Thalita Istri Pendek

Thalita Istri Pendek
Peringatan


__ADS_3

Aku mengambil koperku dari rumah isinya pakaian sehari-hari dan pakaian tidur.


"Lebih baik pakai pakaian tidur ini, dari pada pakai pakaian di lemari itu. Terlalu minim dan kurang sopan."


Mengambil pakaian tidur kesayanganku motifnya Doraemon, baju tidurku berlengan panjang serta celana panjang.


"Berat sekali gaun ini, aduh!" keluhku lalu masuk cepat ke kamar mandi.


"Astaga! Warna pink, ini kamar mandi cowok apa kamar mandi cewek? hihh," ucapku geli.


Bagaimana aku tidak merasa geli? Kamar mandi ini bercat pink serta bertehel pink pula. Seorang Arthan ternyata suka warna pink, aku tidak habis pikir dari wajah Arthan ia terlihat datar dan dingin biasanya orang-orang yang berwajah begitu tidak suka dengan warna cerah begini.


"Hey, kau yang di dalam cepat sedikit!"


Aku tersadar dari pikiranku yang sempat memikirkan keanehan Suami sendiri, buru-buru aku pasang pakaian tidurku.


Ceklek ...


"Sedang apa kau di dalam? Lama sekali, sudah seperti siput!" omel Arthan, setelah aku membuka pintu kamar mandi.


Aku mengangkat alisku sebelah, Arthan ini tidak hanya punya wajah datar dan dingin tapi juga sangat cerewet.


"Aku sedang mengganti gaun dengan baju tidurku," jawabku pelan.

__ADS_1


"Tidak ada yang bertanya!" ketusnya.


Apa-apaan ini? Bukankah ia bertanya tadi, hah! Dasar cowok aneh.


"Ohya, bukankah Mommyku menyediakan baju khusus untukmu? Kenapa yang kau pakai yang lain?" tanyanya mengerut keningnya.


"Aku tidak suka! Baju itu tidak punya celana," kataku lalu pergi dari hadapanya.


"Dasar kampungan! Aku punya satu peringatan untukmu!" teriaknya.


Aku menghentikan langkahku, lalu berbalik badan menghadapnya.


"Apa?" tanyaku memutar bola mata malas, sungguh Suamiku ini sangat cerewet.


Mataku kembali membulat, terkejut mendengar peringatan sadis itu. Dasar tukang pemaksa.


"Aku tetap tidak ingin memakainya!"


Arthan tidak menggubris perkataanku, ia masuk kedalam kamar mandi pinknya dengan wajah datar lagi.


"Sudah sedatar dinding, cerewet pula dia!" omelku dalam hati.


Aku duduk di pinggiran kasur sambil bermain game snake di Hp merk Nokia milikku, sekali memukul kepala sendiri ketika game over.

__ADS_1


Saking seriusnya memainkan game snake, Arthan sudah keluar kamar mandi tampa aku sadari sama sekali.


"Dasar ular bodoh! Mau dikasih makan malah makan pembatas!" kesalku seraya menukul kepala lagi.


Aku belum menyadari Arthan, ia sendiri sedang bersandar di dinding kamar mandi sambil memperhatikan aku yang bermain game.


Sudah lebih dari 10 kali aku memukul kepalaku ketika kalah, dan kali ini aku kalah lagi dan bersiap memukul kepala. Namun gagal karena deheman Arthan.


Aku memandang Arthan dengan tatapan malu, ia sudah tahu tingkah konyolku dalam satu hal. Haduh, malu rasanya.


"Besok aku akan mengganti Hp jadulmu itu, aku kasian padamu hanya memainkan satu game alay di Hp jadul itu," ucapnya dengan santai lalu berjalan menuju arah lemari, pikirku sungguh sombong sekali dia.


Aku hanya diam tidak menanggapi, rasa sakit di kepala membuatku diam. Mau mengelusnya aku takut si cerewet itu kembali mengejek.


Haph ...


"Hey, Kembalikan Hpku!" teriakku padanya.


Yah, Arthan merebut Hpku lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. Mentang-mentang dia tinggi aku pendek sudah seenaknya begitu.


"Ambil jika kau bisa, dasar pendek!"


Aku melompat-lompat untuk meraih Hpku, si Arthan tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


__ADS_2