
“Sial!”
Evelyn mengumpat kesal ketika terbangun dari tidurnya dan menyadari jika sekarang sudah pukul delapan pagi. Wanita itu melompat turun dari ranjang, lalu menyambar ponselnya.
Mata Evelyn membulat sempurna ketika dia melihat ada banyak sekali telepon tak terjawab dari Leo dan pesan singkat yang menanyakan tentang keberadaannya dan apakah dia akan datang ke pesta atau tidak.
“Sial!” umpat Evelyn lagi.
Karena tertidur dengan nyenyak, Evelyn jadi tidak mengingat jika dia harus datang ke pesta tahun baru yang diadakan Leo untuknya. Dia bahkan heran kenapa dia bisa lupa dengan pesta itu padahal mereka sudah membahasnya dari jauh-jauh hari.
Evelyn segera menelepon Leo. Berharap Leo tak marah padanya atas kesalahan yang dia perbuat. Terlihat Evelyn menggigit ujung kukunya sembari menunggu teleponnya diangkat. Namun, sampai dering terakhir telepon itu tidak diangkat oleh Leo. Evelyn kembali menghubungi Leo, tapi hasilnya sama, nihil. Meski Leo tak kunjung menanggapinya, Evelyn terus mencoba menghubunginya hingga kesabarannya habis dan terpikirkan satu nama di enaknya yang mungkin saja telah merencanakan semua itu.
Evelyn pun berjalan cepat keluar dari kamar, kemudian berlari menuruni anak tangga sambil berteriak mencari suaminya.
“Nick! Nick!” teriaknya. “Di mana kau, Nick?!”
Evelyn berjalan mengentak-entakkan kakinya menuju ke ruang makan. Di sana, dia melihat Nick sedang memberi makan putra mereka.
“Nick, kenapa tadi malam kau membiarkan aku tidur? Kau sengaja agar aku tidak pergi?” tanya Evelyn, melampiaskan kekesalannya kepada Nick.
“Selamat pagi, Mommy,” ucap Alden, putra mereka.
Evelyn mengabaikan sapaan Alden. Dia hanya fokus menatap tajam ke arah Nick sambil melipat tangan di depan dada. Dia merasa kesal karena telah melewatkan pesta yang diadakan oleh Leo, dan dia merasa jika itu semua adalah kesalahan Nick. Meskipun sebetulnya, apa yang terjadi adalah kesalahannya sendiri karena Nick tak tahu apa-apa mengenai pesta itu.
“Nick, jawab!” teriak Evelyn.
__ADS_1
“Ada apa?” balas Nick pada akhirnya.
Nick tadi diam karena dia menunggu Evelyn menjawab sapaan Alden. Nick ingin tahu apakah Evelyn masih peduli dengan putra mereka atau tidak. Tapi, kenyataan menyakitkan justru harus Nick terima. Evelyn tidak membalas sapaan putra mereka.
"Kau sengaja?" tuding Evelyn.
"Sengaja apa?" tanya Nick.
Evelyn memutar bola matanya. “Lupakan saja,” ucapnya lalu kembali ke kamarnya.
Di dalam kamar, dia kembali menghubungi Leo. Berkali-kali dia menelepon Leo, tak ada jawaban dari pria itu. Evelyn merasa kesal, tidak biasanya Leo mengabaikan panggilannya. Biasanya, dia tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan jawaban dari Leo. Tapi, pagi ini berbeda. Evelyn berpikir jika Leo pasti marah karena dia tidak datang ke pesta tahun baru itu.
‘Kenapa tadi malam aku bisa ketiduran?’ tanya Evelyn dalam hati.
“Leo, ayolah. Angkat teleponku. Tolong jangan marah padaku,” ucap Evelyn gugup sambil menggigit ujung kukunya.
Sementara itu, di sisi lain Alden menatap Nick dengan mata berkaca-kaca.
“Dad, kenapa Mommy tidak menjawabku?” tanyanya sedih. “Apakah Mommy membenciku?”
Nick sontak menoleh ke arah putranya. “Tidak, Alden. Mommy-mu hanya lelah dan kesal karena aku tidak membangunkannya lebih awal untuk sarapan bersama,” balas Nick, menutupi apa yang sebenarnya terjadi dari putranya.
“Jika begitu, kenapa Daddy tidak menyusul Mommy dan minta maaf?” tanya Alden polos.
“Haruskah aku melakukannya?” tanya Nick balik.
__ADS_1
Alden mengangguk. “Aku rasa begitu,” jawabnya.
“Baiklah, aku akan menyusul Mommy-mu,” balas Nick kemudian mengecup puncak kepala Alden. “Jadilah anak baik dan habiskan makananmu, oke?”
“Oke, Dad!”
Nick menyusul Evelyn ke kamar mereka. Sebenarnya, dia tidak tega kalau harus terus-menerus membohongi Alden. Tapi, anak sekecil Alden pasti tidak akan mengerti dengan permasalahan rumah tangganya. Jadi, lebih baik dia menutupi semuanya dan membuat Alden berpikir jika keluarganya baik-baik saja.
Di dalam kamar, dia mendapati Evelyn tengah mencoba menelepon seseorang sambil berjalan mondar-mandir. Nick tersenyum kecut, dia tahu siapa yang sedang dihubungi oleh Evelyn.
“Apakah pria itu begitu penting sampai-sampai kau mengabaikan Alden dan aku?” tanya Nick.
Evelyn menoleh, lalu memutar bola matanya.
“Menurutmu bagaimana?” balas Evelyn ketus.
Nick menghela napasnya. “Eve, aku tidak keberatan jika kau marah padaku. Tapi, satu hal yang aku minta darimu. Jangan abaikan Alden. Dia masih terlalu kecil untuk tahu tentang masalah kita,” pinta Nick.
“Jika kau hanya ingin mengatakan itu lebih baik kau keluar. Aku sedang tidak ingin berdebat,” ujar Evelyn ketus.
Nick menghela napasnya. Dia menggelengkan kepalanya lalu berjalan keluar kamar. Dia bingung dia harus apa untuk membuat Evelyn kembali mencintainya.
"Tolong jangan abaikan Alden!" pinta Nick yang kembali tak dihiraukan oleh Evelyn.
'Sampai kapan kau akan seperti ini, Eve? Apakah semua ini memang harus berakhir?' batin Nick frustasi.
__ADS_1