
Aku terus melompat-lompat untuk meraih handphoneku dari tangan Arthan namun apa dayaku yang hanya gadis cantik yang pendek, tinggiku hanya 160 cm sedangkan Arthan berkisar 182 cm.
Arthan tertawa terbahak-bahak melihatku yang terus melompat-lompat bagaikan katak di hadapanya, aku sangat kesal padanya.
"Hahaha, Istriku, Thalita yang pendek! Hahaha," ucapnya disertai tawa yang membuatku ingin sekali mencakar-cakar wajah tampannya itu.
Di luar kamar, seorang pelayan wanita sedang ingin ke kamar pengantin baru itu. Pelayan itu baru ingin mengetuk pintu kamar, tapi tidak jadi karena mendengar Thalita berteriak dari dalam.
Pelayan itu tersenyum-senyum ia kemudian meninggalkan pintu kamar pengantin baru itu dan menuju ruangan makan.
"Thalita dan Arthan, mana, Moni?" tanya Tuan Sastriwijaya.
Pelayan wanita itu terdiam sesaat ia menundukkan kepalanya.
"Anu, Tuan saya tidak enak mengganggu aktivitas pribadi, Tuan muda." Jawab si Pelayan.
Tuan Sastriwijaya serta Nyonya Sastriwijaya saling sengol tangan dan tersenyum lebar, mereka paham yang dimaksud pelayannya. Rupanya mereka sedang dibuatkan cucu.
Di dalam kamar, Thalita serta Arthan masih terlibat masalah kecil.
"Suamiku yang baik dan super tampan, kembalikan handphoneku!" Thalita melembut-lembutkan suaranya.
__ADS_1
Pipi Arthan memerah, salah tingkah dengan Istrinya sendiri. Sungguh Thalita pandai mengoda juga.
Brakkk
Mata Thalita membelalak menyaksikan handphone Nokianya hancur dilempar Arthan.
"Kenapa kamu lempar?" tanya Thalita lirih, sungguh ia ingin menangis.
Handphone itu adalah barang paling berharga baginya, ia membelinya dari hasil jual kue bikinanya.
"Besok aku menggantinya," ucap Arthan dan langsung memeluk erat Thalita.
"Handphone itu aku membelinya dengan susah, Arthan. Handphone itu sangat berarti bagiku," ucap Thalita dengan suara serak karena menahan tangis.
Arthan yang menangis bukan Thalita, kenapa mesti dia yang menangis? Bukankah seharusnya Thalita yang semestinya menangis.
"Aku memaafkanmu, Arthan... tolong jangan menangis!"
"Aku merasa bersalah padamu, Tha."
Mereka berdua akhirnya saling berpelukan hangat, Arthan sudah tidak menangis lagi. Dalam pelukan Istrinya ia merasa sedikit tenang.
__ADS_1
Merasa lapar, kedua pengantin baru itu keluar dari kamar dan menuju ruang makan.
Disana sudah ada kedua Mertua Thalita dan kedua orang tuanya, mungkin besok orang tuanya baru pulang ke rumah aslinya, mereka sudah ditawari untuk tetap tinggal di rumah keluarga Sastriwijaya namun mereka menolak secara halus.
"Kok sudah keluar? Sudah selesai buat babynya?" tanya Nyonya Sastriwijaya sambil senyum-senyum.
Arthan dan Thalita saling pandang, apa maksud Mommy sekaligus Mertuanya itu.
"Apaan sih, Mom kami hanya saling menjahili di dalam kamar saja selebihnya kami tidak melakukan lebih," ucap Arthan mencoba menjelaskan.
"Mommy pesan 1 baby cewe, buat yang imut," kata Nyonya Sastriwijaya.
Thalita sudah tahu kenapa semua orang salah paham begini, mungkin ketika dirinya dan Arthan berebut handphone dan ketika Thalita berteriak ada seorang pelayan yang berniat memangil untuk makan.
"Mommy!" Arthan melotot ke arah Mommynya.
Semua anggota Keluarga di meja makan menertawakan Arthan dan Thalita, jadilah malam itu bahagia dan menjadi kejadian malu di hati Thalita.
"Sudah-sudah, kalian makan saja pasti capek habis tempur di kasur, haha!" Tuan Sastriwijaya ikut berbicara.
"Daddy! Arthan dan Thalita hanya saling menjahili, semuanya salah paham!" Arthan melotot ke arah kedua orang tuanya, sungguh ia sangat malu.
__ADS_1
Thalita hanya diam, ia juga malu dengan perkataan Mertuanya. Jika ia tahu akan begini, ia tidak akan meladeni kejahilan Arthan.