
10 menit Thalita di dalam kamar mandi belum ada tanda-tanda ia akan keluar, Pelayan tadi masih menunggu Thalita keluar dengan perasaan was-was takut Nyonya besar masuk ke ruang dapur untuk memeriksa pekerjaan para Pelayan dan mendapati Thalita keluar dari kamar mandi khusus untuk para Pelayan. Ia takut di pecat dan berkurang upahnya.
Phukk ...
"Arhhh!"
Pelayan tadi kaget ketika seseorang menepuk pundaknya dan dengan cepat ia berbalik untuk melihat siapa yang sudah menpuk pundaknya.
"Kau rupanya, Lastri bikin kaget saja!"
"Maaf, siapa di dalam kamar mandi?" tanya Pelayan Lastri.
"Oh itu, itu... anu itu, eh."
"Kau ini kenapa? Di dalam kamar mandi siapa, Moca? Apa Pelayan lain?" tanya Pelayan Lastri, ia agak heran dengan Pelayan Moca.
"Eh, di dalam Nyonya muda," ucap Pelayan Moca pelan tapi masih bisa di dengar oleh Pelayan Lastri.
"Apa!! Nyonya muda? Kenapa kau tidak melarangnya masuk ke dalam kamar mandi kita? Aduh, kalau Nyonya besar tahu bisa di pecat kita, Moca," kata Pelayan Lastri sedikit keras, hingga beberapa Pelayan yang agak dekat dengan area kamar mandi sempat berbalik ikut heran juga.
"Aku sudah melarangnya, Lastri. Tapi, Nyonya muda tetap bersih keras ingin masuk mandi," ucap Pelayan Moca.
__ADS_1
Ceklek ...
Thalita keluar dari dalam kamar mandi dan sudah lengkap dengan baju dress biru langitnya, ia terpaksa memakai baju dari Mertuanya karena tidak enak dengan Nyonya Sastriwijaya.
Pelayan Moca dan Pelayan Lastri masih berdebat, Thalita tahu itu pasti karena dirinya.
"Apa kalian ingin terus berdebat? Hanya karena masalah kecil saja?" tanya Thalita.
Kedua Pelayan itu menghentikan debatanya lalu berbalik ke Thalita, dengan sepontan mereka berdua langsung menunduk.
"Maafkan kami, Nyonya muda." Pelayan Moca menangkupkan kedua tanganya tanda permohonan.
Ceklek ...
Thalita memasuki kamar dan langsung mendapati Arthan yang berdiri pas di balik pintu.
"Good, Honay dressnya cocok untukmu tapi sayangnya kau terlalu pendek. Sepertinya aku akan membelikanmu kapsul peninggi tubuh, hmm!"
Arthan menaruh telunjuknya di dagu tanda berpikir, sedangkan Thalita menatap masam kearahnya lelaki ini selalu mengatainya pendek, menyebalkan.
"Sudah berfikirnya, aku harus menyiapkan pakaian untuk persiapan dadakan ini," ucap Thalita mendorong Arthan.
__ADS_1
"Istri pendekku ngambek, nih ceritanya? Hahaha, pendek-pendek kok cepat ngambek, hihi nanti tambah pendek lo."
"Arthan!!!" Thalita berteriak nyaring hingga Arthan menutup telinganya rapat-rapat.
"Sabar pendek!" sungut Arthan.
Thalita tidak menanggapi lagi perkataan Arthan, ia mendekati meja rias dan menyisir rambut sebahunya lalu mengambil penjepit rambut dan menjepit sebagian rambut di sebelah kanannya.
"Lipstiknya padat semua." Gumam Thalita sambil memandangi semua Lipstik hadia pernikahannya.
Merasa tidak ada yang memikat hatinya, Thalita berjalan menuju kopernya untuk menganbil Lip tin orange miliknya.
Arthan hanya memperhatikan Thalita dengan heran, wanita itu selalu saja memakai punyanya jika hadia dari Mommynya kurang memikat di hatinya.
Thalita membuka Lip tin nya lalu mengoles bibir bawahnya sedikit dan menyatukan bibir atas dan bibir bawah.
"Yuk, ke ruangan Daddy!" ajak Thalita sambil menggandeng lengan kanan Arthan.
"Tumben mesra-mesryah?" tanya Arthan sambil menarik koper miliknya dan Thalita menarik koper miliknya juga.
Mereka berdua berjalan menuju ruang Tuan Sastriwijaya, para pelayan yang mereka lalui selalu benunduk memberi hormat.
__ADS_1