
Angela mengatur detak jantungnya seiring dengan kakinya yang melangkah menapaki koridor sebuah klinik di pusat kota. Kalau boleh jujur, Angela takut dengan pendapat temannya mengenai apa yang dia lakukan. Tapi, Angela tak punya pilihan lain. Dia harus meminta bantuan temannya untuk mencegah hal-hal buruk yang bisa saja terjadi.
Untungnya saat Angela tiba di depan ruangan temannya yang berprofesi sebagai bidan, tidak ada banyak pasien di sana sehingga Angela tak perlu terlalu lama menunggu.
“Angela, bagaimana kabarmu?” tanya Clarissa, teman Angela. “Silakan duduk.”
Angela duduk di kursi yang berhadapan dengan Clarissa. Angela masih menundukkan kepala, tak tahu dari mana ia harus memulai ceritanya.
Clarissa yang melihat sikap aneh Angela pun bertanya, “Angela, apakah ada sesuatu yang terjadi? Kenapa kau hanya menunduk?” Ia mengerutkan dahi, bingung dengan sikap Angela.
Angela mengangkat kepalanya. “Jika aku menceritakan semuanya kepadamu, maukah kau berjanji untuk tidak menceritakannya kepada Nick?” pintanya.
“Aku janji. Rahasiamu aman denganku,” jawab Clarissa sambil mengangguk.
Angela menarik napas dalam-dalam. Sebelum memulai ceritanya, dia perlu menetralkan detak jantungnya. Setelahnya barulah Angela menjelaskan tentang apa yang sudah dia lakukan.
“Kau tahu jika Eve selama ini selingkuh dari Nick, bukan?” tanya Angela yang dijawab Clarissa dengan anggukan kepala. “Aku melihat Nick dan Alden semakin menderita karena hal itu. Jadi, beberapa waktu lalu, aku memutuskan untuk mencari tahu siapa pria yang memiliki hubungan gelap dengan Eve.”
“Apakah kau menemukan pria itu?”
“Tidak hanya menemukan, aku bahkan tidur dengan pria itu,” jelas Angela.
Clarissa membelalakkan mata mendengar itu. Dia merasa sangat syok. Pasalnya, Angela adalah wanita yang selalu menjaga harga dirinya tapi justru dia melakukan hal itu dengan pria yang tidak dia cintai.
“Aku memang berniat untuk mendekati pria itu dan membuat dia dan Eve berpisah. Tapi, di sisi lain aku takut jika aku akan hamil.”
Clarissa berdiri, lalu menghampiri lemari obat. Tampak dia mengambil satu botol obat lalu meletakkannya di atas meja. Ia kembali duduk, kemudian menyodorkan botol obat tersebut kepada Angela.
“Ini adalah pil pencegah kehamilan. Kau harus meminumnya secara rutin selama kau berhubungan dengan pria itu,” jelas Clarissa. Ia meraih tangan Angela, kemudian menggenggamnya seraya berkata, “Tapi, aku sangat berharap jika kau akan berhenti dari rencanamu.”
Angela menggelengkan kepala. “Aku mana bisa berhenti jika rumah tangga Nick dan Eve masih berantakan?”
“Kau pasti bisa.”
“Aku akan berhenti ... tapi, setelah Leo dan Eve berpisah.”
__ADS_1
“Lantas, bagaimana jika kalian berdua justru jatuh cinta?” tanya Clarissa.
Angela menarik tangannya dari genggaman Clarissa. Dia terdiam, tak tahu harus berkata apa. Karena jujur saja, hal itu juga dia takutkan. Tapi, dia sudah melangkah sejauh ini. Dia tidak boleh mundur begitu saja.
“Terima kasih atas pilnya. Aku pamit pulang dulu,” ucap Angela. Dia buru-buru berdiri. “Sekali lagi aku mohon, jangan ceritakan hal ini kepada Nick. Aku tidak mau membuat dia khawatir.”
Clarissa mengangguk. “Rahasiamu aman denganku. Jaga dirimu baik-baik, Angela,” balasnya sendu.
Angela pun meninggalkan ruangan Clarissa sambil menggenggam pil pencegah kehamilan yang diberikan oleh temannya itu.
Ketika ia hendak memasukkan pil ke dalam tasnya, bertepatan dengan itu pula ponselnya berdering. Ia pun mengambil ponselnya dan mendapati Nick kembali menelepon.
“Halo, Nick.”
Ia mengangkat panggilan itu seiring dengan langkahnya keluar dari klinik. Ada rasa bersalah setiap kali dia mendapati telepon Nick yang mengkhawatirkannya. Angela pun juga tak terbiasa berbohong dengan Nick, tapi, dia harus melakukannya demi kebaikan semua orang.
“Halo, Angela. Apakah kau mau makan siang denganku? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.”
Angela gelagapan. Bagaimana tidak? Leo akan pulang pada jam makan siang nanti. Jika Angela pergi menemui Nick, pastilah Leo akan mencarinya.
“Agak sibuk, sih. Aku akan ada rapat setelah makan siang.”
“Hm, memangnya apa yang ingin kau bicarakan, Nick? Bicarakan saja sekarang. Aku jadi penasaran.”
“Bagaimana rencanamu ke depannya? Sebulan lalu kau masih berkata jika kau ingin melanjutkan studi S2. Tapi, kau tidak pernah membahasnya lagi,” tegur Nick.
Angela menghela napas panjang. Dia duduk di kursi taman klinik sambil memikirkan jawaban atas pertanyaan Nick. Dia sendiri merasa jika dia masih memiliki tanggung jawab lain yang harus dia selesaikan sebelum dia lanjut fokus dengan masa depannya, yaitu tanggung jawabnya atas kebahagiaan Nick dan Alden.
“Sepertinya aku masih ingin berlibur dulu dan menghabiskan uangmu,” gurau Angela.
Menanggapi itu, Nick pun tertawa dengan renyah. Sementara Angela hanya bisa tersenyum simpul dari tempatnya saat ini. Lagi dan lagi dia harus membohongi Nick. Di satu sisi dia merasa bersalah, tapi di sisi lain dia merasa jika dia harus melakukannya.
“Aku sangat berharap kau bisa sukses dan membuat orang tua kita bangga, Angela,” ujar Nick dengan lembut setelah tawanya berhenti.
Satu tetes air mata Angela luruh detik itu juga. Dalam diam ia menangis. Ia menarik napasnya dalam-dalam, lalu berkata, “Iya, Nick. Aku pasti akan membanggakan orang tua kita.”
__ADS_1
“Ya sudah, aku akan melanjutkan pekerjaanku dulu. Jaga dirimu baik-baik, Angela.”
“Kau juga, Nick.”
Usai panggilan itu berakhir, Angela masih duduk melamun sambil memikirkan ulang tentang keputusannya. Pikirannya melayang ke sana ke mari, berkelana pada angan yang tak pasti. Tentang bimbang yang bergelut di dalam hati, pada masa depan yang tak dia mengerti.
Di tengah lamunannya, Angela tersentak saat merasakan sentuhan di pundaknya. Dia pun sontak saja menoleh dan mendapati seorang pria yang sangat familier dengannya berdiri di belakangnya.
“Kau Angela, ‘kan?”
“Raymond?” balas Angela.
“Ah, astaga! Ternyata kau benar Angela. Aku kira tadi aku salah lihat,” ucap Raymond. Dia tampak menghela napas lega setelah tahu dia tidak salah mengenali orang. “Apa kabar, Angela?”
“Baik. Kau sendiri apa kabar?”
“Aku juga baik. Sudah lama sekali kita tidak bertemu.”
Angela mengangguk setuju.
Raymond adalah senior Angela di kampus. Terakhir kali mereka bertemu adalah sebelum Raymond menggarap skripsinya. Dulu, mereka kerap kali bertemu di rapat organisasi kampus.
“Apa yang kau lakukan di sini? Siapa yang sakit?” tanya Angela.
“Aku mengantarkan ibuku untuk periksa,” jawab Raymond. “Kalau kau sendiri?”
“Aku tadi datang menemui Clarissa. Kau ingat Clarissa, ‘kan?”
“Bagaimana aku bisa lupa? Kalian berdua dulu, ‘kan, seperti lem dan perangko,” balasnya sambil tertawa renyah.
Saat Angela dan Raymond sedang asyik mengobrol, Leo tiba-tiba datang. Pria itu tampak tak suka melihat Angela mengobrol dengan akrab dengan pria lain.
“Leo?” gumam Angela bingung saat melihat Leo menghampirinya.
“Angela, ayo kita pulang,” ucap Leo yang langsung menarik tangan Angela dan membawa Angela pergi dari sana.
__ADS_1