
2 jam lamanya Thalita dan Uminya melakukan transfusi darah, barulah Arthan serta Abi Thalita dibolehkan untuk menjenguk ke dalam ruangan.
Sekarang di hadapan Arthan, satu tubuh Istrinya yang terkulai tidak berdaya dan masih menutup kedua matanya masih enggan terbuka untuk menatap Arthan yang sudah lama menunggu senyum dan kekonyolannya.
Di samping Thalita ada Uminya yang menatap Arthan dan Suaminya dengan senyum manis, senyum yang sama dengan senyum Thalita.
Peluru dalam tubuh Thalita sudah dibuka oleh Dibersihkan dengan selesainya transfusi darah 2 kantong Thalita sudah melewati masa kritisnya dan tidak lama akan sadar.
Umi Thalita sudah merasa lebih baik dari sebelumnya.
Arthan menarik kursi dan duduk di samping tempat tubuh Thalita, Arthan menggenggam tangan Thalita yang sudah sedikit menghangat dan tidak sedingin sebelumnya.
"Ayo, Tha buka matamu. Kau pasti rindu bukan padaku? Atau kau ingin melihat keindahan serta guguran bunga sakura 'kan?" tanya Arthan sambil terus menatap wajah pulas Istrinya.
"Jika kau rindu padaku dan ingin menikmati bunga kesukaanmu maka... tolong buka matamu, Sayang. Aku berjanji akan membawamu menikmati bunga-bunga oh, ayolah buka matamu aku merindukanmu!"
Kedua mata Arthan sudah memerah menahan bobolan air mata, ia harus terlihat kuat di hadapan Istrinya meski ia ketahui dirinya begitu rapuh.
__ADS_1
Umi dan Abi Thalita yang mudah mengerti berpamitan kepada Arthan dengan alasan ingin menjengu Daddy Arthan.
"Apa, Umi sudah merasa lebih baik?" tanya Arthan sedikit merasa ragu.
Umi Thalita tersenyum dan mengangguk tanda sudah merasa lebih baik, dengan ragu Arthan menyetujui mereka menjenguk Daddynya.
"Umi dan Abi paham jika kita tidak boleh diganggu kan, Sayang? Oh, aku tahu kau pasti sudah sangat lapar bukan? Ya, baiklah aku akan membelikanmu makanan dulu." Arthan mengecup kening Thalita sebelum keluar untuk membelikan makanan.
Tampa Arthan sadari, ada seseorang wanita masuk ke dalam ruangan Thalita. Seseorang itu memakai penutup mulut dan gerak-geriknya begitu mencurigakan.
Arthan sudah pergi menjauh dari tempat ruangan rawat Thalita ia akan ke kantin rumah sakit.
Seorang wanita yang menutup mulutnya memandangi Thalita dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Cukup lama wanita itu memperhatikan Thalita sebelum mengambil sesuatu di dalam sebuah kotak besi.
Wanita itu mengambil sebuah suntikan dan mengisinya dengan sebuah cairan yang berwarna hijau bening.
__ADS_1
"Maafkan saya ya, Mbak saya terpaksa melakukannya demi Keluarga saya."
Selanjutnya wanita itu mendekati tempat dimana Thalita terbaring lemas dan mengarahkan jarum suntikan ke tangan kiri Thalita.
"Permisi, Suster. Saya mau memeriksa keadaan Pasien Thalita."
Wanita itu tersentak kaget ia berbalik ke belakang dengan cepat dan disana terlihat seorang Suster muda dan cantik memberi senyum dingin ke arahnya.
"I-ya, silahkan, Sus!" dengan terbata-bata wanita itu mempersilahkan Suster muda untuk memeriksa Thalita.
"Terima kasih, Suster. Hmm, ngomong-ngomong kau Suster baru di sini?" tanya Suster muda tampa mengalihkan perhatian ke arah wanita itu yang exspresi wajahnya sudah sedikit buruk.
"Ya, a-ku Suster baru dan baru m-asuk hari ini, kenapa demikian kamu bertanya seperti itu?"
Suster muda menghela nafas panjang kemudian menengok ke arah wanita yang mulutnya tertutup oleh masker putih.
"Akhir-akhir ini... rumah sakit ini belum menerima Suster baru dan itu sudah 1 minggu yang lalu rumah sakit tidak menerima Suster."
__ADS_1
Bagai tersambar petir disiang-siang wanita itu terkejut mendengar penuturan si Suster muda.