
Arthan berbalik ke Thalita dan membalas pelukan Istrinya itu dengan lembut pula.
"Istri pendekku benar, anak lelaki harus kuat, hehe!" Arthan mengatakannya tampa melepas pelukannya.
Thalita sedikit berhasil meyakinkan Suaminya.
"Ya, jadi mulai hari ini sampai seterusnya, Suamiku harus kuat, oke!" Thalita mengacungkan jempol ke belakang karena wajah Arthan ada di belakang.
"Oke, Istri pendekku!"
Mereka kemudian melepas pelukan masing-masing lalu memakan hidangan lezat tadi, Arthan sedikit bercanda dan membuat Thalita tertawa lucu.
"Tha," kata Arthan setelah ia menelan makanannya.
"Hmm, apa?"
"Kamu tahu tidak perbedaan kamu dengan daun?" tanya Arthan.
"Tahu kalau aku itu manusia kalau daun itu tumbuhan, benar?" tanya Thalita, sambil memberi tanda petunjuk dua jari ( seperti ini, 👈 ).
"Ya, sok tahu, salah!" Arthan mendorong pelan kepala Thalita hingga membuat yang punya memasang wajah masam.
Arthan tertawa geli, ia sedikit bahagia jika dengan bercanda dengan Thalita.
"Lalu apa?" tanya Thalita dengan datar, ketularan datarnya Arthan.
__ADS_1
"Perbedaannya... kalau daun jatuhnya di tanah, kalau kamu jatuhnya di hati aku, haha!"
Bluss ...
Pipi Thalita memerah seperti kepiting rebus, malu dan salah tingkah dengan gombalan Suaminya sendiri.
"Gombal!"
"Ya, tidak apa-apa gombal sama, Istri dari pada gombalin, Istri orang," kata Arthan sambil mencolek dagu Thalita.
"Mau cari mati kalau gombalin, Istri orang!!" sungut Thalita menjitak kepala Arthan.
Arthan mengelus kepalanya Istri pendeknya ini suka sekali menjitak.
"Tha, waktunya kita pulang!!" Arthan berteriak senang karena ia akan pulang ke tanah kelahirannya.
Thalita tersenyum kecil ia lalu mengangguk lalu menarik kopernya dan Arthan yang menarik kopernya juga, mereka berjalan keluar dari Apartemen.
Setelah mereka keluar dari dalam Apartemen, Thalita mengedarkan pandangannya pada sekitarnya lalu senyum manis terukir di bibirnya.
"Selamat tinggal negara sakura, aku akan merindukan suasana ini, salju!" batin Thalita, sambil memejamkan matanya untuk menikmati sentuhan terpaan salju.
Arthan tersenyum kecil menyaksikan Thalita, ia tahu bahwa Istri pendeknya mengambil potret melalui hati dan matanya pada suasana negara sakura ini.
"Jika sudah selesai... kita harus pergi sekarang. Suatu saat nanti kita akan kemari lagi, oke," kata Arthan sambil memeluk tubuh Thalita dari samping.
__ADS_1
"Betul??" tanya Thalita, ada sedikit kebahagiaan yang terbit di hati kecilnya.
"Ya, Istri pendekku!"
"Yesssss!!!" girang Thalita, ia mengeratkan pelukannya pada Arthan.
Thalita sangat bahagia, ia beruntung memiliki Suami yang pengertian seperti Arthan.
Mereka kemudian kembali berjalan untuk menuju tempat tunggu bus menuju Bandara.
Arthan dan Thalita tiba di Bandara dengan waktu singkat, bus yang mereka tumpangi adalah bus cepat menuju tempat tujuan bayarannya pun agak mahal.
Dan sekarang mereka sudah duduk di dalam pesawat menuju Indonesia, Thalita serta Arthan menggunakan mantel yang mereka beli di toko sebelum keberangkatan mereke ke Indonesia.
Arthan sudah memberi tahu tentang kepulangannya kepada Daddynya dan ia juga mengirim kabar pada Mommynya, sangat menyakitkan.
"Me husband, masih ingat janjinya?" tanya Thalita tiba-tiba.
Arthan menggaruk kepalanya bingung kapan ia berjanji pada Thalita? Dan tengtang apa?.
"Janji apa?" tanya Arthan
"Aduh, pelupa! Janjimu adalah... akan mengganti handphoneku karena kau sudah merusaknya, dan sekarang mana?!!"
Arthan tertawa malu karena ia baru ingat janjinya pada Thalita ia lupa menepatinya.
__ADS_1