Thalita Istri Pendek

Thalita Istri Pendek
Suntikan Darinya


__ADS_3

Wanita bermasker itu melirik sekitar memastikan keadaan sekitar ruangan aman dari laluan orang-orang.


"Hey, Nona sebenarnya kamu ini siapa? Dan apa ada perlu dengan, Pasien Thalita?" tanya Suster muda.


"Aku...,"


Wanita itu tiba-tiba mengangkat tangan kanannya dan mengarahkannya pada leher Suster muda, itu adalah suntikan yang tadinya ingin disuntikkan oleh Thalita.


"Selamat tinggal, maafkan aku!"


Wanita bermasker itu langsung keluar dari ruangan Thalita, bersama dengan jatuhnya si Suster muda ke lantai ruangan Thalita dengan sekarat.


"Di-a me-r-acun-iku, arghh sakittt!!"


Teriakan terakhir dari Suster muda sebelum akhirnya ia berhenti bernafas lagi dengan jarum suntik masih di leher.


Terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke ruangan Thalita dan kemudian masuk di sana.


"Argh! Suster Nina! Tolong!!"


Seorang Suster lain histeris dan berlari keluar setelah melihat tubuh kaku Suster Nina yang sudah tidak bernyawa di lantai.


Arthan sudah tiba di ruangan Thalita namun betapa herannya dia ketika mendapati ruangan istrinya ramai dengan banyak orang terutama ada satu ranjang dorong yang berisi sesosok tubuh wanita.


Arthan jadi panik, ia berlari menuju ruangan Thalita. Perasaan Arthan menjadi tidak enak kalau-kalau itu adalah Istrinya.

__ADS_1


"Tidak!! Tidak, aku mohon jangan bawa Istriku!"


Arthan menahan laju ranjang dorong itu dengan turus berteriak histeris ia meminta agar jangan membawa Istrinya tapi nyatanya itu bukanlah Thalita.


"Arthan... apa yang kau lakukan biarkan mereka membawanya."


Arthan mendongak, dan mendapati Abi Thalita menatap heran ke arahnya.


"Tidak, Abi! Istriku belum meninggal!" bantah Arthan dan kembali menahan ranjang dorong yang sudah ingin kembali didorong.


Abi Thalita tersenyum manis dan kemudian melirik para pendorong untuk kembali lanjut melakukan apa tugas mereka.


"Tidakkk! Jangan bawa Istriku!"


"Arthan...,"


"Thalita!"


Thalita mengangguk lemah, Arthan kemudian berlari memeluk dirinya dengan erat membuat Thalita sedikit meringis karena luka yang masih belum sembuh Arthan sentuh.


"Maaf, Sayang. He he he, mari aku gendong ke atas ranjangmu kau pasti masih lemah bukan?" tanya Arthan lembut.


"Ya, aku memang lemah tapi Suamiku lebih lemah dan konyol!"


Arthan terkekeh kecil dan mulai menggendong Thalita menuju pembaringan.

__ADS_1


"Ckckc, kalian memang sudah sangat cocok!"


Arthan menoleh ke arah samping dimana di sana ada Daddynya serta juga Umi Thalita yang baru saja menggoda dirinya bersama Thalita.


Arthan hanya memberi senyum hangat dan menarik kursi lalu duduk di dekat Thalita.


"Apa ada yang sakit?"


"Tidak ada!" ketus Thalita.


Arthan menggaruk kepalanya ketika Istrinya menjawab pertanyaannya dengan ketus.


"Kenapa, Tha? Apa aku punya salah?"


"Pikirkan saja salahmu!" lagi-lagi Thalita menjawab dengan ketus.


Arthan terdiam sebentar memikirkan apa salahnya pada Thalita, sedangkan Abi, Umi, dan juga Daddynya saling pandang bahagia.


"Ah, itu... maafkan aku, Tha sungguh aku tidak berpikir jernih saat itu." Arthan menangkupkan kedua tangannya di depan dada meminta maaf.


Nyata Thalita tidak bergeming dan masih tetap dalam posisi mengalihkan pandangannya.


"Tha, aku minta maaf sungguh!"


"Baiklah jika kau menginginkan aku mati! Oke, baiklah!"

__ADS_1


Arthan membulatkan matanya mendengar perkataan Thalita.


__ADS_2