The Billionaire'S Scandal

The Billionaire'S Scandal
Membandingkan


__ADS_3

Pagi ini, Leo terbangun tanpa Angela di sisinya. Ia mengerjapkan mata saat melihat sisi tempat tidurnya yang kosong.


“Di mana Angela?” gumamnya.


Matanya menyisir ke sekitar, hingga ia terpaku pada jam dinding yang menggantung di tengah-tengah ruangan. Sekarang sudah pukul delapan, Leo berpikir jika mungkin saja Angela sudah terlebih dahulu bangun sehingga dia memutuskan untuk mandi dan bersiap-siap terlebih dahulu.


Leo meregangkan otot-otot tubuhnya. Semakin sering bersama Angela, dia merasa jika kualitas tidurnya semakin baik. Buktinya, dua hari belakangan dia dapat tidur dengan begitu nyenyak sampai-sampai tidak sadar jika posisi matahari sudah meninggi.


Ia mulai merasa tak keberatan dengan kehadiran Angela. Dia bahkan sengaja memakai wewangian yang dipakai Angela, seolah ia takut jika ia akan merindukan aroma itu jika saja dia tidak bertemu Angela beberapa menit.


Leo yang saat ini tengah berdiri di depan cermin tersenyum menatap pantulannya. Tanpa Leo sadari, sikapnya sudah benar-benar terlihat seperti pria yang tengah jatuh cinta.


Leo melirik ke arah ponselnya, Leo yang biasanya akan menghubungi Eve justru seakan lupa akan kehadiran Eve terlebih saat ada Angela bersamanya.


Usai mandi dan bersiap-siap, Leo lantas mencari keberadaan Angela. Hingga suara orang-orang yang tengah mengobrol yang berasal dari dapur menarik perhatiannya.


Tiba di dapur, Leo menatap heran pada Angela yang tampak mengobrol dengan para pelayan. ‘Sejak kapan Angela akrab seperti itu dengan mereka?’ tanyanya dalam hati. Tapi, diam-diam dia juga tersenyum melihat Angela yang sedang sibuk berkutat di dapur dan menyuruh para pelayan untuk tidak membantunya memasak karena dia ingin membuat sarapannya sendiri.


Menyadari kedatangan Leo, para pelayan diam dan menundukkan kepala dengan takut. Mereka takut dianggap lancang karena telah mengobrol dengan Angela dan membiarkan Angela memasak.


"Ada apa, Bi?" tanyanya.

__ADS_1


Melihat hal itu, Angela jadi kebingungan. Dia pun menoleh dan mendapati Leo tengah berjalan menghampirinya. Angela pun tersenyum lembut, memberikan senyuman terbaiknya kepada Leo. Hal itu lantas saja membuat tubuh Leo bergetar.


“Selamat pagi,” ucap Leo kemudian mengecup dahi Angela.


“Selamat pagi, Leo,” balas Angela. Dia memerhatikan Leo yang saat ini sudah tampak rapi dengan mengenakan jas. “Kau sudah rapi sekali.” Ia berkomentar.


“Hari ini aku akan pergi ke kantor, ada rapat yang tidak bisa dibatalkan. Tapi, tenang saja, aku hanya akan ke kantor untuk rapat setelah itu pulang,” jelas Leo.


“Jika kau memang sibuk, kau tidak perlu pulang lebih awal, Leo. Aku mengerti, ‘kok,” ujar Angela seraya tersenyum lembut.


“Tidak apa-apa. Apakah kau mau menungguku sampai aku pulang?”


Angela mengangguk setuju. “Baiklah, aku akan menunggumu.”


Setelah sarapan bersama, Leo pun berangkat bekerja dengan hati gembira. Pria itu bahkan terus tersenyum selama perjalanan menuju ke kantornya, membuat sopirnya diam-diam melirik ke arahnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.


“Anda dan Nona Angela tampak serasi, Tuan. Nona Angela juga lebih baik dari Nona Evelyn. Dia terlihat sederhana tapi justru semakin terbuka auranya,” celetuk sopir Leo tiba-tiba.


 Menyadari kelancangannya dalam berbicara, dia langsung saja minta maaf sebelum Leo naik pitam. “Eh, maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud untuk ikut campur. Tidak seharusnya saya berkata seperti itu. Maafkan saya, Tuan.”


Tapi, di luar dugaan, untuk pertama kalinya Leo tidak marah saat hubungan asmaranya dikomentari orang lain. Sebaliknya, Leo justru tersenyum lebar dan menanyakan pendapat sopirnya.

__ADS_1


“Memangnya menurutmu Angela bagaimana?” tanya Leo.


“Nona Angela bukanlah wanita yang angkuh dan dia berhati baik. Dia juga tampak sangat peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Saya yakin, Nona Angela bukanlah wanita yang bisa dengan mudah diabaikan keberadaannya oleh para lelaki. Semua yang dia lakukan juga tampak begitu alami, tidak ada kesan dibuat. Semua yang ada padanya benar-benar natural, Tuan. Itu pendapat saya,” jelas sopir Leo.


“Kau benar. Dia memang berbeda,” balas Leo, masih dengan senyuman yang terpancar dari wajahnya.


"Apa Anda dan Nona berpacaran?" tanya sopir itu kembali meminta maaf atas kelancangannya. "Maaf, Tuan."


"Fokuslah ke jalan!" ucap Leo tegas.


Leo tak dapat menjawab pertanyaan sopir tersebut. Pertanyaan itu benar-benar sulit untuk Leo jawab, Leo bingung apa sebenarnya status hubungan mereka.


Sementara itu, di kediaman Leo ....


Angela sedang sibuk memikirkan sesuatu. Dia merasa jika dia harus memanfaatkan keadaan untuk membuat Leo terbiasa dengan kehadirannya dan melupakan keberadaan Evelyn. Dia tidak ingin Leo kembali menghabiskan waktu dengan Evelyn. Tapi, di satu sisi dia juga tak mau sampai hamil dan menghancurkan masa depannya.


“Maaf, jam berapa biasanya Leo pulang bekerja?” tanya Angela kepada salah satu pelayan.


“Biasanya Tuan pulang malam sekali. Tapi, jika dia sudah berkata hanya berangkat ke kantor untuk rapat, mungkin dia akan pulang sebelum jam makan siang,” jelasnya.


Angela menganggukkan kepalanya. Masih ada waktu tiga jam sebelum jam makan siang. Angela berpikir untuk pergi sebentar menemui temannya yang merupakan seorang bidan.

__ADS_1


"Bi, aku kembali ke kamar dulu," ucapnya yang ingin bersiap-siap.


__ADS_2