The Billionaire'S Scandal

The Billionaire'S Scandal
Orang Tua Leo


__ADS_3

Baru saja Angela hendak membuka pintu utama kediaman mewah Leo, pintu itu sudah terlebih dahulu terbuka. Di baliknya, muncul sepasang paruh baya yang Angela asumsikan adalah orang tua Leo. Angela mundur beberapa langkah supaya tak menghalangi langkah orang tua Leo masuk ke dalam rumah. Rasa gugup tentu saja menyelimuti Angela, namun Angela selalu bisa mengendalikan dirinya sendiri.


“Selamat pagi, Om, Tante,” sapa Angela dengan sopan. Wanita itu tersenyum pada Sarah dan Wira. Panik melanda hatinya. Dia bingung harus bersikap seperti apa di depan orang tua Leo. Apakah mereka akan menerima kehadirannya? Atau justru mereka akan berpikir jika dia adalah wanita yang seenaknya tidur di kediaman putra mereka?


“Selamat pagi. Aku Sarah dan ini suamiku, Wira. Kami sangat tidak sabar untuk bertemu denganmu dan betapa beruntungnya kami saat ini!” ujar Sarah dengan mata berbinar-binar. Senyuman lebar terpatri di wajah cantik wanita paruh baya tersebut yang jelas sudah pernah melihat Angela sebelumnya di panti.


Angela mengerutkan dahi tak mengerti. “Saya Angela. Sebelumnya maaf, Tante. Aku tidak mengerti,” balas Angela dengan jujur. Angela cukup lega dengan respon baik kedua orang tua Leo, tapi juga bingung kenapa mereka dengan mudan terlihat akrab padanya.


"Angela, nama yang cantik seperti orangnya," puji Sadah semakin membuat Angela bingung menanggapinya.


“Maksud istriku adalah kami sudah lama menanti seorang wanita baru hadir di hidup Leo,” terang Wira, mengoreksi kalimat sang istri yang terkesan ambigu.


Angela hanya bisa tersenyum dan mengangguk menanggapi hal tersebut. Canggung adalah kalimat yang cocok untuk menjelaskan apa Angela rasakan saat ini. Jika saja sekarang ada Leo, mungkin Angela akan merasa lebih baik. Sayangnya, Leo tengah pergi bekerja.


Wira memeriksa penampilan Angela dari ujung kepala sampai ujung kaki. Mendapati Angela menenteng tas selempang, dia pun bertanya, “Angela, kau ingin pergi ke mana?”


“Aku ....” Angela menghentikan kalimatnya. Tak mungkin dia berkata kalau dia akan pergi ke bidan, ‘kan?


“Ayo, kita duduk dan mengobrol dulu. Jangan buru-buru pulang. ‘Kan kami baru bertemu denganmu,” ucap Sarah. Wanita itu meraih tangan Angela, lalu menggandeng Angela untuk duduk bersamanya di sofa ruang tamu. Sikap Sarah benar-benar begitu bersahabat dan itu membuat Angela mulai merasa nyaman.


Pelayan yang tahu akan kehadiran orang tua Leo pun langsung menyajikan minuman. Setelah pelayan pergi, Sarah dan Wira kembali mengajak Angela berbincang-bincang.

__ADS_1


“Sudah berapa lama kau dan Leo saling mengenal, sayang?” tanya Sarah yang tampak begitu bersemangat untuk mengenal wanita yang duduk di sampingnya itu.


“Belum lama, Tante. Aku dan Leo bertemu di pesta tahun baru,” jawab Angela jujur.


“Kau tahu, Angela. Sebenarnya aku sempat melihatmu dan Leo di panti. Tapi, saat itu aku tidak yakin jika itu benar-benar Leo karena dia tidak pernah mengikuti acara sosial.” Sarah akhirnya mengaku, membuat Angela semakin kikuk karenanya. Angela tak menyangka jika orang tua Leo sudah tahu mengenai kedekatannya dengan Leo.


“Jadi, Tante juga pergi ke panti kemarin?”


Sarah mengangguk. “Ya. Aku memang sering ke sana.”


"Tapi Leo–"


"Ya seperti yang aku katakan Leo tidak pernah ikut ke acara seperti itu, dia hanya tau kerja dan bersenang-senang."


Angela tersenyum tipis mendengar itu.


“Orang tuaku sudah lama tiada, Om, Tante.”


“Oh, maaf, aku tidak tahu,” balas Wira, merasa bersalah.


“Tidak apa-apa.” Angela tersenyum.

__ADS_1


“Lalu, dengan siapa kau tinggal selama ini?”


“Aku memiliki seorang kakak yang bekerja sebagai manajer sebuah perusahaan. Sebelum kakakku menikah, kami tinggal berdua,” jelas Angela dengan jujur. Terlepas dengan rasa gugup yang melandanya, Angela tampak begitu tenang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari orang tua Leo.


“Tinggal sendiri pastilah sangat sepi. Jika kau sedang butuh teman bercerita, kau bisa menghubungiku dan kita akan pergi jalan-jalan berdua,” jelas Sarah penuh semangat.


"Terima kasih banyak, Tante," ucap Angela tulus dan haru dengan sikap Sarah padanya.


"Jangan berterima kasih, sayang. Tante justru senang bisa lebih akrab dengan calon menantu."


"Tante, bukan seperti itu. Tante salah paham," ujar Angela kembali gugup saat kedua orang tua Leo tanpa ragu menerima kehadiran Angela. Mereka merasa jika Angela adalah harapan mereka satu-satunya supaya Leo dapat melupakan Evelyn. Sebab mereka tahu sekali jika selama ini tidak ada yang bisa memisahkan Leo dan Evelyn, termasuk mereka.


“Angela, kami akan sangat mendukung hubunganmu dengan Leo,” ucap Wira dengan tegas.


“T-tapi, Om. Aku dan Leo hanya berteman,” balas Angela, tergagap.


Namun, mau bagaimana pun Angela menjelaskan jika dia dan Leo tidak memiliki hubungan spesial, orang tua Leo lebih percaya pada keyakinan mereka sendiri.


“Angela, Leo tidak pernah mengajak wanita ke rumah ini selain mantan kekasihnya. Kami juga berharap kau bisa membantu untuk membuat mantan kekasih Leo menjauhi Leo,” pinta Sarah membuat Angela terdiam.


"Ya. Semua benar. Leo tidak pernah mempublikasikan hubungannya dengan wanita manapun selain Evelyn. Sekarang Leo membawamu ke rumah ini, itu awal yang bauk menurut Tante. Tante senang jika pada akhirnya Leo menjauh dari wanita itu. Wanita itu tidak pantas bersama Leo!" ucap Sarah lebih tegas.

__ADS_1


"Tante, aku–"


"Kami mendukungmu," ucap Sarah kembali memotong kalimat yang akan Angela katakan.


__ADS_2