
Acara makan malam menjadi sangat ramai, penuh dengan canda tawa yang membuat pengantin baru menjadi super malu. Bagi Arthan, percuma dijelaskan mereka akan tetap salah paham.
"Thalita, kenapa dari tadi diam terus? Anunya sakit?" tanya Nyonya Sastriwijaya.
Uhhuk
Uhhukk
Thalita langsung tersendat makanannya sendiri, Arthan dengan sigap memberinya air minum. Pertanyaan macam apa itu? Rasanya Thalita mau lenyap (Menghilang) secara tiba-tiba sekarang.
Untung yang hadir dalam acara makan ini hanya keluarga Sastriwijaya dan keluarganya, apa jadinya jika yang hadir ada pelayan juga bisa malu berat Thalita.
"Tidak, Mommy... hanya saja bibir Thalita seriawan, hehe," ucap Thalita.
"O, yasudah lanjutkan makanmu, Sayang. Maaf, Mommy bertanya aneh-aneh."
"Ia, Mommy. Thalita juga tidak apa-apa," kata Thalita tersenyum.
Kali ini tidak ada lagi canda dan percakapan, semuanya fokus dengan makanan mereka masing-masing.
***
Di pagi hari yang cerah, kicauan burung-burung yang hinggap di ranting-ranting pepohonan samping rumah.
Cahaya matahari menembus masuk ke dalam gorden hingga cahayanya sempat menyilau mata 2 pasangan yang tertidur dengan lelapnya.
"Hoaamm... eh, apaan ini?"
__ADS_1
Thalita baru saja bangun, tapi sesuatu yang melingkar di perutnya serta hembusan nafas lembut terasa di lehernya, terasa sedikit geli.
"Astaga!!" Thalita langsung membelalak ketika sadar bahwa Arthan memeluknya dari belakang, pelukanya sangat erat.
Tok
Tokk
Tok
"Kyakkkk!" teriak Thalita.
Arthan masih belum bangun dari tidurnya, sedang di luar sana seseorang sedang mengetuk pintu.
Plakkk
Arthan sedikit menringis ketika tangan kecil Thalita menampar keras kepalanya, sebelum itu Thalita berbalik.
"Hey, bangun! Seseorang mengetuk pintu kamar!"
"Biarkan saja, aku lagi enak tidur... kau saja yang melihatnya," ucap Arthan dengan mata masih tertutup serta suaranya sangat pelan khas orang setengah sadar.
"Dasar! Bagaimana aku mau melihatnya? Sedangkan, kau memelukku seperti bantal guling!" sungut Thalita.
Arthan melepas pelukannya, dan dengan cepat Thalita bangkit dari pembaringan bergegas untuk melihat orang yang mengetuk pintu kamarnya sepagi ini.
Ceklek
__ADS_1
"O, Lastri ada apa?" tanya Thalita pada pelayan wanita yang bernama Lastri.
Pelayan Lastri menunduk lalu membungkukkan setengah badannya tanda memberi hormat.
"Maaf, Nyonya muda sudah mengganggu tidur lelap, Nyonya. Saya di suruh Tuan Sastriwijaya untuk memberi tahu kalau agar cepat bersiap untuk berangkat ke Japan untuk Honay moon," ucap Pelayan Lastri.
"Apa? Honay moon?" tanya Thalita masih kurang percaya pada keputusan mendadak begitu.
Pelayan Lastri ingin membungkuk lagi tapi digagalkan oleh Thalita, yang dengan cara menahan punggung Pelayan Lastri.
"Kenapa, Nyonya?"
"Syutt! Kita seumuran, Lastri jadi... kamu pangil aku, Thalita dan jika padaku jangan membungkuk jika mau berbicara, aku tidak enak melihatnya," ucap Thalita dan dibalas gelengan kepala oleh Pelayan Lastri.
"Tidak, Nyonya! Saya itu seorang, Pelayan sedangkan, Nyonya adalah Majikan saya. Jika saya melanggar tata aturan di Keluarga ini, bisa-bisa saya dipecat," ucap Pelayan Lastri.
Tidak tega kalau Pelayan Lastri kalau sampai dipecat dari pekerjaanya, Thalita terpaksa menganguk saja.
"Jika sudah bersiap, Nyonya dan Tuan diharap menemui, Tuan Sastriwijaya di ruangan kantornya. Itu saja, saya harus pergi, Nyonya." Pelayan Lastri kembali membungkuk.
"I-iya," kata Thalita terbata, sunguh keputusan ini mendadak.
Thalita kembali menutup pintu kamarnya kemudian menghampiri Arthan yang masih pulas.
"Suamiku yang cerewet, ayo bangun kita diminta, Daddy untuk bersiap-siap ke Japan," kata Thalita mencubit-cubit lengan dan pipi tirus Arthan.
Merasa terganggu Arthan terpaksa bangun.
__ADS_1