
Thalita pun menghampiri anak kecil yang masih duduk di pinggir jalanan sambil menangis.
"Kenapa nangis, Dek? Ibu kamu kemana?" tanya Thalita sambil menjongkok di hadapan anak kecil itu, anak laki-laki.
Anak kecil tadi menghentikan tangisannya ketika didengarnya, ia kemudian menatap Thalita yang juga ikut menatapnya.
"Ibu aku pergi tidak tahu kemana, Kak hiks... hiks... aku takut disini, Kak aku... mau ketemu sama, Ibu," jawab anak kecil itu sesekali mengelap air matanya.
Thalita menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Tadi, Ibunya izin kemana?" tanya Thalita lagi.
"Izin buat beli makanan, Kak!"
"Ya, sudah, Adek memang tidak diajak masuk juga?"
Anak kecil itu tidak menjawab malah ia melanjutkan tangisanya yang membuat Thalita semakin merasa kasihan padanya.
"Dek jangan nangis ya, ayo ikut sama, Kakak buat beli makanan sekalian bantu cariin, Ibunya." Usul Thalita berharap anak kecil itu bahagia.
Dan benar saja si anak berhenti menangis dan kemudian menarik tangan Thalita untuk memenuhi usulannya tadi.
"Dek tunggu sebentar ya, Kakak mau izin sama, Suamiku baru antarin, Adek!"
__ADS_1
Anak kecil itu langsung menatap Thalita dengan mimik muka hendak menangis lagi.
Thalita menghela nafas pasrah ia pun menurutinya tampa meminta izin dulu pada Arthan. Ia pun berjalan menuju sebuah toko makanan.
"Kak itu, Ibu aku!" girang anak kecil itu dan menunjuk seorang wanita muda di kejauhan.
Thalita menyimpitkan matanya guna untuk melihat arah telunjuk anak itu.
"Ayo, Kak antarin aku sama, Ibu!"
"Ia, Iya, Dek!"
Thalita sempat menoleh ke arah Arthan yang memanggil namanya sambil memberi kode panggil ke arah Arthan untuk menyuruhnya mengikuti, Thalita juga menunjuk ke arah anak kecil yang sedang menarik tangannya.
Sementara Thalita dan anak kecil tadi terus berjalan menuju seorang wanita muda dan cantik yang disebut Ibu oleh si anak.
"Astaga, Rasyah dari mana saja? Ibu dari tadi nyariin!"
Thalita dan anak kecil itu sudah sampai ke arah wanita itu dan anak kecil yang disebut Rasyah memeluk wanita cantik itu.
"Mbak terima kasih sudah mau mengantar, Rasyah," kata wanita itu sambil menatap Thalita penuh arti.
Thalita teringat sesuatu, ia merasa kenal dengan suara wanita itu tapi tetap saja ia memberi senyum dan anggukan.
__ADS_1
"Ya, sudah, Bu saya pamit dulu," kata Thalita dan kemudian berbalik hendak pergi.
Belum beberapa langkah ...
Thakkkhh!
Seseorang memukul kepala belakang Thalita hingga membuat Thalita pusing tapi masih sempat melihat Arthan yang berlari ke arahnya dan kemudian Thalita hilang kesadaran.
Beberapa orang yang berpakaian serba hitam mengangkat tubuh Thalita dan membawanya pergi menuju sebuah mobil putih.
Wanita itu tersenyum sinis ke arah dimana Arthan masih berlari menuju arahnya, sementara anak kecil tadi berlari pergi setelah diberi sesuatu oleh wanita itu.
Wanita itu juga memberi lambaian perpisahan pada Arthan sebelum ia juga ikut lari menuju mobil putih tempat Thalita dimasukkan.
Lamanya setelah mobil putih itu pergi, Arthan baru tiba di tempat itu dengan nafas tidak beraturan.
"Arghhhhh! Thalita!!" Arthan berteriak dan meninju sebuah batang pohon hingga membuat tangannya berdarah.
Arthan mengusap kasar wajahnya, ia frustasi dan merasa gagal melindungi Thalita. Ia juga beberapa kali meninju batang pohon dengan sekeras-keras mungkin untuk melampiaskan kesalahan dan rasa marahnya.
Arthan lalu berlari kembali menuju mobilnya ia tahu yang menculik Istrinya adalah Serina, mantan pacarnya itu.
Bagaimana kedaan Thalita? Ayo beri Semangat pada Author biar lanjutin lagi ceritanya. Jangan lupa like, Vote, dan Ikuti Author ya Guys... I Love You buat dukungannya.
__ADS_1