
Pesawat tumpangan Thalita dan Arthan telah tiba di Negara Japan, Negara impian sejak kecil Thalita. Ia sangat ingin melihat tanaman bunga asli di negara itu bunga sakura, ia tahu tengtang negara itu karena teman-teman SMAnya yang mempunyai akun media sosial selalu memperlihatkannya foto negara Japan serta bunga sakura.
"Ayo, turun! Kita sudah sampai, Sayang," ucap Arthan mencubit gemas pipi gempul Thalita.
"Auuh, Benarkah?" tanya Thalita sambil kedua tangannya mengucek-ngucek mata.
"Iya, Sayang! Istri pendekku yang cantik dan imut," kata Arthan dan ingin mencubit pipi Thalita lagi namun tanganya di pukul Thalita.
"Kau, suka sekali bermain dengan pipiku! Sakit saja pipiku ini, huh!" omel Thalita.
"Ohy, karena pipimu sangat gempul seperti bakpao!"
"Pipiku bukan makanan!" sungut Thalita menjitak kepala Arthan.
"Aduh! Jitakanmu sakit juga ternyata, Ayo turun keburu pesawatnya terbang lagi!"
Arthan menarik tangan Thalita untuk turun dari pesawat.
Hari itu di negara Japan sedang musimnya bunga sakura, Thalita tersenyum lebar ketika kedua mata bulatnya memandang sebelah kanan bandara Japan, bunga sakura yang berwarna pink sangat membuatnya kagum.
__ADS_1
Arthan tersenyum melihat Thalita bahagia, hatinya sangat adem dan berbunga-bunga melihat bulan sabit dari bibir orange Thalita.
"Ayo kita ke taman bunga sakura, karena aku lihat kau begitu suka dengannya," kata Arthan dan kembali menarik tangan Thalita.
Ia akui, saat itu ia sangat capek habis dari pesawat dan butuh istirahat. Tapi demi bulan sabit di bibir Istrinya ia rela tak istirahat dulu, soal tempat tinggal Daddynya sudah menyiapkannya.
"Ternyata bunga sakura yang asli lebih cantik dari fotonya, aku menyukainya, Arthan!" riang Thalita, dan langsung memeluk lengan Arthan.
"Dari mana kau tahu tengtang foto bunga sakura? Bukankah Hp mu jadul, hehe," kata Arthan dan mendapat tatapan mematikan dari Istrinya.
"Aku melihatnya di Hp temanku, mereka sering memperlihatkannya padaku." Jawab Thalita.
"Masih jauh ngak, Arthan?" tanya Thalita sambil mendongak menatap wajah Arthan yang juga ikut menatapnya.
"Dekat lagi, ayolah, Sayang panggil aku dengan sebutan yang mesra, yah!"
"Tidak mau! Kau juga sering memangilku, Pendek!!" sungut Thalita sambil memalingkan wajahnya ke arah samping.
Arthan terkekeh kecil melihat Thalita yang memalingkan wajahnya, ia kemudian menarik Thalite ke penjual kembang gula.
__ADS_1
"Hey, taman bunga sakuranya disana! ayo kita kesana, kau mau membawaku kemana?" Thalita berteriak-teriak para pejalan memperhatikan mereka berdua.
"Aku tahu, pendek! Tapi kita membeli kembang gula dulu baru kesana," ucap Arthan.
Mendengar kata Kembang gula, Thalita berhenti berteriak dan menarik-narik tangan Arthan. Ia lalu memeriksa tempat panjual kembang gula, namun apa? Ia tidak tahu yang mana.
"Mana? Mau menipuku, yah?!" tanya Thalita sambil melotot ke arah Arthan.
Arthan memutar bola matanya malas, penjual kembang gulanya memang berada dalam toko bukan motor-motor seperti di indonesia.
"Di dalam sana!" tunjuk Arthan pada satu toko yang berada di tengah-tengah dari banyaknya toko lain.
Thalita mengerutkan dahi, di dalam toko? Aneh menurut Thalita.
Mereka berdua memasuki toko kembang gula, dan Arthan langsung memesan pada penjualnya dengan menggunakan bahasa Japan, Arthan tidak pandai bahasa Japan tapi ia pandai dengan bantuan google Hpnya.
Toko kembanh gula sangat ramai pembeli, kebanyakan gadis-gadis cantik dan bertubuh tinggi. Thalita sedikit minder karena ialah paling pendek, Thalita hanya di bawah bahu gadis Japan itu.
"Haik, kore wa anata no koibitodesu ka?" tanya salah seorang dari gadis Japan itu, nampaknya ia bertanya pada Thalita.
__ADS_1
Thalita menggaruk kepalanya bingung, gadis di hadapannya ini bicara apa?, tapi Thalita hanya mengangguk saja.