
"Bibi!!"
Seorang wanita setengah abad datang dengan terngepoh-ngepoh menghampiri Serina.
"Ada apa, Nyah?" tanya wanita itu yang masih mengatur pernapasan habis berlari.
"Ini nasi sama lauknya bawa kepada gadis ****** yang saya sekap di gudang sekarang!" perintah Serina.
"Baik, Nyah saya bawakan."
Bibi Nur lalu berjalan dengan sepiring nasi dan lauk yang sudah tidak layak untuk dimakan lagi untuk Thalita.
Sejujurnya Bibi Nur tidak sampai hati memberikan makanan itu pada Thalita namun apalah dayanya yang hanya pembantu dan takut dipecat ataupun dikurangi gaji dan jatah makannya. Bibi Nur juga punya keluarga di Desa yang perlu ia kirimkan uang hasil separuh dari gajinya.
"Saya datang atas perintah, Nyonya Serina untuk mengantar makanan, Tuan." Bibi Nur menyapa para anak buah Serina dengan wajah tertunduk takut.
"Masuk! Awas bila kamu melepaskan gadis itu!"
Anak buah Serina masih sempat memberi peringatan pada Bibi Nur jika ia melepas Thalita.
"Ya, Gusti...,"
Bibi Nur menutup mulutnya dengan satu tangan menyaksikan penampilan Thalita yang sangat prihatin.
Ada banyak darah di sekitar perut dan sudah membasai sebagian pakaian Thalita, Bibi Nur sendiri merasa ngilu melihatnya.
"Non, Nona bangun. Saya bawa makanan untuk, Nona." Bibi Nur menepuk pelan pipi Thalita.
Ya, Thalita masih belum sadar atau lebih tepatnya masih pingsan.
"Auhss, aduh!" suara erangan kesakitan dari Thalita menghentikan kegiatan Bibi Nur yang menepuk-nepuk pipinya.
"Jangan sakiti saya!!"
__ADS_1
Thalita berteriak histeris ketika pertama kali membuka mata.
"Eh, Non saya tidak berniat jahat. Saya cuma mengantar makanan dari, Nyonya Serina untuk Nona." Bibi Nur mencoba menenangkan.
"Hiks, tolong lepaskan saya, Bu saya mau pulang!" Thalita mengiba dengan suara seraknya.
Tenggorokan Bibi Nur sakit mendengar pengibaan Thalita yang begitu menyakitkan.
"Ini, Nona makanannya maaf makanannya sudah tidak layak untuk dimakan saya juga tidak berani membantah, Nyonya Serina."
Thalita menatap piring makanan di tangan Bibi Nur yang sudah berair dan basi serta baunya sangat tidak enak.
"Tidak! Itu bukan makanan! Saya bukan hewan yang makan makanan basi begitu!" tolak Thalita keras.
Pukkk
Pukk
Serina datang dengan tepukan tangan dan senyum sinisnya.
"Kau keluar saja! Biar gadis ****** ini aku yang mengurusnya!"
Bibi Nur mengangguk patuh dan ia pun keluar dari dalam gudang menuju dapur dengan hati perih.
"Makan!!" bentak Serina memaksa Thalita untuk makan.
Thalita membelok-belokkan kepalanya menghindari suapan dari Serina.
Plakk
Plakkk
Plakk
__ADS_1
Tiga tamparan keras mendarat sempurna di pipi Thalita, pipi itu sudah merah dan terasa panas.
"Buka mulutmu sialan!!"
Serina terus memaksa Thalita untuk membuka mulutnya.
Serina yang kawalahan menatap tajam ke arah anak buahnya, memberi kode agar mereka membantunya untuk membuka mulut Thalita.
Satu suapan masuk ke dalam mulut Thalita, gadis malang itu ingin muntah memakannya.
***
Sementara Arthan sudah hampir putus asa untuk mencari Thalita, Istrinya itu.
"Kemana kamu disembunyikan, Sayang?!"
Ting
Ting
Ting
Notif whatsapp masuk ke nomor telpon Arthan, segera ia meraihnya dan membuka notif itu.
Isi pesan...
'***Istri jalangmu itu ada padaku Sayang dan... keadaannya sungguh membuat diriku puas ha ha ha.'
'Oh, iya, Istrimu itu sudah aku tembak dengan sangat menyakitkan dan itu tidak sepadang dengan luka hatiku yang kau beri, Arthan Sayang***.'
'Datanglah ke rumahku secepatnya atau... Istrimu itu mati dan mungkin akan aku jual ha ha ha, jalan Makhirah no.15 ya, Sayang ummcuah.'
Arthan memukul setir mobilnya geram sekali.
__ADS_1