
Thalita tersenyum manis hingga kedua matanya sedikit menyimpit, inilah yang membuatnya sangat sayang dengan Arthan. Laki-laki itu sangat cepat paham dan perhatian padanya.
"Nanti masalah makannya kita harus lihat, Daddy dulu baru makan!"
Arthan mengangguk saja dan menarik tangan Thalita untuk memasuki ruangan tempat Daddynya dirawat.
Di dalam ruangan itu Tuan Sastriwijaya terbaring lemah tapi keadaannya sudah sedikit membaik setelah diberi suntikan oleh Dokter yang menyakiti hati Thalita.
"Daddy sudah baikan?" tanya Thalita setelah ia mencium tangan Mertuanya itu.
Tuan Sastriwijaya hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan dari Menantunya, Thalita.
Sementara Arthan hanya menatap Daddynya dengan perasaan campur aduk antara sedih dan bahagia. Keadaan dalam ruangan itu mendadak hening.
"Bagaimana honaymoonnya, Arthan lancar?" tanya Tuan Sastriwijaya kemudian.
Thalita yang mendengarnya segera memalingkan wajah dan kemudian menutupnya dengan telapak tangan, ia malu.
"Oh, lanc...,"
Kryuukkukk
Dua orang laki-laki itu menatap Thalita secara bersamaan karena bunyi perutnya, sepertinya si Thalita kelaparan guys! Haha.
"Arthan! Kau ini, Suami macam apa? Istri sampai kelaparan begitu tidak dibawa pergi makan!" Tuan Sastriwijaya mengomeli Arthan.
"Aduh, Daddy jangan marah ke, Arthan. Ini salah, Thalita yang tidak bilang," kata Thalita cepat.
__ADS_1
Sementara Arthan memasang wajah masam pada Daddynya.
"Hehe, maaf!" Thalita mengatupkan kedua telapak tangannya.
Arthan mendengkus kesal pada Thalita menurutnya gadis itu terlalu cepat merasa bersalah walau hanya masalah kecil sekali pun.
"Arthan!" tegur Tuan Sastriwijaya ketika dilihatnya putranya hanya diam saja tampa mengajak Istrinya untuk makan.
"Ia, Dad," jawab Arthan setelah ia menghela nafas pasrah.
Selanjutnya Arthan menarik tangan Thalita untuk pergi ke kantin rumah sakit sebelum Daddynya kembali menegurnya.
Kruyuuukkks
"Hehe, sebentar lagi perutku sabar ya," kata Thalita sambil mengelus pelan perutnya yang sempat kembali berbunyi.
Thalita mendelik kesal ke arah Arthan yang masih setia menarik tangannya.
"Cerewet!" balas Thalita yang tidak mau kalah.
Pletakk
"Dasar tukang pukul kening!" Thalita melotot pada Arthan yang baru saja memukul keningnya dengan satu jari.
Arthan hanya tersenyum merasa kemenangan sendiri. Lamanya berjalan akhirnya kedua pasangan muda itu telah sampai di kantin rumah sakit yang begitu luas dan ramai.
"Kak saya pesan dua mangkuk soto ayam dan dua sari lemon dingin ya, cepat sedikit, Istri saya sudah kelaparan!"
__ADS_1
Penjual itu hanya mengangguk tanda mengerti, sementara kedua pasangan muda itu menuju kursi kosong bagian pojok ruangan.
"Tempatnya bersih dan sehat ya, me husband!" Thalita menatap kagum sekitaran kantin.
Arthan memutar bola mata ke arah samping, Istrinya sangat unik menurutnya.
"Selamat menikmati, Mas dan Mbak yang cantik," kata Pelayan kantin sambil mengedipkan mata ke arah Thalita yang juga ikut menatapnya.
"Istri saya! Sana pergi kau!!" Arthan memarahi si Pelayan.
"Hehe, ia, Mas maaf. Istrinya cantik banget sih," kata Pelayan itu lagi sebelum berlalu cepat.
"Dasar, Pelayan genit! Kau juga sudah punya, Suami masih melirik-lirik orang lain!" Arthan balik memarahi Thalita, sungguh hatinya panas karenanya.
"Pelayannya ganteng!"
"Argggh!"
Hati Arthan bertambah panas dan ia sangat-sangat cemburu.
"Aduh, panas!" keluh Arthan.
Karena terlalu kesal Arthan menyendok kuah soto yang masih panas dan langsung memakannya tampa meniup dahulu alhasil ia diserang rasa panas kuahnya.
Sementara Thalita tertawa geli melihatnya, hanya karena cemburu Suaminya menjadi tidak berhati-hati.
Sekejap masalah yang membuat Thalita sedih dan sakit hati terlupakan hanya karena Suaminya, Arthan. Mereka berdua menikmati lezatnya makanan sambil bercanda tawa.
__ADS_1
Sementara dari jarak agak jauh, seorang gadis cantik sedang mengepalkan kedua tangannya sambil menatap kesal dan benci ke arah dua pasangan muda yang baru menikah itu.