
Arthan tertawa malu karena ia baru ingat dengan janjinya pada Thalita, kenapa ia bisa lupa memang benar kata Thalita kalau ia pelupa.
"Mana?!" ulang Thalita lagi.
"O, itu nanti akan aku tepati di Indonesia, Thalita places." Mohon Arthan, ia berharab Thalita tidak marah padannya atau menjitaknya lagi.
"Baiklah!" Thalita hanya pasrah.
Thak ...
Itukan, ini yang tidak di harabkan Arthan, jitakan yang menyakitkan dari Thalita.
"Awas kalau lupa lagi!!" ancam Thalita, ia memberi tatapan mematikan untuk Arthan.
"Ya, jadi, Istri kok galak banget!" sindir Arthan tangannya masih setia mengelus kepalanya yang dijitak Thalita yang rasanya sangat menusuk hingga otak.
Thalita sudah tidak memberi Arthan tatapan mematikan, dan sekarang pandangannya ia fokuskan ke depan dengan pandangan datar, sudah ketularan benar ia dengan datarnya Arthan.
" Jadi Suami kok pelupa amat!" sengit Thalita.
"Sial!" umpat Arthan, dan masih di dengar oleh Thalita.
"Coba ulangi!"
"Apa?" tanya Arthan.
__ADS_1
"Kata yang kau ucapkan tadi!"
"Tidak ada kata, kok!" jawab Arthan, sekarang ia memegang kepalanya dengan kedua tangan.
"Terserah!"
Thalita bersandar di pundak Arthan lalu tertidur, ia sedikit mendengkur kecil.
"Tidur dia, Istriku memang cantik!" puji Arthan bangga.
"Memang karena perempuan!" balas Thalita, ia tidak membuka matanya.
Arthan sedikit terkejut, Thalita sudah tidur dan mendengkur namun bisa membalas perkataannya.
Pesawat sudah lama terbang di udara, sekarang sudah menjelang sore dan Arthan dan Thalita akan sampai jika subuh nanti.
Percepat ...
Pesawat sudah tiba di Indonesia, Arthan dan Thalita dijemput oleh beberapa Bodyguard Daddy Arthan. Tuan Sastriwijaya tidak hadir menyambut kepulangan anaknya serta Menantunya.
Dari info beberapa Bodyguard, Daddynya sedang tidak enak badan setelah kembali ke rumah sakit.
Arthan bersikap dingin dan datar pada Bodyguard, ia tidak banyak bicara pada Bodyguardnya, Thalita sendiri juga ikut diam.
Semuanya mengendari mobil menuju kediaman Sastriwiya, jumlah mobil 4 dan semuanya berwarna hitam.
__ADS_1
Tidak lama dalam perjalanan Arthan dan Thalita beserta para Bodyguard telah tiba di kediaman Sastriwijaya.
"Selamat datang kembali, Tuan muda dan Nyonya muda," ucap para Pelayan dan keamanan rumah Arthan.
"Terima kasih sambutannya," ucap Thalita dengan senyum ramah, Arthan tetap diam.
Koper Thalita dan Arthan sudah di bawa oleh Bodyguard lain, dan sekarang kedua pengantin itu menuju ruang kamar Tuan Sastriwijaya.
Tok
Tok
Tok
"Ya, masuk saja pintunya tidak terkunci!" sahut Tuan Sastriwijaya dari dalam kamar, suaranya begitu berat.
Arthan dan Thalita pun masuk, hal yang pertama dilihat adalah Tuan Sastriwijaya yang telah terbaring di atas tempat tidur, wajahnya begitu pucat dan keadaan kamar begitu berantakan.
"Daddy!" Arthan berlari menuju Daddynya begitu pun dengan Thalita.
Arthan memeluk Daddynya sedang Thalita terdiam kaget dengan suhu tubuh Mertuanya ketika ia menyentuh tangannya tadi rasanya sangat panas.
"Daddy, mari kita ke rumah sakit sekarang. Arthan, mari bantu, Daddy," kata Thalita ia begitu kwatir dengan ke adaan Daddy Mertuanya itu.
Arthan menurut ia segera berusaha untuk membangunkan Daddynya namun dicegah oleh Daddynya.
__ADS_1
"Kenapa? Daddy harus ke rumah sakit sekarang!" Arthan bersih keras memaksa Daddynya untuk ke rumah sakit.
Thalita datang dengan mantel untuk membalut tubuh Mertuanya, ia tahu jika seorang sakit dengan suhu tubuh yang panas maka orang itu tidak merasa panas melainkan merasa dingin.