
Arthan terus mondar-mandir di depan ruangan rawat Thalita, ia sangat khawatir dengan keadaan Istrinya.
Abi Thalita yang sudah sangat lama dengan mondar-mandir dengan perasaan gelisah itu akhirnya angkat bicara juga.
" Duduklah, Nak tenangkan hatimu jangan terlalu khawatir begitu kau juga pasti sangat lelah dan letih karena seharian ini belum pernah istirahat, " ucap Abi Thalita menggantikan dan mondar-mandir yang Arthan lakukan.
Arthan kemudian menghentikan mondar-mandir nya dan kemudian duduk di sebelah mertuanya, Abi Thalita.
"Abi aku sangat takut kehilangan, Istriku!" gumam Arthan sendu seharian ini air matanya sudah banyak terkuras serta kedua matanya sudah perih.
Di sisi lain, Abi Thalita tersenyum mendengar gumaman Menantunya tengtang takutnya kehilangan Istrinya.
Abi Thalita lalu merangkul Menantunya sambil berkata...
"Kamu mencintainya 'kan?"
Arthan mengangguk menandakan bahwa ia mencintai Thalita.
"Iya, Abi. Arthan sangat mencintainya sangat-sangat mencintainya!"
Lagi-lagi Abi Thalita menerbitkan senyumnya, hatinya lega mendengar perkataan Arthan.
__ADS_1
"Jika kamu mencintainya maka... jangan sia-siakan dia ya, Nak karena Thalita adalah hal paling berarti bagi Abi dan juga Umi."
Arthan menundukkan kepalanya ia merasa lega karena Abi Thalita tidak menyalahkan dirinya namun... di lubuk hatinya yang paling dalam ia begitu merasa bersalah atas apa yang dialami oleh Thalita.
Disaat kekalutan menyelimuti keduanya, pintu ruangan Thalita terbuka dan muncullah seorang Dokter laki-laki yang seumuran Arthan.
Arthan langsung menghampiri Sang Dokter dengan perasaan khawatir.
"Keadaan, Istri saya bagaimana Dokter? Dia baik-baik saja 'kan?"
Wajah Sang Dokter menunjukkan kesedihan, seolah turut merasakan kesedihan Arthan.
"Istrimu sedang mengalami kritis dan membutuhkan transfusi darah 2 kanton dan golongan darahnya A. Dia harus cepat mendapat transfusi darah jika tidak... keadaannya akan memburuk!"
"Thalita... maaf atas ketidak becussan diriku dalam menjagamu, hiks... hiks... aku sungguh minta maaf!"
Abi Thalita juga sama rapuhnya Arthan, ia tidak punya darah yang sama dengan golongan darah Thalita.
"Berapa darah yang diperlukan anakku, Dok?" tanya Abi Thalita.
"2 kantong."
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, Umi Thalita datang dengan setengah berlari menghampiri Arthan dan juga Suaminya.
"Umi... Thalita butuh transfusi darah dan golongan darahnya A."
Abi Thalita menyambut Istrinya sekaligus menjelaskan masalah yang sedang Thalita alami.
"Dokter tolong ambil darah saya! Golongan darah saya sama dengan, Thalita!"
Umi Thalita menghampiri Sang Dokter yang cuma dari tadi menonton dan tidak bisa berbuat apa-apa.
"Baiklah, tolong ikut saya untuk pemeriksaan dan transfusi darahnya."
Umi Thalita mengangguk mengerti ia lalu mengikuti perginya Sang Dokter untuk transfusi darah.
Abi Thalita menghampiri Menantunya yang masih bersimbuh di lantai ia mendengar jelas suara isakan tangis dari Arthan.
"Semuanya akan baik-baik saja, Nak ayo tenanglah. Abi sangat sensitif dengan suara tangis, Abi akan ikut menangis jika mendengar orang menangis."
Abi Thalita memeluk lembut Arthan dan membawanya bangun dan menuntunnya menuju kursi tunggu.
Usapan lembut dan hangat di punggung Arthan sedikit membuat Arthan tenang meski tidak sepenuhnya tenang. Ia tidak bisa tenang jika keadaan Istrinya seperti ini.
__ADS_1
"Seandainya bisa, aku akan menggantikan kamu dirawat, Tha tapi itu tidak bisa." Gumaman dari bibir Arthan terus terdengar selalu.
Arthan sudah tidak menangis lagi karena tidak ingin membuat Abi Thalita ikut menangis karena dirinya.