Thalita Istri Pendek

Thalita Istri Pendek
Pagi hari yang menyakitkan


__ADS_3

Thalita lalu mengusab air matanya lalu langsung memeluk Suaminya yang kembali menangis, jam baru menunjukkan pukul 06:10 sudah menjelang pagi hari.


Arthan membalas pelukan Thalita, sungguh mimpi itu sangat seperti nyata, ia mulai menceritakan semua yang di rasakannya di mimpi tadi, Thalita sendiri mendengarkannya dengan baik sesekali ia menghapus air matanya karena ikut dengan yang di rasakan oleh Suaminya.


Pagi sudah datang namun matahari tidak muncul melainkan salju yang datang, Arthan dan Thalita masih berpelukan namun sudah tidak menangis lagi.


Ting


Arthan melepas pelukannya lalu mengambil handphonenya untuk membuka notif pesan tadi.


Thalita ikut melihat notif pesan itu, ia begitu penasaran ingin membacanya karena di situ tertera nama Daddy Sastriwijaya.


Isi pesan


"Nak, Mommymu sudah pergi meninggalkan kita, Arthan."


Thalita dan Arthan kembali menunduk setelelah membaca notif itu, pesan yang singkat namun begitu benusuk di hati.

__ADS_1


"Mommy... jahat!"


Thalita memeluk Arthan, Suaminya ini begitu rapuh sekarang. Thalita berusaha agar tidak kembali menangis namun usahanya sia-sia ia ikut meneteskan air mata.


Baru beberapa jam mereka lepas dari air mata dari mimpi buruk Arthan dan sekarang mereka berdua menangis lagi, mimpi Arthan menjadi kenyataan. Nyatanya pengharapan Arthan agar hal itu tidak terjadi tapi sekarang menjadi kenyataan.


"Tha, ini hanya mimpi 'kan? Mommy, masih sehat-sehan 'kan?, Tha jawab!!" Arthan mengguncang-guncang tubuh Thalita.


Thalita hanya menganguk dengan derai air matanya, sungguh ia juga mengharabkan semua ini hanya mimpi. Mommynya, ia harab ia akan menyambut di bandara nanti namun itu tidak akan pernah terjadi.


"Tha, kemas semua barang-barng kita, Mommy pasti sudah sangat rindu dengan kehadiran kita lagi cepat, Tha!"


"Ya, aku harab... kejadian ini cepat berlalu," kata Thalita ia mengemas seluruh pakaiannya dan Suaminya ke dalam koper.


Arthan sudah keluar dari kamar mandi, ia begitu cepat mandi dari sebelumnya.


"Mandilah, Tha kita akan berangkat lebih cepat, aku sudah merindukan pelukan, Mommy," ucap Arthan.

__ADS_1


Hati Thalita sedikit terluka dan ingin kembali menangis, Suaminya Arthan belum menerima kenyataan.


Tidak ada yang bisa dilakukan Thalita kecuali hanya meneruti, ia harus punya cara agar Suaminya kembali ceria seperti sebelumnya.


Thalita sedikit tergesa-gesa saat mandi dan bersiap ia teringat perkataan Arthan bahwa akan berangkat cepat.


Setelah Thalita keluar dari kamar mandi dengan keadaan sudah lengkap pakaian, ia melihat Arthan berdiri di depan jendela dan menghadap jalanan.


Thalita juga melihat ada beberapa hidangan makanan ia berfikir bahwa Arthan yang memesan atau dari Apartemen.


"Suamiku, harus kuat tidak boleh lemah lelakikan anak yang harus kuat dalam hal apapun 'kan? Jika, Suamiku sedih maka akupun sedih," ucap Thalita sambil memeluk Arthan dari belakang.


Arthan merasakan lembutnya pelukan Istri pendeknya, ia merasa betul yang di katakan Thalita, Momnynya pun sering bilang begitu padanya ketika ia habis dibully oleh teman-temannya. Yah, dibully. Kalian pasti sedikit heran mengapa Arthan sering dibully dulu karena dulu waktu ia SD, SMP, dan SMA sangat jauh dari kata sempurna pada rupa yang dari kata lain berwajah jelek.


Thalita juga sama dengan Arthan, bedanya karena Thalita terkena bully sampai kuliah kalau Arthan hanya sampai SMA.


Oke kembali ke Arthan dan Thalita ...

__ADS_1


Arthan berbalik ke Thalita, ia membalas pelukan Istrinya itu.


__ADS_2