Thalita Istri Pendek

Thalita Istri Pendek
Sandera


__ADS_3

Serina menjadi panik, ia harus punya ide menghentikan perbuatan Arthan jika tidak mau terkena tembakann Arthan.


Bersamaan dengan itu, Thalita sudah sadar dari pingsannya.


"Biarkan aku pergi atau dia mati dengan pisau ini!"


Arthan berhenti menembak dan tinggal satu saja anak buah Serina yang tersisa dan sisanya mati tersimbah darah.


Arthan terkejut melihat Istrinya dijadikan sandera oleh Serina, pisau kecil yang mengkilap sudah ada di hadapan leher Istrinya.


"Biarkan aku pergi!!" teriak Serina.


Thalita tidak melawan ia pasrah karena rasa sakit di tubuhnya sangat terasa membuat tubuhnya lemah tidak berdaya.


Arthan berpikir jalan keluar ia takut kehilangan Istrinya dan di sisi lain ia begitu ingin membunuh Serina.


"Baiklah! Kau boleh pergi, lepaskan Istriku!"


Serina menjadi lega mendengar keputusan Arthan, ia lalu mendorong keras Thalita hingga Thalita tersungkur ke lantai.


Serina melawati Arthan dengan terus mengacungkan pecut ke arah Thalita sebelum ia berbalik hendak lari meninggalkan tempat berbahaya pada nyawanya itu. Serina tidak peduli pada para Pelayannya ia hanya peduli pada dirinya sendiri.


"Nyonya tunggu saya!"

__ADS_1


Anak buah Serina berteriak dan berlari terpincang-pincang menghampiri Serina.


Serina tentu berbalik menengok panggilan dirinya.


Dorr!


"Arhg... kau....,"


Serina menunjuk Arthan dengan exspresi menahan sakit pada tembakan Arthan pada perut kanannya.


Brukkk


Jatulah Serina di lantai karena rasa sakit itu, anak buahnya pun pingsan tidak sadarkan diri.


"Dengar! Jika kalian melapor pada polisi... aku tidak segan-segan membuat kalian seperti itu!"


Selanjutnya Arthan mengangkat tubuh lemah istrinya dan membawanya masuk ke dalam mobil.


" bertahanlah, Sayang aku akan membawamu dengan cepat ke rumah sakit aku mohon bertahanlah demi aku!!"


Arthan yang terus menguatkan Thalita ia berharap sang Istri bisa bertahan hingga rumah sakit, arti tidak ingin kehilangan istrinya yang sudah membuatnya cinta mati kepadanya.


Diam-diam senyum tipis terbit dari bibir Thalita ia sudah sadar meski belum sepenuhnya bisa membuka mata namun ia masih bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Suaminya.

__ADS_1


" Aku mohon janganlah menangis, aku tidak bisa melihat air matamu jatuh karena diriku! "


Thalita berkata meski Arthan tidak akan mendengarnya ya, Thalita hanya mampu bergumam pelan di dalam hatinya.


Seandainya Iya tidak begini maka tidak mungkin artan tidaklah menangis.


Arthan terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh iya harus cepat mencapai rumah sakit karena ia paham rasa sakit yang dialami oleh Thalita Iya tidak boleh membiarkan istri tercintanya menderita lebih lama lagi.


Pip


Pip


Pip!


Arthan terus membunyikan klakson agar pengemudi motor dan mobil cepat pindah dari hadapannya ya, artan terjebak kemacetan.


" Kita akan sebentar lagi akan sampai ke rumah sakit aku mohon kau masih bisa bertahan demi aku dan juga demi Daddy serta Abi dan Umi. "


Arthan terus mengajak Thalita berbicara meski Istrinya tidak membuka mata namun ia berharap Istrinya dapat mendengarnya dan itu pasti Thalita dengar.


Arthan sudah terbebas dari kemacetan ia dengan cepat melanjutkan perjalanannya ke rumah sakit dengan kecepatan penuh pula.


Tiba di rumah sakit cepat-cepat memanggil para Suster untuk membawa Istrinya ke ruang perawatan.

__ADS_1


Arthan membawa Thalita ke rumah sakit tempat dimana jadinya dirawat. Arthan menunggu dengan perasaan gelisah.


Arthan juga sudah menyampaikan masalah ini kepada Umi dan Abi Thalita tapi tidak dengan Daddynya karena kesehatan belum terlalu diperoleh oleh Daddynya.


__ADS_2