Thalita Istri Pendek

Thalita Istri Pendek
Rasa Sakit


__ADS_3

Arthan dan Thalita sudah sampai di rumah sakit hanya beberapa menit saja, di depan rumah sakit sudah ada beberapa Suster yang membawa ranjang dorong untuk Daddy Arthan.


Tuan Sastriwijaya sudah dibaringkan di atas ranjang dorong dengan kondisi menggigil hebat, Arthan panik melihatnya sementara Thalita menyuruh para Suster agar lebih cepat mendorong ia juga sama paniknya dengan Arthan.


Tuan Sastriwijaya sudah dibawa masuk ke dalam ruangan Pasien yang sudah ada Dokter yang siap menangani.


"Aku tidak ingin, Daddy seperti ini, Tha," kata Arthan sambil menunduk.


Thalita memeluk dada bidang Arthan dan mencoba menguatkan Suaminya dari kerapuhan lagi.


"Hmm, Tha aku ke WC sebentar," ucap Arthan dan melepas pelan pelukan Thalita.


Thalita memberi senyum hangat pada Arthan dan menganggukkan kepala tanda menyetujui, selanjutnya Arthan beranjak pergi ke WC.


Setelah kepergian Arthan, pintu ruangan tempat Tuan Sastriwijaya dibuka dan keluarlah seorang Dokter muda yang masih mengenakan masker putih.


"Oh, ini ya, Istrinya mantan pacarku? Cantik tapi... masih cantikan aku, dasar perebut tidak tahu malu!" Dokter itu mendorong tubuh Thalita ke dinding.

__ADS_1


Thalita mengerutkan dahi heran dan tidak tahu mengapa Dokter itu berkata seperti itu. Apa Dokter itu adalah mantan pacar Suaminya? Atau... ah, Thalita tidak tahu.


"Siapa kau? Suamiku tidak pernah punya mantan pacar!" balas Thalita dan balas mendorong Dokter itu namun tubuhnya tidak bergeser karena tubuh Thalita jauh lebih pendek darinya.


"Beraninya kamu!" geram Dokter sambil mencengkeram keras pipi gempul Thalita.


"Dengar! Aku adalah mantan pacar, Arthan dan aku tidak akan pernah membiarkanmu hidup bahagia dengannya. Aku akan merebut kembali apa yang sudah aku punya dan kau... tidak pantas untuk menjadi, Istrinya tapi akulah yang pantas!" Dokter itu meninggikan suaranya.


"Aduh, sakit!" erang Thalita ketika pipinya dilepas kasar oleh Dokter itu.


Pov Thalita...


Dhukk


Aku jatuh terduduk di lantai. Perkataan wanita itu sangat sakit bagiku, aku tidak percaya bahwa Suamiku pernah mencintai wanita lain selain diriku tapi... hati kecilku membenarkan perkataan Dokter tadi.


Kuremas rambutku keras, aku harap semuanya hanya mimpi namun itu tidak mungkin ini nyata. Arthan juga tidak pernah bercerita tentang masa lalunya mungkin ia tidak ingin aku merasa sakit, tapi tetap saja aku merasa sakit.

__ADS_1


Ibu apa seperti ini rasa sakit untuk mencintai seseorang? Hatiku masih terus berdenyut sakit dan perkataan wanita tadi masih tergiang-giang di kepalaku.


Aku usap kasar lelehan air mata yang sempat menetes keluar dan bangkit dari jatuhku, aku mencoba menenangkan hati sebelum Suamiku Arthan sampai di hadapanku dan melihat apa yang terjadi. Aku harus terlihat kuat olehnya agar dirinya tidak tambah merasa rapuh dan rasa salah.


"Kenapa lama?" tanyaku padanya ketika Suamiku sudah ada di hadapanku.


Arthan menatapku sambil memberi senyum termanisnya, senyum yang bisa menghangatkan hatiku cara menumbuhkan benih-benih cinta di hati dan senyum itu membuatku susah untuk membencinya bagaimana pun keadaannya.


"Maaf, Sayang. Tadi aku dipanggil oleh, Suster sebentar," jawabnya dan berlutut sambil meraih kedua tanganku.


Aku rasakan kedua pipiku memanas karena kelakuanya dan ketika bibir hangatnya mencium kedua tanganku.


"My husband!" panggilku padanya.


Ia mengangkat kepalanya untuk menatapku dan kemudian ia berdiri hingga mengharuskanku mendongak untuk menatap wajah super tampannya.


"Ayo, katakan ada apa? Apa, Istri pendekku merasa lapar?" tanyanya dengan kedua tangannya mencubit kedua pipiku.

__ADS_1


__ADS_2