Thalita Istri Pendek

Thalita Istri Pendek
Keberangkatan 2


__ADS_3

Mereka berdua berjalan menuju ruangan Tuan Sastriwijaya, setiap jalan menuju kesana ada beberapa Pelayan yang menunduk memberi hormat. Thalita tersenyum manis ikut menyapa mereka sedangkan Arthan memasang wajah datar dan dingin padahal jika di dalam kamar sangat jahil dan selalu membuat Thalita tumbuh tanduk.


Setelah Thalita dan Arthan masuk ke dalam ruangan kerja Tuan Sastriwijaya, para Pelayan saling berbisik.


"Lihat, Tuan muda serta, Istrinya sangat cocok, yah aku jadi salut dengan mereka," kata seorang Pelayan wanita sekitar seumuran dengan Thalita.


"Betul, tapi sayangnya, Nyonya muda terlalu pendek sedangkan, Tuan Arthan sangat tinggi!" tambah Pelayan lain.


"Hey, jangan menghina, Nyonya muda. Kalau ada yang dengar dan melaporkanya pada, Nyonya besar kita bisa di pecat," ucap Pelayan yang lebih tua dari mereka.


Semua Pelayan mengangguk setuju, akhirnya mereka semua kembali ke tugas masing-masing.


Sementara di ruangan Tuan Sastriwijaya ...


"Kalian akan berangkat 30 menit lagi," kata Tuan Sastriwijaya tersenyum.


Arthan senang mendengarnya tapi ia masih dengan wajah datar dan dinginya hatinya saja yang senang.


"Daddy bukankah ini sangat cepat?" tanya Thalita lembut.


Tuan Sastriwijaya tersenyum manis ke arah Menantunya.

__ADS_1


"Lebih cepat lebih bagus, Tha. Kita bisa memberi, Daddy cepat baby imut, 'kan?" Arthan ankat bicara sambil mencolek hidung mancung Thalita.


Thalita memukul telunjuk Arthan, dasar tidak sopan.


"Hahaha, kalian seperti Tom and Jerry saja, Daddy senang melihatnya kalian cepat sekali akrap," ucap Tuan Sastriwijaya.


Pipi Thalita bersemu merah, malu, itu yang dirasakannya.


Tuan Sastriwijaya kemudian mengambil satu bungkusan warna cokelat tua dari dalam laci meja kantornya, lalu menyerahkannya ke Thalita.


"Apa ini, Daddy?"


Thalita langsung tahu bahwa isi dari bungkusan ini adalah uang, ia langsung meletakkannya lagi ke depan Tuan Sastriwijaya.


"Kenapa? Ambil untuk bekal disana nanti," ucap Tuan Sastriwijaya.


Thalita mengelengkan kepalanya.


"Tidak, Daddy. Thalita punya uang hasil tabungan, Daddy simpan saja uang itu," kata Thalita.


Arthan sedikit kagum dengan sikap Thalita, yang menurutnya tidak mengandalkan uwang orang tuanya.

__ADS_1


Tuan Sastriwijaya mengambil bungkusan berisi uang itu lalu menarik tangan Thalita dan menaruh bungkusan itu di telapak tangan Thalita.


"Uang tabunganmu kamu simpan saja, ambilah uang ini, Nak!" tegas Tuan Sastriwijaya.


Kali ini Thalita tidak menolak, karena merasa tidak enak hati untuk terus menolak, Thalita membuka bungkusan itu dan mengambil separuh dari ikatannya dan menutup kembali bungkusan itu dan meletakkannya di depan Tuan Sastriwijaya, lalu menarik tangan Arthan untuk cepat keluar dari ruangan itu.


"Menantuku memang yang terbaik tidak salah aku memilihnya untuk, Arthan," kata Tuan Sastriwijaya.


3 buah mobil hitam pergi mengantar Thalita dan Arthan ke bandara, Tuan Sastriwijaya, Nyonya Sastriwijaya, keluarga Thalita, serta beberapa orang Bodyguard ikut serta.


Hanya butuh beberapa menit mereka sampai di bandara, sisa 5 menit pesawat menuju negara Jepang.


Mereka saling berpelukan sebagai tanda perpisahan sementara, subuah suara pemberi tahuan jika pesawatnya akan berangkat. Arthan dan Thalita masuk ke dalam pesawat dan akhirnya pesawat lepas landas


Di dalam pesawat Arthan memeluk Thalita erat dan mencium pipinya, para penumpang di dalam pesawat itu selalu dibuat iri oleh pasangan baru itu.


"Bisa kau tidak mencium pipiku terus- menerus? Aku malu dengan tatapan mereka!" Thalita berbisik ke telinga Arthan.


"Biarkan saja, aku tidak peduli!" balas Arthan dan kembali mencium pipi Thalita.


Mata Thalita menjadi berat dan lengket apalagi Arthan mengelus rambut sebahunya lembut, Thalita sudah tidur di dalam pelukan Arthan.

__ADS_1


__ADS_2