
Thalita memasang wajah masam dan mengambil secara kasar kembang gulanya di tangan Arthan.
"Ceritanya, Istri pendekku marah, nih?" tanya Arthan mencolek dagu Thalita.
Thalita tetap memasang wajah masamnya, Arthan terus saja menyebutnya pendek dan pendek. Menyebalkan.
Arthan menaruh jari telunjuknya di dagu tanda berfikir agar Thalita tersenyum lagi, tidak lama Arthan tersenyum ia sudah mendapatkan ide.
"Tha, kamu suka bunga sakura, bagaimana kalau aku foto seperti model," ucap Arthan berharab Istri pendeknya berhenti marah padanya.
Thalita yang mendengarnya langsung kaget sampai-sampai penusuk kembang gulanya hampir masuk ke dalam mulutnya.
"Ayo, aku akan jadi model dadakan oleh, Suamiku sendiri!!" teriak Thalita dan penusuk kembang gulanya ia lemparkan ke wajah Arthan.
"Dasar!" batin Arthan.
"Yasudah cepat!" tegas Arthan.
Thalita memeluk pohon sakura lagi dan menyuruh Arthan agar cepat memfotonya.
"Kurang bagus, Tha! Coba angkat kakimu satu," kata Arthan.
Thalita kemudian mengangkat kakinya satu di belakang sambil memeluk pohon bunga sakura lalu tersenyum manis ke arah kamera Arthan.
Angin sore tertiup membuat rambut sebahu Thalita sedikit berantakan, bunga sakura berjatuhan dari pohonya dan terbawa angin begitu saja.
Cekrekk
__ADS_1
Arthan berhasil mengambil foto tepat saat momen indah itu, hasilnya sangat cantik membuat Arthan bangga dengan hasilnya.
"Bagaimana? Dapat tidak?" tanya Thalita mendekat ke arah Arthan.
"Ia sangat mengagumkan!"
Arthan memperlihatkan hasil foto itu pada Thalita, ia juga sangat terpukau dengan foto dirinya. Bunga sakura yang terbang terbawa angin begitu saja.
"Lagi, my husband!" teriak Thalita sambil berlari lagi.
Arthan tersenyum melihat Istri pendeknya sudah tidak marah lagi padanya.
"1, 2, 3, senyum!"
Cekrek
Cekrek
Cekrek
Jadilah Thalita model dadakan oleh Arthan dan para pengunjung taman bunga sakura.
Tidak terasa sudah ingin malam, Arthan menghentikan mengambil foto model Thalita dan mengajaknya ke apartemen pesanan Daddynya.
"Aduh, lapar banget, Arthan!" keluh Thalita, sambil mengelus perutnya.
"Nanti jika sudah sampai di apartemen kita makan, Istri pendekku." Bujuk Arthan dan Thalita hanya mengangguk walau di dalam hatinya kesal, orang sudah sangat lapar malah ia anggap entteng, Arthan menyebalkan.
__ADS_1
Mereka berdua naik bus untuk mencapai apartemen karens jaraknya sedikit jauh dari arah Taman.
Butuh waktu 1 menit untuk sampai, di dalam bus Thalita hanya meminum berteguk-teguk air sekedar untuk mengurangi rasa lapar yang menerjangnya. Sebenarnya Arthan juga sama merasakan lapar seperti Thalita namun ia tidak melengguh seperti Istri pendeknya.
Tidak berapa lama mereka sudah tiba di apartemen, lagi dan lagi Thalita dibuat kagum dengan bangunan apartemen.
Kruyukkk
Arthan terkekeh ketika ketika perutnya berbunyi, dan diikuti pula oleh bunyi perut Thalita yang tidak kalah besar.
Mereka saling bergandengan tangan memasuki dalam apartemen mereka di sambut langsung oleh pemilik Apartemen, ia mengatakan jika kamar mereka berada di tingkat ke 3.
Arthan hanya menganguk, dari luar anak buah pemilik apartemen membawa 2 buah koper.
Arthan langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk di kamarnya sedangkan Thalita duduk di sofa.
Tok
Tokk
Tokkk
Thalita menuju pintu untuk melihat siapa yang sudah mengetuk pintunya.
"Shokuji o o tanoshimi kudasai,"
[Selamat menikmati hidangan kami,] kata orang itu yang ternyata adalah pengantar makanan.
__ADS_1
Thalita hanya mengangguk dan tersenyum lalu menerima nampan berisi makanan khas Jepang itu.
Arthan bangkit dari pembaringannya lalu menghampiri Thalita yang akan sedang makan, mereka akhirnya makan dengan lahap Thalita makan menggunakan tangan karena tidak tahu menggunakan sumpit.