
Arthan memukul stir mobil dengan sangat kesal dan geram. Dengan mempertimbangkan keputusannya kemudian menuju ke kediaman Serina guna untuk menjemput sang istri sebelum istrinya kembali dilukai oleh Serina.
" Inikah rumah si iblis itu? " tanya Arthan pada dirinya sendiri karena perubahan rumah Serina sangat berbeda ketika mereka masih menjalin hubungan.
Tidak banyak basa-basi Arthan kemudian turun dari mobil tidak lupa ia menyelipkan sesuatu ke dalam kantong celananya sebuah benda yang akan mengejutkan Serina.
Brakkkkkk!!
1 tendangan pintu rumah Serina langsung roboh ke lantai siapa lagi yang melakukannya kalau bukan Arthan kemarahannya sudah sangat memuncak sehingga ia merasakan kemarahannya sudah sampai ke ubun-ubun.
" Nyonya!! "
Para Pelayan di rumah Sherina berteriak histeris melihat Arthan yang tiba-tiba muncul dari balik pintu. bukan, bukan Arthan yang mereka takuti namun sesuatu yang dibawa Artha di tangannya ya, itu yang yang ditakuti oleh para pelayan Serina.
"Beritahu di mana keberadaan istriku!! " 1 bentakan keras Arthan lakukan.
Kedua mata akan nampak memerah karena menahan marah dan baru kali ini dirinya merasa semarah itu.
Arthan mengalihkan pandangannya ketika seseorang muncul dari balik dinding dengan bertepuk tangan.
"Owh, kau datang tepat waktu, Arthan Sayang ha ha ha. Aku... tidak bisa bayangkan jika kau datang terlambat mungkin... Istri tercintamu itu sudah kubunuh atau mungkin aku jual."
Tangan kiri Arthan terkepal kuat, kemudian diangkatnya pistol yang sudah siap ditembakkan pelurunya kepada Serina.
"Lepaskan, Istriku jika tidak... kau akan kehilangan sesuatu yang paling berharga di dalam hidupmu!"
Bukannya merasa takut, Serina malah tertawa lucu sangat lucu seolah-olah itu adalah pertunjukan lucu yang akan dilakukan oleh Arthan.
__ADS_1
"Lepaskan, Istriku wanita ******!!" Arthan meninggikan suaranya membuat para Pelayan menutup telinga.
"Hmm, bisakah kau turunkan nada suaramu? Telingaku sakit mendengar itu." Serina terkekeh kecil.
Arthan semakin geram dibuat Serina.
"Ini adalah kesempatan terakhir bagimu, lepaskan, Istriku sekarang!"
Serina menghela nafas panjang dan membuat exspresinya semengancam dan mengejek.
"Baiklah, baiklah... Pelayan muda bawa gadis tidak tahu malu itu kemari dan jangan lupa juga bawakan aku benda yang sering aku pakai untuknya!" seru Serina dan Pelayan muda mengangguk mengerti.
"Ehm, bisa tolong turunkan pistolmu?" tanya Serina menunjuk santai pistol Arthan yang ujungnya siap menembak dirinya.
"Aku tidak akan menurunkannya sebelum kau biarkan, Istriku pergi bersamaku!"
Brukkkkk
Tubuh seorang gadis malang dengan darah kering di bajunya jatuh terkulai lemas di hadapan Serina serta Arthan, itu adalah Thalita yang sudah tidak sadarkan diri.
"Ini, Nyonya."
"Terima kasih."
Serina menerima pecut dari tangan Pelayan muda dan memamerkannya kepada Arthan.
"Apa yang akan kau lakukan dengan pecut itu wanita licik?!"
__ADS_1
Senyum sinis diterbitkan oleh Serina dan perlahan namun pasti ia mengarahkan pecut itu ke tubuh penuh luka Thalita.
Cpathttt
"Arghhh!"
Tubuh Thalita mengeliat seketika karena merasakan sakit hasil pecut, luka itu menjadi luka baru yang menyakitkan.
Dorrr!
"Beraninya kau!"
Serina memegangi lukanya hasil tembakan oleh Arthan ya, peluru Arthan bersarang di atas ketiak Serina.
Anak buah Serina yang menyaksikan itu tidak tinggal diam, segera mereka maju untuk menyerang Arthan.
Arthan pun tidak tinggal diam pula ia maju untuk menyerang juga.
Dorr!
Dorrr!
Dor!
Setiap gerakan Arthan berhasil meninggalkan peluru di tubuh 3 orang anak buah Serina.
Serina menjadi panik ia harus punya ide menghentikan hal itu.
__ADS_1