat mahal.
__ADS_1
Luar kamar, acara pernikahan sudah berlangsung. Detak jantungku berpacu sangat cepat deg-degan rasanya. Ibu menggenggam tanganku erat, Ayah serta kedua adikku, Tina Wardana dan Aska Wadaya usia mereka baru 11 tahun dan 13 tahun.
"Sah!"
Suara itu menggema hingga kamar yang aku tempati, oh Tuhan aku sekarang sudah berstatus seorang Istri dari putra tunggal Sastriwijaya, Arthan. Usianya terpaut 2 tahun dariku, masih muda.
Ceklek ...
"Ayo, Sayang kita keluar," ucapnya dan langsung mengapit tangan kiriku serta Ibu mengapit tangan kananku.
__ADS_1
Kami bertiga keluar dari kamar menuju ruang tamu yang berjarak sedikit jauh dari kamar tadi, astaga! Sungguh ramai tamu-tamu di luar. Aku dituntun Mertuaku ke dekat suamiku.
Aku menunduk, tapi Ibu memencet tanganku memberi kode agar mengangkat kepala, para tamu langsung mengfokuskan pandanganya padaku, mereka menatap dengan kagum. Aku hanya tersenyum kecil, di balik banyaknya tamu, aku melihat dari arah kanan seseorang perempuan memandangku dengan tatapan benci, Siapa gerangan wanita itu? Ah, aku tidak tahu.
Acara pernikahan berlangsung singkat, sekarang aku sudah berada di dalam kamar besar tadi, aku baru tahu kamar ini milik Arthan.
Gaun besar ini membuatku gerah, aku akan melepasnya dan menggantinya dengan baju yang katanya sudah disediakan Mertuaku di lemari coklat di dalam kamar ini.
Aku buka penutup lemari, oh astaga! baju apa ini? isi dalam lemari itu membuatku kaget, semua baju di dalamnya sangat minim mirip dengan dress selutut ada juga pakaian tidur yang tidak kalah membuatku terkejut, baju tidurnya hanya bagian atas saja, tidak punya celana! Aku bergidik jika memakainya.
__ADS_1
Aku kembali menutup pintu lemari, dan melangkah dengan susah payah karena gaun pengantin yang sangat besar dan berat ini.