Thalita Istri Pendek

Thalita Istri Pendek
Kejahilan Arthan


__ADS_3

Merasa tergangu, Arthan membuka matanya dan mendapati Istrinya yang terus mencubit pipinya sambil tersenyum manis.


"Ada apa, Tha? Kau mengganggu saja tidurku!"


"Daddy, menyuruh kita bersiap-siap untuk honeymoon di Jepang!"


"Itu bagus!!! Ayo, cepat bersiap!!" Arthan bangkit bangun dari kasur dan berlari menuju kamar mandi sambil terus melompat-lompat kegirangan.


"Kau ini, seperti katak yang terus melompat. Jatuh baru tahu rasa kau!" teriak Thalita.


Brukk


Arthan tersandung sandalnya sendiri dan jatuh telungkup di lantai, Thalita yang melihatnya tertawa keras hampir mirip dengan ketawa Mak Lampir.


"Bukanya tolongin malah ketawa! Dasar Istri pendek! ngak pernah tumbuh-tumbuh!!" sungut Arthan masih dalam keadaan telungkup.


Thalita tambah tertawa, kali ini ia sudah berbaring di lantai dengan keadaan memegang perutnya dengan satu tangan sambil tertawa keras, rasanya perutnya sudah mengeras dan sakit karena tertawa.


"Haha, baru saja tadi aku mengingatkan sudah terjadi, haha. Oke, tunggu aku akan membantumu bangun," ucap Thalita dengan sisa ketawanya, air matanya sampai keluar karenanya.


Thalita mengulurkan tanganya ke hadapan Arthan, dengan sedikit kesal Arthan menyambut uluran tangan Istri pendeknya.

__ADS_1


"Aduh, kau berat juga, yah!" keluh Thalita.


Wajah Thalita sudah memerah serta berkeringat, namun tubuh Arthan tidak bergerak sama sekali.


"Orang pendek memang selalu lemah," kata Arthan.


"Ia, aku memang pendek jadi jangan terus mempermasahkan tinggi tubuhku! Orang pendek itu imut dari pada orang tinggi!"


Arthan tertawa mendengar perkataan Thalita, sungguh istrinya gampang marah meskipun begitu ia tetap Sayang.


Baru satu malam bersama Thalita ia sudah jatuh cinta pada wanita pendek itu.


Arthan yang melihat Thalita yang sudah berkeringat dan mengambil nafas panjang sudah tidak tega melihatnya, ia sudah puas mengerjai Istrinya dengan mengatakan kalau kakinya sakit karena jatuh.


"Hey, tutup mulutmu itu, dimasukin lalat baru tahu rasa!"


Arthan mengatupkan mulut Thalita dengan tangan kanannya dengan cara memegang kepala dan tangan kirinya memegang dagu Thalita.


Phakk


Phekk

__ADS_1


Thalita memukul tangan Arthan dengan sekeras mungkin, bukannya membuat Arthan kesakitan, Arthan malah tertawa geli dan menghindar dari serangan Thalita dengan berlari kedalam kamar mandi lalu menutupnya.


"Awas kau, Arthan akan aku cincang jika kau keluar dari sana! Lihat saja," ucap Thalita menggendor-gendor pintu kamar mandi.


"Orang pendek sepertimu mau mencincangku? Hahah itu mustahil, Thalita. Yang ada... aku yang mencincangmu!" Arthan berteriak pula dari dalam.


Thalita sangat kesal dengan Suaminya sendiri, ia merasa tidak beruntung lagi menikah dengan mahluk dari planet pluto itu.


Tidak mau berlama-lama menunggu Arthan mandi, Thalita turun ke bawah menuju kamar mandi yang di khususkan oleh pelayan di rumah.


Saat Thalita ingin masuk ke dalam kamar mandi itu, seorang Pelayan yang agak tua darinya mencegahnya


"Kenapa aku tidak boleh masuk?" tanya Thalita.


"Maaf, Nyonya muda. Kamar mandi ini untuk Pelayan dan selain itu, Majikan kami tidak boleh masuk," ucap Pelayan wanita itu.


"O, astaga! Aku ini sebenarnya berderajat apa? Kita sama-sama manusia jadi derajat kita itu sama di mata Tuhan 'kan?"


Pelayan itu terdiam sejenak, ia tidak boleh membiarkan Majikanya masuk ke dalam kamar mandi khusus Pelayan itu, jika ia membiarkanya ia pasti akan terkena masalah.


"Sudah aku mau masuk!"

__ADS_1


"Tap--"


Thalita menutup pintu kamar mandi dengan cepat, ocehan Pelayan itu membuang waktunya terlalu banyak.


__ADS_2